Penulis; Gonsalez & Mathildis
Labuan Bajo, infoMabar ;–Penerapan Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA) Berbasis Pangan Lokal Kunci Kemandirian Panganhal tersebut disampaikan Kepala Bidang Konsumsi dan Keamanan Pangan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Manggarai Barat, Hironimus Efendi Mandi
Saat menjadi Narasumber Workshop Ekologi bertajuk “Generasi Hijau, Generasi Tangguh” dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 tingkat Kabupaten Manggarai Barat. Kegiatan yang berlangsung di Aula Kantor Bupati Manggarai Barat, Senin (03/08/2026),
Dalam paparannya, Hironimus menyampaikan pentingnya penerapan pola konsumsi B2SA (Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman) berbasis pangan lokal sebagai upaya mendorong diversifikasi atau penganekaragaman pangan di tengah masyarakat.
“Penganekaragaman pangan adalah upaya menganekaragamkan konsumsi pangan, baik itu pangan pokok, sayur-sayuran, maupun buah-buahan. Tujuannya agar kita tidak hanya tergantung pada jenis pangan tertentu saja,” ujar Hironimus.
Ia menekankan bahwa makanan sehat tidak harus mahal, karena sumber pangan yang dikonsumsi sehari-hari sebenarnya tersedia di sekitar kita. Masyarakat tidak perlu hanya bergantung pada beras, melainkan masih banyak bahan pangan lain yang dapat dikonsumsi, seperti jagung, ubi, dan berbagai komoditas lokal lainnya.
Dari aspek ekonomi, Hironimus menjelaskan bahwa bahan pangan lokal lebih murah dan lebih segar dibandingkan pangan impor atau pangan yang harus didatangkan dari luar daerah. Selain itu, dengan mengonsumsi pangan lokal, masyarakat secara tidak langsung turut mendukung usaha para petani setempat.
Namun, Hironimus mengungkapkan keprihatinannya terhadap data Skor Pola Pangan Harapan (PPH) konsumsi Manggarai Barat Tahun 2025 yang masih berada di angka 64,5. Angka ini menunjukkan bahwa pola konsumsi masyarakat masih jauh dari keberagaman dan keseimbangan. Kecenderungan konsumsi beras yang sangat tinggi masih mendominasi, sementara konsumsi bahan pangan lain seperti ubi dan jagung masih tergolong rendah.
“Padahal Skor PPH ideal adalah 100. Semakin tinggi skor PPH, konsumsi pangan semakin beragam dan bergizi seimbang,” tegasnya.

Hironimus menegaskan bahwa untuk mewujudkan kemandirian pangan, aspek yang perlu dibenahi adalah penguatan pangan lokal. Menurutnya, gagasan kemandirian pangan sebenarnya telah didorong sejak lama, dan penguatan pangan lokal menjadi fondasi utama untuk mengurangi ketergantungan pada satu jenis pangan tertentu.
Workshop Ekologi “Generasi Hijau, Generasi Tangguh” ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Anak Nasional ke-42 yang mengusung tema “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan”. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi momentum untuk menanamkan kesadaran sejak dini kepada generasi muda tentang pentingnya pola konsumsi pangan yang beragam, bergizi, seimbang, dan aman berbasis potensi lokal Manggarai Barat***


