
Penulis : Ferdy Jemaun
Labuan Bajo, InfoMabar,- Di Waning, dalam ruang gereja lama itu, saat Relawan Kemenkes RI melakukan pelayanan kesehatan, simbol-simbol iman berdiri berdampingan. Salib Suci Kritus tergantung di bagian atas. Di bawahnya, sajadah putih terbentang, tempat relawan Muslim menundukkan tubuh dalam sujud.
Tepat pukul 11.34, Sabtu (19/09/2026) siang itu, sebuah foto masuk ke WhatsApp Group Koordinasi Pimpinan Mabar. Foto itu diberi caption, “Dalam bingkai ini, sebuah sujud, Sajadah Putih menolong tanpa bertanya, apa agamamu? Hanya Kasih!”
Foto itu lengkap dengan Geotaging, dengan keterangan tempat : Waning Kecamatan Ndoso, Kabupaten Manggarai Barat, Propinsi NTT.
Pengirimnya adalah Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Barat, Theresia P. Asmon, yang saat itu sedang setia mendampingi tim relawan dari Kemenkes RI di Waning. “Layanan Mobile Klinik di Waning. 458 orang terlayani,” tulis Kadis Theresia, memberi keterangan tambahan.
Kalimat sebagai keterangan pada foto itu mungkin terasa sederhana. Tetapi foto yang menyertainya berbicara lebih panjang dan dalam.
Sebuah Sajadah Putih itu dibiarkan terbentang di bawah Salib Suci Kritus, dalam Gereja Tua, Gereja Lama, yang saat itu dipakai sebagai tempat pelayanan kesehatan untuk korban gempa.
Bukan hanya karena di sana tidak ada Masjid, tempat ibadah untuk umat Muslim, tetapi terutama karena pihak Gereja di sana tidak bertanya, apa agama orang yang membutuhkan ruang untuk beribadah? Sama seperti para relawan kemenkes RI yang datang, tidak pernah bertanya, apa agama orang yang mereka layani?
Di tengah suasana bencana, ketika rumah-rumah warga rusak dan sebagian kehilangan tempat tinggal, kepedulian justru tumbuh dari ruang yang mungkin tidak pernah direncanakan untuk menjadi tempat seperti ini.
Pihak gereja memberikan ruang bagi seorang Muslim untuk bersujud. Setelah menyelesaikan ibadahnya, Ia kembali menjalankan tugas yang mulia, tugas kemanusiaan.
Mereka semua berada di sana karena satu alasan: menolong sesama yang sedang membutuhkan, tanpa bertanya apa agamanya.
Ketika gempa mengubah rumah menjadi kenangan, kampung Waning bukan lagi sekadar titik di peta bagi para relawan Kemenkes RI. Di sana ada warga yang terluka, yang masih menyimpan kecemasan setelah gempa mengguncang Flores.
Ada keluarga yang kehilangan rumah. Ada orang-orang yang harus menjalani hari dengan rasa khawatir, karena tempat yang selama ini menjadi ruang paling aman bagi mereka, tiba-tiba tak bisa lagi jadi tempat berteduh.
Dalam situasi seperti itu, kehadiran tenaga kesehatan bukan hanya tentang memeriksa tekanan darah, memberikan obat atau menangani keluhan kesehatan. Kehadiran mereka juga membawa pesan sederhana: “Apapun agamamu, kalian tidak sendirian.”
Mobile Klinik Kemenkes RI datang mendekati masyarakat. Mereka membawa perlengkapan medis dan obat-obatan, tetapi yang kemudian diterima masyarakat lebih dari sekadar itu. Ada rasa tenang. Ada perhatian. Ada keyakinan bahwa setelah bencana, masih ada orang-orang yang bersedia datang dan berdiri bersama mereka, tanpa sekat agama.
Relawan kemenkes RI ini datang untuk menyembuhkan luka. Mereka memang tidak dapat mengembalikan rumah warga yang telah roboh. Mereka juga tidak dapat menghapus trauma akibat gempa. Mereka juga tidak dapat membuat bencana yang telah terjadi seolah-olah tidak pernah ada. Tetapi mereka bisa melakukan sesuatu yang sangat berarti. Mereka bisa datang untuk menunjukkan bahwa di tengah reruntuhan dan kecemasan, masih ada tangan-tangan yang terulur.
Di Waning, tangan-tangan itu datang dari berbagai latar belakang. Ada yang membawa stetoskop. Ada yang membawa obat. Ada yang membawa sajadah. Dan ada pula pihak gereja yang membuka ruangnya. Semuanya berpadu dalam satu pekerjaan besar: merawat kehidupan.
Mungkin itulah makna paling dalam dari foto yang dikirim Kadis Theresia ini. Bukan tentang siapa yang sedang berdiri di dalam gereja. Bukan pula tentang agama siapa yang sedang menjalankan ibadah. Tetapi tentang bagaimana manusia, ketika berhadapan dengan penderitaan manusia lainnya, memilih untuk membuka hati.
Karena pada akhirnya, kasih tidak membutuhkan kartu identitas. Ia tidak bertanya apa agamamu. Ia hanya bertanya satu hal: “Apa yang bisa saya lakukan untuk membantumu?”
Sebab bencana ini tidak mengenal agama. Gempa ini tidak memilih rumah siapa yang harus roboh. Rasa sakit akibat bencana tidak mengenal suku dan keyakinan. Dan karena itu pula, kemanusiaan seharusnya tidak mengenal batas-batas tersebut.
Sama seperti peristiwa di Waning, sebuah gereja lama, selain menjadi bagian dari ruang pelayanan kemanusiaan, juga menjadi tempat ibadah bagi relawan Kemenkes RI beragama Muslim.
Sebuah sajadah putih terbentang di lantai. Sederhana. Tidak mewah. Tetapi bagi seseorang Muslim yang sedang menjalankan tugas jauh dari Mushola, sajadah itu terasa seperti sebuah pelukan.
Sebuah pengingat bahwa di tengah keterbatasan, masih ada ruang untuk beribadah. Masih ada ruang untuk bekerja. Dan yang paling penting, masih ada ruang untuk berbagi kasih. Sebagaimana pesan Yesus yang tergantung di kayu salib itu: “kasihilah sesamamu, seperti engkau mengasihi dirimu sendiri.”***


