Penulis : Sebinus dan Thildis Editor : Ferdy Jemaun
LABUAN BAJO — Di tengah suasana pelantikan Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Manggarai Barat, Kamis (3/9/2026) sore, Bupati Manggarai Barat Edistasius Endi menyampaikan pesan yang jauh melampaui urusan birokrasi.
Di Aula Kantor Bupati Manggarai Barat itu, Bupati Edi mengajak seluruh pejabat di lingkup Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat untuk turun langsung menemui masyarakat yang terdampak gempa bumi berkekuatan 7,7 SR pada 15 Agustus lalu.

Bagi Bupati Edi, kehadiran pemerintah di tengah masyarakat yang sedang dilanda kepiluan bukan sekadar kunjungan kerja. Ada nilai kemanusiaan yang jauh lebih besar di baliknya.
“Kehadiran kita semua di tengah mereka akan sangat memberikan arti di kondisi-kondisi seperti ini. Kalau di situasi biasa, mau seribu kali kita bersama mereka, tidak akan sama artinya dengan saat kita hadir di tengah kepiluan mereka,” ujar Bupati Edi dalam sambutannya.
Pesan itu disampaikannya dengan membawa pengalaman ketika dirinya turun langsung ke sejumlah wilayah terdampak gempa untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan.
Di Wontong, Rego, Kecamatan Pacar, misalnya, Bupati Edi bertemu dengan seorang mama tua yang sudah tidak bisa melihat.
Ia mengaku bukan tidak mengetahui jalan di kampung tersebut. Namun, dalam perjalanan itu dirinya justru diarahkan untuk bertemu dengan orang-orang yang membutuhkan sentuhan dan perhatian.
Ada sebuah peristiwa kecil yang kemudian membekas dalam ingatannya.
Dari kejauhan, setelah mendengar suara Bupati, mama tua tersebut ternyata mampu mengenali siapa yang datang.
Bagi Bupati Edi, pengalaman itu menunjukkan bahwa dalam situasi bencana, manusia tidak hanya membutuhkan bantuan berupa barang. Mereka juga membutuhkan rasa bahwa dirinya tidak sendirian.
Pengalaman lain terjadi ketika Bupati Edi hendak meninggalkan salah satu lokasi terdampak.
Langkahnya terhenti ketika melihat seorang anak yang tampak begitu senang dan kegirangan.
Bupati kemudian membatalkan niat untuk masuk ke mobil. Ia menghampiri anak tersebut dan mulai bertanya. “Mana mamamu? Siapa namanya?”
Anak itu menjawab dengan lantang.
Bupati kembali bertanya tentang ayahnya. Di balik jawaban polos anak tersebut, Bupati Edi melihat sesuatu yang lebih besar: seorang anak yang sedang membutuhkan kasih sayang dan perhatian. “Anak itu butuh kasih sayang, butuh perhatian. Itulah kenapa saya mengutus Bapak/Ibu semuanya. Bukan soal berapa karung beras atau lembar terpal yang kita kirim,” tegasnya.
Menurutnya, pemerintah tidak boleh berhenti pada menghitung jumlah bantuan yang disalurkan. Pemerintah juga harus menghitung berapa banyak hati yang disentuh melalui kehadiran.
Kisah yang tak kalah mengharukan dialami Bupati Edi di Kampung Barang. Saat hendak berpamitan, ia melihat seorang anak kecil yang tampak tidak terurus. Bupati mencoba berbicara dengannya. Anak itu hanya terdiam.
Hingga akhirnya keluar sebuah jawaban yang membuat suasana menjadi berat. “Saya punya mama sudah mati.”
Bupati kemudian meminta anak itu menyanyi. Anak tersebut memilih lagu “Kasihku”.
Bagi Bupati Edi, pilihan lagu itu seperti sebuah pesan yang tidak membutuhkan banyak kata. Di tengah situasi sulit akibat bencana, anak-anak membutuhkan sosok yang memberikan rasa aman dari seorang mama dan bapak yang melindungi.
Namun, bagi anak itu, sosok tersebut telah pergi untuk selamanya.
“Pesannya dalam: di saat sulit begini, anak-anak berharap ada Mama dan Bapak yang melindungi. Tapi Tuhan sudah ambil,” tutur Bupati dengan nada haru.
Kisah-kisah itu pula yang kemudian mendorong Bupati Edi meminta seluruh pejabat Pemkab Manggarai Barat untuk merasakan langsung kehidupan masyarakat terdampak.
Termasuk Penjabat Sekda Manggarai Barat yang baru dilantik, Pius Baut.
Bupati Edi tidak meminta para pejabat menghabiskan waktu berhari-hari di lokasi pengungsian.
Menurutnya, satu malam saja sudah cukup untuk merasakan denyut kehidupan masyarakat yang sedang menghadapi bencana.
“Tidak usah berhari-hari. Cukup semalam. Bersendaguraulah dengan mereka,” ajaknya.
Ia percaya, ketika seorang pejabat duduk bersama warga, berbicara, bercanda, mendengarkan keluhan, dan merasakan langsung kondisi mereka, ada sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh bantuan dalam bentuk barang.
“Percayalah, dalam ketulusan kita hadir di situasi seperti ini, itu sesungguhnya adalah amal,” lanjutnya.
Pesan tersebut menjadi semacam ajakan untuk menggeser cara pandang dalam penanganan bencana: dari sekadar memberi bantuan menjadi hadir bersama mereka yang sedang menderita.
Bagi Bupati Edi, gempa bukan hanya meninggalkan bangunan yang rusak. Ia meninggalkan ketakutan, kehilangan, kesepian, dan luka yang tidak selalu terlihat.
Karena itu, bagi Bupati Edi, pemerintah tidak boleh hanya hadir dalam bentuk bantuan logistik yang datang, diserahkan, kemudian pergi. Pemerintah harus hadir sebagai manusia di tengah manusia lainnya. Duduk bersama mereka. Mendengar cerita mereka. Menyapa anak-anak mereka. Berbagi tawa di tengah kesedihan. Bahkan mungkin, sekadar menggenggam tangan mereka.
Sebab dalam situasi bencana, sekarung beras memang dapat mengisi perut. Selembar terpal dapat melindungi tubuh dari hujan. Tetapi kehadiran yang tulus dapat menguatkan hati seseorang yang sedang merasa sendirian.***


