Penulis : Gonsalez dan Gery Baha Editor : Ferdy Jemaun
Labuan Bajo, InfoMabar,- Pelaksanaan Kegiatan Pasar Kreasi Pangan, dimana orang muda adalah penggerak utamanya, merupakan momentum bagi generasi muda untuk terjun dalam sektor pertanian, khususnya pangan lokal. Sebab pertanian itu tidak sekedar mata pencaharian, tetapi bagian dari praktik konkret pertobatan ekologis, untuk mengubah gaya hidup, produksi, dan konsumsi yang bermuara pada perawatan bumi.
Penegasan ini disampaikan oleh Bupati Manggarai Barat, Edistasius Endi, dalam sambutanya saat membuka Kegiatan Pasar Kreasi Pangan yang digelar di Lapangan Parkir Kampung Ujung, Labuan Bajo, Rabu (29/4/2026).

Bupati Edi menilai bahwa Pasar Kreasi Pangan ini merupakan momentum penting bagi Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) untuk mendengar dan melihat langsung urgensi keterlibatan generasi muda dalam sektor pertanian. Sebab selama ini, jumlah orang muda yang terjun ke dalam sektor pertanian hanya sedikit. Padahal sektor pertanian bukan sekadar mata pencaharian, melainkan bagian dari pertobatan ekologis.
“Bapak ibu yang saya hormati, dari total 135.56 ribu orang penduduk yang bekerja di kabupaten ini, sektor pertanian masih menjadi penyerap tenaga kerja tertinggi, yaitu sebanyak 74,43 ribu orang atau 54,14 persen. Sangat miris, karena berdasarkan data Sensus Pertanian 2023, yang bergerak di sektor pertanian justru didominasi usia 60-64 tahun dengan komposisi 78 persen. Sementara anak muda generasi masa depan yang bergerak di sektor ini baru mencapai 32 persen,” ungkap Bupati dengan nada prihatin.
Orang nomor satu di Manggarai Barat itu mengingatkan kembali seruan Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si’ (2015) tentang kepedulian mendesak terhadap bumi sebagai rumah bersama. Menurutnya, kegiatan Pasar Kreasi Pangan ini merupakan praktik konkret dari pertobatan ekologis, yakni mengubah gaya hidup, produksi, dan konsumsi yang bermuara pada perawatan bumi.
“Anak-anak muda adalah harapan masa depan bangsa. Kalau melihat kontribusi sektor pertanian terhadap pertumbuhan ekonomi kita baru di angka 1,56 persen, sementara agregat pertumbuhan ekonomi tahun 2025 mencapai 5,82 persen. Jika kalian semua yang sudah didampingi ini menularkan pengetahuan kepada anak muda lainnya, saya yakin pertumbuhan ekonomi sektor ini bisa didorong secara masif,” tegasnya.
Bupati Edistasius juga menyoroti pentingnya inisiasi dan kolaborasi. “Kolaborasi bukan sekadar pilihan, tapi keharusan. Kolaborasi yang hidup, berdenyut, dan berdampak nyata dalam peningkatan ekonomi rakyat,” ujarnya seraya mengucapkan terima kasih kepada para pihak yang telah berkontribusi dengan total stimulus Rp31 miliar.
Ia memaparkan capaian positif tahun 2025, di mana angka ketimpangan berhasil diturunkan dari 0,324 menjadi 0,317 (penurunan 0,07 poin). “Penurunan ini linear dengan pertumbuhan ekonomi, penurunan angka kemiskinan, pengangguran terbuka, serta peningkatan IPM dan pendapatan per kapita. Jika program pendampingan ini berlanjut, saya yakin ketimpangan akan terus menurun,” katanya optimistis.
Mengakhiri sambutannya, Bupati Edi mengajak seluruh pihak mengampanyekan tagar #KonsumsiPanganLokalSamaDenganMencintaiBumi.
“Kami pastikan bahwa mengurus dan memajukan ekonomi rakyat butuh keterlibatan banyak pihak. Mari kita wujudkan kebaikan bersama (bonum commune). Amin,” pungkasnya.

Sementara itu, Dewan Nasional Prestasi Junior Indonesia (PJI), Natalia Soebagjo, melaporkan capaian membanggakan dari program NURTURE. Sebanyak 26 peserta telah menyelesaikan program dengan omset kolektif mencapai hampir Rp4 miliar dalam waktu kurang dari 9 bulan.
“Ini luar biasa. Bayangkan, hanya dalam sembilan bulan, omset sudah hampir empat miliar. Selain itu, 85 persen peserta telah mengadopsi teknologi digital, 73 persen membangun kemitraan usaha, dan 27 persen mulai menciptakan peluang kerja baru,” papar Natalia disambut tepuk tangan meriah.
Ia menjelaskan program NURTURE yang merupakan bagian dari Urban Futures dirancang dengan pendekatan berlapis, mulai dari growth mindset, pemahaman sistem pangan, perencanaan bisnis, keuangan, hingga pendampingan intensif selama hampir satu tahun melalui mentoring dan konsultasi.
“Tak jarang kita punya produk bagus tapi lupa menghitung. Akhirnya usaha tekor. Lewat program ini, para peserta diajarkan bagaimana menghitung agar bisnis berkelanjutan,” jelasnya.
Natalia juga mendorong para lulusan program (alumni NURTURE) untuk menjadi agen penggerak di komunitasnya. “Jadilah mentor yang baik. Dengan demikian, dampak program dapat tumbuh dan direplikasi secara organik di tingkat lokal,” pesannya.
Ia menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial (Humanis), serta para peserta yang telah membuktikan kegigihan mereka.
“Orang muda memiliki peran sangat penting dalam membangun masa depan sistem pangan yang lebih kuat dan berkelanjutan. Semoga Pasar Kreasi Pangan hari ini menjadi langkah awal dari kolaborasi yang lebih luas dan berkelanjutan,” tutup Natalia.
Kegiatan yang berlangsung dari pukul 09.00 hingga 21.00 WITA ini juga dimeriahkan dengan pasar kreasi pangan lokal , pemberian penghargaan NURTURE, diseminasi riset baseline food waste oleh WRI Indonesia, ideathon SAPA BUMI oleh RISE Foundation, serta pemutaran film dokumenter “kembali ke ajar”.***


