Penulis : Gonsalez Editor : Ferdy Jemaun
Labuan Bajo, InfoMabar,- Women in Tourism Indonesia (WTID) bersama Balai Taman Nasional Komodo Melalui Project IN-FLORES berupaya untuk memperkuat kapasitas sektor pariwisata di Manggarai Barat, agar mampu menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman, inklusif, dan saling menghormati bagi seluruh pekerja.
Upaya itu dilakukan oleh WTID dan IN-FLORES dengan menggelar Workshop Gender Equality and Social Inclusion (GESI) serta Safe and Respectful Workplace bagi pelaku pariwisata dan pemangku kepentingan di Kabupaten Manggarai Barat, yang berlangsung di Rumah Unio Keuskupan Labuan Bajo, Rabu-Kamis (17-18/06/2026).

Women in Tourism Indonesia (WTID) adalah organisasi yang berfokus pada pemberdayaan perempuan, kesetaraan gender, dan pembangunan pariwisata yang inklusif melalui pendidikan, penelitian, advokasi, dan pengembangan kapasitas bagi pelaku pariwisata di Indonesia.
Sedangkan Proyek Investing in the Komodo Dragon and Other Globally Threatened Species in Flores (IN-FLORES) adalah inisiatif konservasi yang didukung oleh Kementerian Kehutanan (Kemenhut), Global Environment Facility (GEF), dan UNDP Indonesia. Proyek ini bertujuan untuk melindungi spesies ikonik seperti komodo (Varanus komodoensis), kakatua kecil jambul kuning (Cacatua sulphurea), dan elang flores (Nisaetus floris), serta memastikan pengelolaan ekosistem yang berkelanjutan di Taman Nasional Komodo dan wilayah sekitarnya. Proyek ini mencakup berbagai aspek konservasi, termasuk penguatan tata kelola kawasan, perlindungan keanekaragaman hayati, serta pengembangan ekowisata berbasis masyarakat.
Anindwitya Rizqi Monica, selaku Co-Founder Women in Tourism Indonesia (WTID) pada kegiatan itu menegaskan bahwa pariwisata yang berkualitas tidak hanya diukur dari jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga dari kemampuan sektor tersebut menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi orang-orang yang bekerja di dalamnya.
“Pariwisata adalah industri yang sangat bergantung pada manusia. Karena itu, penting untuk memastikan bahwa setiap pekerja, baik perempuan maupun laki-laki, pekerja tetap maupun magang, serta kelompok rentan lainnya, memiliki kesempatan yang setara untuk berkembang dan bekerja dalam lingkungan yang aman, profesional, dan saling menghormati. Melalui workshop ini, kami mencoba menerjemahkan konsep gender dan inklusi sosial ke dalam situasi sehari-hari yang dekat dengan realitas pelaku pariwisata, sehingga lebih mudah dipahami dan diterapkan,” ujarnya.
Monica menambahkan bahwa salah satu hal yang paling menggembirakan dari kegiatan ini adalah keberagaman peserta yang hadir.
“Di ruangan yang sama, kita memiliki pelaku hotel, tour operator, UMKM, komunitas, pemerintah daerah, aparat penegak hukum, akademisi, hingga peserta penyandang disabilitas. Ini menunjukkan bahwa membangun pariwisata yang aman dan inklusif tidak dapat dilakukan oleh satu sektor saja, tetapi membutuhkan kolaborasi berbagai pihak yang memiliki pengalaman dan perspektif berbeda,” tambahnya.

Kegiatan worshop ini memang menghadirkan peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari pelaku usaha wisata, hotel, restoran, pemandu wisata, UMKM, komunitas, akademisi, perwakilan dari sejumlah perangkat daerah, aparat penegak hukum, hingga organisasi masyarakat sipil. Kegiatan ini juga melibatkan peserta penyandang disabilitas, termasuk peserta tunanetra, sebagai bagian dari upaya memastikan ruang belajar yang lebih inklusif dan dapat diakses oleh semua pihak.
Keberagaman peserta yang terlibat dalam kegiatan ini dinilai sebagai cerminan praktik inklusivitas yang nyata dan menjadi kekuatan penting dalam proses pembelajaran. Melalui diskusi lintas sektor dan lintas pengalaman, peserta diajak untuk memahami bahwa kesetaraan gender dan inklusi sosial bukan hanya relevan bagi kelompok tertentu, tetapi merupakan tanggung jawab bersama dalam menciptakan sektor pariwisata yang aman, profesional, dan berkelanjutan.
Penegasan yang sama juga disampaikan Koordinator Bentang Darat dan Bentang Laut Wilayah Barat Program IN-FLORES, Imanuddin Utoro. Ditegaskannya bahwa penguatan perspektif gender dan inklusi sosial merupakan bagian penting dari pembangunan pariwisata yang berkelanjutan.
“Pariwisata yang inklusif berarti memastikan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk berpartisipasi, mendapatkan manfaat, dan merasa aman dalam ruang-ruang pariwisata. Kami melihat workshop ini sebagai langkah penting untuk membangun kesadaran bersama bahwa kesetaraan gender dan inklusivitas bukan hanya isu sosial, tetapi juga bagian dari kualitas tata kelola destinasi dan keberlanjutan sektor pariwisata itu sendiri,” ujarnya.
Kegiatan ini menghadirkan praktik baik dari komunitas lokal yang telah menerapkan pendekatan inklusif dalam pemberdayaan masyarakat. Melalui refleksi, studi kasus, diskusi kelompok, dan penyusunan kerangka perlindungan sederhana, peserta diajak untuk melihat bahwa perubahan dapat dimulai dari langkah-langkah kecil yang realistis dan sesuai dengan konteks masing-masing institusi.
WTID dan IN-FLORES berharap kegiatan ini dapat menjadi awal dari penguatan budaya kerja yang lebih aman, profesional, dan inklusif di sektor pariwisata Manggarai Barat. Dengan membangun ruang yang menghargai keberagaman dan memastikan perlindungan bagi seluruh pekerja, pariwisata diharapkan dapat tumbuh tidak hanya sebagai penggerak ekonomi, tetapi juga sebagai ruang yang adil, aman, dan berkelanjutan bagi semua.
Sebagai salah satu destinasi pariwisata prioritas nasional, Manggarai Barat terus mengalami pertumbuhan industri yang pesat. Namun, di tengah perkembangan tersebut, masih terdapat berbagai tantangan terkait kesetaraan gender, akses kelompok rentan, relasi kuasa di tempat kerja, serta perlindungan bagi pekerja di sektor pariwisata.
Fakta itulah yang melatarbelakangi digelarnya kegiatan ini. Seluruh peserta diajak untuk memahami bagaimana norma sosial, stereotip gender, dan relasi kuasa dapat memengaruhi pengalaman seseorang di tempat kerja. Peserta juga didorong untuk mengidentifikasi tantangan yang dihadapi di institusi masing-masing dan menyusun solusi yang realistis melalui pendekatan Safe and Respectful Workplace Framework yang berfokus pada pencegahan (prevent), penanganan (respond), dan dukungan (support).
Modul yang digunakan dalam workshop dikembangkan secara kontekstual berdasarkan pengalaman dan tantangan yang sering muncul di sektor pariwisata, mulai dari budaya kerja, relasi kuasa, batas profesional dalam pelayanan, hingga mekanisme perlindungan pekerja. Pendekatan ini dirancang agar peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu mengidentifikasi langkah-langkah praktis yang dapat diterapkan di tempat kerja masing-masing.***



