Penulis : Gonsalez Editor : Ferdy Jemaun
Labuan Bajo, InfoMabar,- Untuk mewujudkan sistem pangan yang efisien, adil, dan berkelanjutan, Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Barat bersama Konsorsium Pangan Bernas menyampaikan lima agenda kolaborasi konkret bagi Manggarai Barat. 5 agenda itu diharapkan mampu mengurangi food waste hingga 20 persen di sektor Hotel, Restoran, Kafe dan Kapal (Horekaka)
Demikian salah satu intisari hasi Seminar sehari bertema “Penyelamatan Pangan” yang diinisiasi oleh Program Urban Future (UF) di Rajawali Ballroom Zasgo Hotel, Rabu (03/06/2026).

Adapun 5 poin agenda kolaborasi itu, adalah :
- Food waste baseline tahunan. Poin ini dimaksudkan agar Labuan Bajo ke depan bisa memiliki dashboard data food waste yang dipublikasikan setiap tahun.
- Gerakan hotel & restoran peduli pangan. Gerakan ini harus bertolak dari komitmen sukarela untuk mengurangi limbah.
- Platform redistribusi pangan. Agenda ini dimaksudkan agar pangan layak bisa disalurkan kepada kelompok rentan secara aman dan cepat.
- Local food procurement. Ini dimaksudkan agar pihak hotel, restoran atau kapal dapat membeli dan menyuguhkan lebih banyak bahan pangan lokal.
- Roadmap sistem pangan. Poin ini dimaksudkan tidak sekadar pengelolaan sampah, tetapi sistem pangan menyeluruh.
Target nyata yang dicanangkan dari 5 poin kolaborasi ini adalah pengurangan food waste sebesar 20% di sektor Hotel, Restoran, dan Kapal (Horeka) melalui siklus: ukur → analisis → aksi → evaluasi.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Kabupaten Manggarai Barat, Vinsensius Gande, dalam paparannya saat memberikan materi pada kegiatan itu menyampaikan bahwa setiap tahun, Indonesia membuang 23–48 juta ton makanan.
“Angka itu setara dengan 115–184 kg per orang per tahun, atau 0,3–0,5 kg per hari. Data ini menjadi pijakan gerakan food rescue yang kini digalakkan di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur,” jelas Kadis Vinsensius.
Lewat kajian dan advokasi yang dilakukan oleh People Coalition for Food Sovereignty (KRKP) bersama CTSS IPB University, lanjutnya, Labuan Bajo yang dikenal dengan destinasi super prioritas, ini didorong untuk serius menangani limbah pangan—bukan hanya sebagai urusan sampah, tetapi sebagai penyelamatan ekonomi, iklim, dan kemanusiaan.
Kadis Vinsen mengakui bahwa Manggarai Barat saat ini menghadapi tiga tekanan besar yang saling terkait, yakni : pertumbuhan pariwisata yang eksplosif, kerentanan iklim ekstrem khas NTT, dan tingginya ketergantungan pangan dari luar daerah.
Jumlah hotel di Labuan Bajo melonjak pesat. Konsumsi dan limbah pangan pun ikut meningkat. Di sisi lain, NTT adalah wilayah semi-kering dengan curah hujan rendah dan musim kemarau panjang. Produksi pangan lokal mudah terganggu, gagal panen, dan tidak stabil.
“Setiap makanan yang terbuang adalah sumber daya yang sangat mahal di daerah kita yang rentan iklim,” paparnya. Ironisnya, ketergantungan pada pasokan dari luar justru semakin tinggi, memperbesar risiko kerawanan pangan dan ketimpangan.
Kadis Vinsen juga menyinggung soal data nasional yang menunjukkan kerugian ekonomi akibat food loss dan food waste sangat besar—cukup untuk membangun jutaan rumah, sekolah, atau rumah sakit. Selain itu, Bappenas memperkirakan bahwa selama 2000–2019, limbah pangan menghasilkan 1.702,9 juta ton CO2e, setara emisi puluhan juta kendaraan bermotor dalam setahun.
Di Labuan Bajo sendiri, lanjutnya, diperkirakan terdapat 4.836 ton food waste (berdasarkan peta sebaran). Jumlah kalori yang terbuang setara dengan kebutuhan 56 hari bagi sejumlah populasi.
Sementara itu, Perwakilan Konsorsium Pangan Bernas, Said Abdullah, yang hadir dan memaparkan materinya secara daring menekankan bahwa hotel, restoran, kafe dan kapal wisata (Horekaka) tidak boleh hanya dilihat sebagai penyebab, tetapi sebagai aktor perubahan.
Beberapa solusi konkret yang ditawarkan antara lain: Audit food waste secara rutin untuk mengukur, mencatat, dan menganalisis sumber limbah. Pengurangan buffet waste dengan porsi kecil, refill terkontrol, edukasi tamu. Menu berbasis pangan lokal musiman. Pembelian lokal (local sourcing) dari petani, nelayan, dan UMKM setempat. SOP redistribusi pangan aman untuk menyalurkan pangan layak ke kelompok rentan.
“Hotel terbaik di Labuan Bajo ke depan bukan hanya paling mewah, tetapi paling bertanggung jawab terhadap pangan,” tegas Said.***


