Penulis : Ferdy Jemaun
Labuan Bajo, InfoMabar,- Akses kesehatan di sejumlah titik yang masih terbatas, angka kematian ibu dan bayi yang membayangi, hingga persoalan sanitasi yang belum tuntas, terus menjadi tantangan bagi pemerintah Kabupaten Manggarai Barat. Yayasan Gugah Nurani Indonesia (GNI), hadir untuk mengurai tantangan itu, sedikit demi sedikit. Mereka merenda asa di tanah Manggarai Barat.
Kabupaten Manggarai Barat, dengan gugusan pulau dan perbukitannya yang eksotis, menyimpan tantangan hidup yang tak semolek pemandangannya. Di balik keelokan alam yang menakjubkan, masih ada jerit sunyi dari pelosok desa mengenai akses kesehatan yang terbatas, angka kematian ibu dan bayi yang membayangi, hingga persoalan sanitasi yang belum tuntas.

Di tengah tantangan tersebut, hadir secercah harapan yang dibawa oleh GNI, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) nirlaba yang didirikan pada tahun 2018 dan berfokus pada kemanusiaan, pembangunan masyarakat, dan pemenuhan hak-hak anak berdasarkan prinsip Sustainable Development Goals(SDGs). Melalui langkah-langkah nyata, lembaga ini berkomitmen merajut kembali kualitas hidup masyarakat, menempatkan anak-anak dan kelompok rentan sebagai jantung dari setiap programnya.
Sejak memulai kiprahnya di Manggarai Barat pada tahun 2019, Yayasan Gugah Nurani Indonesia (GNI) terus berkomitmen dalam mendorong peningkatan kualitas hidup masyarakat, khususnya anak-anak dan kelompok rentan. Memasuki siklus kedua program tahun 2023–2027, GNI memperluas fokus intervensinya dengan mengembangkan sektor Kesehatan ( yang pada siklus I 2018-2022 tidak ada dalam perencanaan strategis program)  sebagai salah satu pilar utama pembangunan masyarakat.
Langkah ini diambil sebagai respons terhadap berbagai tantangan kesehatan yang masih dihadapi masyarakat, seperti tingginya angka kematian ibu dan bayi, keterbatasan akses terhadap fasilitas kesehatan, serta rendahnya kepemilikan sanitasi yang layak dan aman. Kondisi ini berdampak langsung pada kualitas hidup masyarakat, terutama perempuan dan anak-anak.
Melalui pengembangan sektor kesehatan ini, GNI menetapkan tujuan besar: to contribute to improve the quality of inclusive children and adults health. Pencapaian tujuan ini diukur melalui sejumlah indikator utama, yaitu penurunan angka kematian ibu (maternal mortality rate), penurunan angka kematian bayi (infant mortality rate), peningkatan persentase persalinan di fasilitas kesehatan, serta peningkatan jumlah rumah tangga yang memiliki jamban layak dan aman.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut, berbagai intervensi strategis telah dirancang dan diimplementasikan secara terpadu. Salah satunya adalah penguatan ketahanan pangan dan gizi keluarga melalui pengembangan kebun pangan di tingkat desa. Pada tahun 2024, kegiatan ini telah dilaksanakan di Desa Pangga, Desa Golo Pua, serta Kampung Sepo di Desa Compang, di mana masyarakat didorong untuk memanfaatkan lahan yang ada guna memenuhi kebutuhan pangan bergizi secara mandiri.
Di samping itu, peningkatan kapasitas keluarga dalam pengasuhan anak juga menjadi perhatian utama. Pada tahun 2025 dan 2026 melalui berbagai kelas pengasuhan dan pelatihan, termasuk pelatihan komunikasi efektif bagi kader Posyandu dan pengasuh balita, masyarakat dibekali keterampilan dalam menyampaikan pesan kesehatan kepada orang tua, khususnya yang berisiko terhadap stunting. Pendekatan ini bertujuan untuk membangun pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya gizi, pola asuh, dan perawatan kesehatan sejak dini.
Dalam aspek layanan kesehatan, GNI secara rutin memfasilitasi pemeriksaan kesehatan tahunan bagi seluruh anak sponsor di wilayah Kecamatan Kuwus, Kuwus Barat, dan Pacar. Kegiatan ini menjadi langkah preventif penting dalam mendeteksi dini berbagai permasalahan kesehatan serta memastikan tumbuh kembang anak berjalan optimal.

Sementara itu, pada sektor sanitasi dan akses air bersih, berbagai infrastruktur dasar telah dibangun untuk mendukung kesehatan masyarakat. Penyediaan sarana air bersih telah menjangkau 55 kepala keluarga di Kampung Sepo – Desa Compang Tahun 2023, 100 kepala keluarga di Dusun Daleng – Desa Golo Luwe Tahun 2026, serta 57 kepala keluarga di Dusun Lenga – Desa Kolang Tahun 2025.
Selain itu, pembangunan fasilitas sanitasi berupa toilet juga telah dilakukan bagi 55 KK di Kampung Sepo Desa Compang tahun 2023, 25 kepala keluarga di Desa Kolang Tahun 2025, sebagai upaya mendorong perubahan perilaku hidup bersih dan sehat. Seluruh kegiatan ini diperkuat melalui pendekatan Community-Led Total Sanitation (CLTS) yang mendorong kesadaran kolektif masyarakat untuk menghentikan praktik buang air besar sembarangan dan beralih pada penggunaan sanitasi yang layak. Pendekatan ini menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama perubahan, sehingga dampak yang dihasilkan lebih berkelanjutan.
Rangkaian intervensi tersebut menunjukkan bahwa pendekatan yang dilakukan oleh GNI bersifat holistik—menggabungkan aspek gizi, kesehatan, perilaku, serta penyediaan infrastruktur dasar. Lebih dari sekadar pelaksanaan program, upaya ini juga berfokus pada pemberdayaan masyarakat agar mampu menjaga dan meningkatkan kualitas kesehatannya secara mandiri.
Dengan komitmen yang kuat dan kolaborasi bersama berbagai pihak, Gugah Nurani Indonesia optimis bahwa pengembangan sektor kesehatan ini akan memberikan kontribusi nyata dalam menciptakan masyarakat Manggarai Barat yang lebih sehat, inklusif, dan sejahtera, serta membangun fondasi yang kokoh bagi masa depan generasi yang lebih baik.***


