Penulis :Gonzales Editor : Hans
Labuan Bajo : Infomabar – Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Barat Nusa Tenggara Timur ( NTT) bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan Keuskupan Labuan Bajo serius mematangkan pelaksanaan program Silentium Magnum atau keheningan agung. Rapat persiapan digelar di Ruang Rapat Satgas MBG Lt. 2 Kantor Bupati Manggarai Barat, dihadiri oleh Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) plus, para pimpinan agama, serta pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
Bupati Manggarai Barat, Edistasius Endi, dalam sambutannya menegaskan bahwa program ini bukan sekadar ritual keagamaan semata, melainkan gerakan kolektif untuk memberi ruang istirahat bagi alam.

“Tidak semata-mata ini soal urusan keagamaan, tapi sebenarnya kita mau mewujudkan bahwa alam ini mau beristirahat. Alam tidak mau disibukkan dengan urusan-urusan kemajuan seperti penggunaan kendaraan dan lain sebagainya,” ujarnya di hadapan para peserta rapat, Senin (16/3/2026 ).
Momen Silentium Magnum kali ini bukanlah hal yang baru, ini adalah tahu ke 2 di terapkan di Labuan Bajo.
“Ini bukan hal baru. Yang waktu itu kita sepakati namanya Jumat Hening. Saya kira Romo Vikjen dan bapak ibu sekalian, ini bukan bahas hal baru. Kalau kali lalu hanya beberapa zona yang kita tutup, ini mesti ditambah yang pada gilirannya nanti stop total,” tegas Bupati Edi.
Ia membandingkan dengan kebijakan serupa yang telah membudaya di Pulau Bali. Menurutnya, ketegasan dan konsistensi adalah kunci keberhasilan sebuah kebijakan positif.
“Kita tidak usah malu-malu. Bali itu doktrinnya luar biasa sampai dengan hari ini akhirnya menjadi budaya. Tidak ada urusan mau bagaimana dengan tamu, semua orang tunduk dan harus taat. Yang begini-begini tidak ada kompromi,” tegasnya.
Bupati Edi juga meminta semua pihak untuk tidak goyah apabila ada pro dan kontra di masyarakat. Menurutnya, perbedaan pendapat adalah hal biasa, namun kebijakan yang baik harus tetap dijalankan demi kepentingan yang lebih besar.
“Ini sesuatu yang baik, tidak usah peduli orang mau protes. Malah kita berharap protesnya sampai dengan Tuhan Allah, karena ini juga cinta Tuhan yang Tuhan lewatkan kepada kita. Tinggal kita sepakati jalur mana saja yang perlu ditambah,” imbuhnya.
Senada dengan Bupati, Ketua FKUB Kabupaten Manggarai Barat, RD. Richard Manggu, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi yang tinggi atas inisiatif ini. Ia menilai program tersebut sebagai pilihan yang tidak mudah namun sangat mulia.
” Saya sangat berapresiasi kepada kita semua untuk sebuah pilihan yang tidak gampang dan butuh pengorbanan untuk menjaga keseimbangan ekologi. Saya pikir siapa pun yang memiliki inisiatif yang baik untuk menjaga kelestarian ekologi harus didukung,” ujar RD. Richard.
Ia menjelaskan bahwa Silentium Magnum merupakan inisiasi bersama antara Keuskupan Labuan Bajo dan Pemda Manggarai Barat yang bertepatan dengan Hari Raya umat Katolik. Namun, ia berharap ke depan akan muncul inisiasi serupa dari agama-agama lain di hari-hari besarnya.
“Pilihan ini tentu tidak gampang karena membutuhkan pengorbanan. Tapi tujuan kita satu, yaitu keberpihakan kita kepada alam,” pungkasnya.
Rapat persiapan yang turut dihadiri Kepala Depag Fransiskus Adi dan jajaran OPD ini diharapkan mampu menghasilkan keputusan teknis terkait jalur-jalur yang akan ditutup total, sehingga program Silentium Magnum dapat berjalan dengan lancar, khusyuk, dan berdampak nyata bagi kelestarian alam Manggarai Barat.


