Penulis : Ferdy Jemaun
Labuan Bajo, InfoMabar,- Pasar Kreasi Pangan, menjadi ruang bagi orang muda Manggarai Barat dalam mempublikasikan hasil karya mereka di sektor pertanian. Tidak hanya orang muda dengan kemampuan yang memadai, di sana, nampak pula orang muda yang berkebutuhan khusus, dari Komunitas Tuli Labuan Bajo.
Lapangan Parkir Kampung Ujung, Labuan Bajo, nampak hiruk-pikuk pada Rabu (29/04/2026) pagi. Di sana, orang muda Manggarai Barat yang selama ini dilibatkan dalam program Urban Future, ‘unjuk gigi’.

Di tengah riuh peserta kegiatan, terselip sebuah pemandangan yang menyentuh hati: deretan senyum tulus dari anggota Komunitas Tuli Labuan Bajo.
Kehadiran mereka dalam perhelatan Pasar Kreasi Pangan bukan sekadar tamu undangan. Di bawah kepemimpinan langsung sang Ketua, Ermina Salju, komunitas ini menunjukkan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk menabur mimpi akan terwujudnya kedaulatan pangan dan munculnya kreatifitas lokal di Manggarai Barat.
Sepanjang acara, tampak seorang wanita dengan gerakan tangan yang lincah dan ekspresif, menerjemahkan setiap kata yang terucap dari para tokoh yang menyampaikan sambutan. Ia adalah Theresia Nirmala Mamik, juru bicara isyarat yang setia menjadi “penyambung lidah” bagi rekan-rekannya.
Setiap kata yang meluncur dari podium, mulai dari sambutan penyelenggara acara hingga sambutan Bupati Manggarai Barat, diterjemahkan Theresia dengan penuh semangat. Berkatnya, sunyi tak lagi berarti sepi; anggota komunitas Tuli tetap bisa menyerap setiap pesan dan tawa yang dibagikan dalam acara tersebut.
Kehadiran Komunitas Tuli sejak sebelum dimulainya acara memberikan warna tersendiri bagi Pasar Kreasi Pangan ini. Beberapa poin penting yang membuat kehadiran mereka begitu bermakna antara lain: antusiasme tanpa batas, dimana mereka setia bertahan mengikuti seluruh rangkaian prosesi.
Kehadiran mereka juga menjadi simbol Inklusivitas, yang membuktikan bahwa ruang publik di Labuan Bajo semakin ramah terhadap penyandang disabilitas. Di sana juga terjadi interaksi hangat antara pengunjung dan komunitas melalui gestur sederhana, menciptakan suasana pasar yang lebih manusiawi dan inklusif.
“Kehadiran teman-teman Komunitas Tuli adalah poin penting dari kegiatan hari ini. Mereka bukan hanya peserta, tapi bagian dari nyawa kegiatan ini yang membawa warna ketulusan. Sayangnya, mereka diberi tempat duduk paling belakang,” ujar salah satu pengunjung yang terkesan dengan kehadiran mereka.
Pasar Kreasi Pangan kali ini bukan sekadar soal transaksi jual-beli. Lewat keterlibatan aktif Komunitas Tuli, Labuan Bajo mengirimkan pesan kuat kepada dunia bahwa pembangunan pariwisata dan ekonomi kreatif Labuan Bajo harus bisa dirasakan oleh semua orang, tanpa terkecuali.
Saat seluruh rangkaian kegiatan berakhir, Komunitas Tuli Labuan Bajo pulang dengan membawa pengalaman baru. Namun, mereka juga meninggalkan sesuatu yang jauh lebih berharga bagi banyak orang, yakni : pelajaran tentang ketangguhan dan cara berkomunikasi melalui hati.***


