Penulis : Gonsalez Editor : Ferdy Jemaun
Labuan Bajo, InfoMabar,- Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat melalui Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (PKO) menghadirkan 5 orang Doktor dari Universitas Katolik (Unika) St. Paulus Ruteng, untuk menganalisis kebutuhan dan penyusunan bahan ajar Muatan Lokal (Mulok) Budaya Manggarai, jenjang SD hingga SMP. Rektor Unika St. Paulus, RD. Dr. Agustinus Manfred Habur, Lic. turut hadir dalam kegiatan itu.
Kegiatan analisis kebutuhan dan penyusunan bahan ajar Mulok Budaya Manggarai, ini berlangsung dalam forum Focus Group Discussion (FGD), yang berlangsung di Aula Dinas PKO, Labuan Bajo, Selasa (02/06/2026).

Kegiatan FGD ini dibuka oleh Wakil Bupati Manggarai Barat, dr. Yulianus Weng. Saat membuka kegiatan FGD ini, Wabup Yulianus menyampaikan apresiasi dan kebanggaannya atas kehadiran para doktor Unika St. Paulus yang dinilainya menunjukkan komitmen kuat dalam kolaborasi pendidikan.
“Saya sangat senang, ini sudah yang kedua kalinya saya bertemu dengan pak rektor untuk kegiatan seperti ini. Beliau hadir sendiri. Kita berikan apresiasi dan penghargaan, karena beliau mau hadir di tengah kesibukan luar biasa mengurus ribuan mahasiswa,” ujar. Wabup Yulianus.
Wabup Yulianus menyebutkan langsung nama-nama Doktor yang hadir pada kesempatan ini, selain RD. Dr. Agustinus Manfred Habur, Lic. yakni : RD. Dr. Ino Sutam, Dr. M. Mantovanny Tapung, S.Fil., M.Pd. RD. Dr. Yohanes Mariano Dangku, S.Fil., M.Pd. serta Dr. Ferdia Sulaiman.
“Lima orang doktor datang sekaligus ke Manggarai Barat untuk membahas materi tentang Mulok Budaya Manggarai. Ini kesempatan yang sungguh luar biasa,” tambahnya.
Wakil Bupati menilai peserta yang hadir pada kesempatan ini belum merepresentasi semua stakeholder yang diharapkan. Karena itu Ia mengharapkan agar kegiatan serupa dapat digelar kembali dalam skala yang lebih besar, dengan melibatkan para kepala sekolah, tokoh adat, dan pemangku kepentingan lainnya.
“FGD ini merupakan langkah nyata pemerintah daerah dalam merumuskan bahan ajar yang kontekstual, relevan, dan berakar pada budaya lokal. Jika memungkinkan, kita cari waktu lagi, kita sesuaikan dengan waktu beliau-beliau tentunya, untuk menggelar Kegiatan yang sama dengan skala peserta yang lebih luas dan banyak,” tegasnya.
Wabup Yulianus juga menegaskan bahwa dengan menghadirkan 5 orang Doktor dari Unika St. Paulus Ruteng dalam kegiatan ini, merupapakan bagian dari keseriusan Pemkab Manggarai Barat dalam membenahi dunia pendidikan di Manggarai Barat.
Sementara itu, pada kesempatan yang sama, dalam sambutannya, Rektor Unika St. Paulus Ruteng, RD. Dr. Agustinus Manfred Habur, Lic., menekankan pentingnya muatan lokal sebagai bagian dari upaya dekolonialisasi pendidikan.
“Pendidikan sejati harus berangkat dari kebudayaan sendiri. Tahun 2013 dalam diskursus pendidikan sudah ada gagasan dekolonialisasi pendidikan, bagaimana pendidikan harus kembali ke rumahnya sendiri. Manusia yang sejati adalah manusia yang sadar akan identitasnya, menghargai identitas budayanya, dan menjadikan identitas budaya ini sebagai pondasi untuk berdialog dengan pendidikan global,” ujar Romo Manfred.
Ia mengapresiasi inisiatif Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat yang terus berkomitmen menjalin kolaborasi dalam pengembangan pendidikan. Menurutnya, kerja sama yang sudah berjalan sejak tahun 2023 ini telah menghasilkan pemetaan kompetensi pedagogi dan profesional guru, serta penyusunan peta jalan (roadmap) pendidikan Manggarai Barat 2025–2045.

“Salah satu rekomendasi dari Roadmap itu adalah penyusunan muatan lokal dalam kurikulum pendidikan dasar di Labuan Bajo. Ini sangat penting, terlebih sudah didukung oleh Peraturan Daerah, baik di tingkat Propinsi maupun di tingkat Kabupaten,” jelasnya.
Romo Manfred juga menyampaikan bahwa pendidikan formal saat ini seringkali mengorientasikan anak-anak pada hal-hal yang berbau barat, sehingga anak-anak tercabut dari akar budayanya sendiri.
“Kebijakan Peraturan Daerah Manggarai Barat untuk menempatkan mulok ini sebagai bagian penting dari kurikulum, saya kira ini suatu putusan yang tidak hanya penting secara administratif, tetapi juga secara epistemologis,” pungkasnya.
Turut Hadir dalam kegiatan tersebut Staf ahli bidang hukum, politik dan pemerintahan Gabriel Bagung, kepala Bapeda Johanis Hani, kepala Dinas PKO Agustinus Gias, Sekretaris Dinas PKO, Gabriel Ferdy, para kepala Bidang, sejumlah kepala sekolah, pemerhati dunia pendidikan, praktisi budaya dan perwakilan orang tua murid.
FGD ini merupakan forum konsultasi publik multistakeholder yang bertujuan untuk menggali masukan, perspektif, dan aspirasi dari berbagai pemangku kepentingan pendidikan di Manggarai Barat, guna memastikan bahwa bahan ajar yang disusun benar-benar relevan, kontekstual, dan dapat diimplementasikan secara efektif di lapangan.***


