Penulis : Gonza
Editor : Hans
Labuan Bajo : Info Mabar- Pemerintah Daerah Manggarai Barat melalui Dinas Sosial dan PPPA terus bergerak membangun Kesadaran generasi muda Mabar ( manggarai barat) tentang pentingnya keamanan pangan perlu ditanamkan sejak usia sekolah sebagai bekal bagi generasi muda dalam memilih dan mengonsumsi pangan yang aman serta berkualitas.
Upaya tersebut diwujudkan melalui Workshop Ekologi bertajuk “Generasi Hijau, Generasi Tangguh” di Aula Kantor Bupati Manggarai Barat, Senin (03/08/2026).
Workshop ini merupakan rangkaian peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 tingkat Kabupaten Manggarai Barat NTT yang diperingati setiap tanggal 23 Juli ini menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen seluruh elemen bangsa dalam memenuhi hak-hak anak sekaligus memberikan perlindungan yang optimal bagi mereka. Anak-anak Indonesia memiliki peran strategis sebagai generasi penerus yang akan menentukan arah pembangunan bangsa, khususnya dalam mewujudkan visi Generasi Emas Indonesia 2045.
Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari berbagai instansi untuk membekali generasi muda dengan wawasan tentang kesehatan, lingkungan, dan ketahanan pangan.Sementara pesertanya utusan Siswa SD, SMP dan SMA berasal dari sekolah sekolah yang tersebar di Seluruh Mabar.
Nara sumber dari Loka POM Mabar Imanulkhan mengatakan, apa yang kita konsumsi menentukan kesehatan, bentuk tubuh, serta kualitas hidup kita.
Menurutnya, keamanan pangan bukan sekadar urusan kenyang atau lezat, melainkan fondasi utama kualitas sumber daya manusia.
“Pangan tetap aman, higienis, bermutu, bergizi, dan tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat,” ujarnya mengutip Undang-Undang No. 18/2012 tentang Pangan.
Ia menjelaskan, masalah keamanan pangan berdampak luas tidak hanya terhadap kesehatan individu, tetapi juga aspek sosial dan ekonomi. Berdasarkan data yang dipaparkan, penyakit diare akibat pangan tercemar di Indonesia mencapai 10–22 juta kasus per tahun, dengan beban ekonomi diperkirakan mencapai Rp 64,8–226,3 triliun.
Imanulkhan memaparkan sedikitnya ada tiga pilar sistem pengawasan Pangan yang harus berjalan sinergis diantaranya yakni ; Pertama , Pemerintah (BPOM) melakukan pengawasan sebelum dan setelah produk makanan beredar
Kedua; Industri atau Pelaku Usaha – menjamin mutu pangan dengan menerapkan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB) dan terakhir Masyarakat harus cerdas memilih produk dan menyikapi informasi yang beredar.
“Masyarakat perlu meningkatkan pengetahuan dan kesadaran, melakukan pengawasan sendiri dalam memutuskan, membeli dan menggunakan suatu produk, serta dapat melindungi diri sendiri,” tegasnya.
Selain itu ia juga menjelaskan, tiga jenis cemaran pangan yang paling sering ditemukan di tengah masyarakat diantaranya ;
Pertama : Cemaran Fisik Potongan kayu, pecahan kaca, logam, rambut, plastik, hingga staples pada pembungkus makanan. “Berbahaya karena dapat melukai dan atau menutup jalan napas dan pencernaan,” jelasnya. Ia mengingatkan agar menghindari pemakaian staples pada pembungkus makanan.
Kedua : Cemaran Biologis atau Mikroba. Berasal dari air tercemar, debu, serangga, tikus, peralatan kotor, hingga tangan yang tidak higienis. Imanulkhan menyoroti bahaya Clostridium botulinum pada produk pangan kaleng seperti korned dan sarden. “Jangan membeli pangan dalam kaleng yang keadaannya menggembung,” pesannya.

Ketiga ; Cemaran Kimia
Meliputi pestisida, logam berat (arsen, timbal), racun alami, serta penyalahgunaan Bahan Berbahaya (BB) pada pangan seperti formalin, boraks, rhodamin B, dan methanil yellow.
Paparan arsen anorganik dalam jangka panjang, misalnya, berkaitan dengan gangguan kulit dan peningkatan risiko kanker kulit, kandung kemih, dan paru-paru. Sedangkan timbal pada anak-anak dapat memengaruhi perilaku, gangguan belajar, dan penurunan IQ.
Imanulkhan juga mengingatkan bahaya aflatoksi ,racun dari kapang yang menyerang pangan seperti kacang-kacangan dan jagung. “Apabila terkonsumsi secara terus-menerus dapat menumpuk di dalam tubuh sehingga menimbulkan masalah kesehatan serius, antara lain kanker hati dan dugaan perlambatan pertumbuhan pada anak,” paparnya mengutip penelitian William, J.H., et al (2004).
Ia juga menyoroti Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAH) yang terbentuk dari pembakaran tidak sempurna—seperti asap kendaraan dan proses pengasapan atau pemanggangan pada suhu tinggi—yang bersifat karsinogenik dan berpotensi menyebabkan mutasi gen.
Di akhir paparan, Imanulkhan mengajak masyarakat menerapkan kebiasaan Cek KLIK sebelum membeli produk pangan:
Cek Kemasan – pastikan tidak rusak. Cek Label informasi produk lengkap. Cek Izin Edar – terdaftar di BPOM atau memiliki PIRT serta Cek Kedaluwarsa – produk masih layak konsumsi.
“Peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat adalah kunci. Masyarakat yang cerdas akan mampu melindungi diri sendiri dari pangan tidak aman,” pungkasnya.
Workshop “Generasi Hijau, Generasi Tangguh” ditutup dengan komitmen bersama untuk mewujudkan generasi muda Manggarai Barat yang tidak hanya tangguh secara mental dan fisik, tetapi juga cerdas dalam memilih pangan demi masa depan yang lebih sehat***


