Home Berita Terkini Mulok Jadi Rumah Pembentukan Karakter Siswa, Materi Ajar Jangan Hanya Jadi Pelajaran...

Mulok Jadi Rumah Pembentukan Karakter Siswa, Materi Ajar Jangan Hanya Jadi Pelajaran Tambahan

0
79
Wakil Bupati, dr. Yulianus Weng, saat menyampaikan sambutan. (Foto : Tildis)
Penulis: Mathildis Riberu 
Editor : Ferdy Jemaun

Labuan Bajo InfoMabar,- Muatan lokal budaya Manggarai bisa dijadikan sebagai fondasi pembentukan karakter siswa sekolah. Karena itu materi ajarnya jangan hanya dijadikan pelajaran tambahan di seolah.

Demikian salah satu intisari dari kegiatan Focus Group Discusion (FGD) Tahap II Penyusunan Modul Ajar Muatan Lokal Budaya Manggarai jenjang SD-SMP di Kabupaten Manggarai Barat, yang berlangsung di Aula Setda Kantor Bupati Manggarai Barat, Jum’at (17/07/2026.)

Kegiatan FGD tentang Mulok di Aula Setda Mabar. (Foto : Tildis)

Penyelenggaran FGD ini merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat dengan Fakultas Teologi dan Budaya (FTB) Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng dalam menyusun modul ajar yang diharapkan menjadi pedoman pembelajaran muatan lokal di sekolah.

Wakil Bupati Manggarai Barat, Yulianus Weng, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada tim penyusun modul ajar dari Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng yang telah mendukung pengembangan pendidikan berbasis budaya di Manggarai Barat.

“Terima kasih atas  kehadiran dan keseriusan Tim penyusun dari Universitas Katolik Indonesia St.Paulus Ruteng yang bersedia membantu Pemda Manggarai Barat. Kegiatan ini merupakan lanjutan dari kegiatan-kegiatan sebelumnya. Kami juga menyampaikan terima kasih yang tulus kepada Bapak/ibu guru lainnya yang bersedia menjadi pionir dalam mengembangkan Mulok di sekolahnya masing-masing. ” Ujarnya

Lebih lanjut Wakil Bupati pun berharap agar penyusun Mulok ini pun dapat bermanfaat bagi para siswa di sekolah sehingga identitas budaya tiap siswa tidak tergerus oleh arus globalisasi.

Sementara itu, Rektor Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng, RD. Dr. Agustinus Manfred Habur, Lic, menegaskan bahwa muatan lokal tidak boleh dipandang sebagai upaya mengembalikan anak-anak pada masa lalu yang kaku, melainkan sebagai fondasi untuk membangun karakter dan daya saing generasi muda.

“Muatan lokal bukan untuk memenjarakan masa kecil anak-anak di masa lalu yang kaku. Budaya lokal bukanlah sekadar pajangan museum yang berdebu. Generasi muda tetap harus dipersiapkan menguasai kecakapan teknologi tingkat tinggi serta kecerdasan abad modern global.

Akar identitas budaya yang orisinal dan kokoh justru menjadi suntikan energi penunjang rasa percaya diri, adaptabilitas, serta inovasi kreativitas mandiri di kancah internasional,” jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa kebudayaan merupakan rumah pertama bagi seseorang untuk mengenal dunia dan jati dirinya.

“Kebudayaan itu rumah tempat orang belajar tentang dunia. Kita harus memberi ruang agar bisa belajar tentang budaya itu sendiri. Belajar tentang identitas budaya yang dimulai dari ruang kelas. Ruang kelas menjadi pilihan yang utama,” ujarnya.

Menurutnya, nilai-nilai spiritual juga memiliki jejak yang kuat dalam kebudayaan. Karena itu, guru harus menjadi penggerak perubahan paradigma pembelajaran, dengan dukungan pemerintah, orang tua, tokoh adat, sekolah, serta seluruh tenaga pendidik agar pendidikan berbasis budaya dapat berjalan secara berkelanjutan.

Dalam sesi diskusi, para peserta turut memberikan berbagai masukan terhadap penyusunan modul ajar.

Salah seorang peserta FGD, Ismail, berharap materi mengenai musik tradisional dan tari daerah mendapat porsi yang lebih besar sehingga dapat terus diwariskan kepada generasi muda.

Ia juga berharap Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng dapat membuka program studi seni budaya sebagai langkah strategis menjawab tantangan pelestarian budaya di masa mendatang.

“Bagaimana membuat anak-anak mencintai kebudayaannya? Jawabannya bukanlah sekadar dengan menceritakan masa lalu secara sepihak. Jawabannya adalah menghadirkan kebudayaan secara nyata sebagai pengalaman belajar setiap hari.”

Pada kesempata yang sama, Kepala SDK Ware Medu, Hipolitus Darmin, mencoba merefleksi penerapan Muatan Lokal di banyak sekolah selama ini, yang hanya dijiadikan sebagai mata pelajaran tambahan.

Jika semua pihak sepakat, kata Hipo, maka Mulok ini harus kita jadikan sebagai salah satu mata pelajaran inti. Karena itu harus ada tahapan pelatihan khusus untuk guru yang khusus pula.

Menutup kegiatan ini, Uskup Labuan Bajo, Mgr. Prof. DR. Maksimus Regus menegaskan bahwa penerapan Mulok ini merupakan bagian dari upaya untuk membangun peradanan masa depan.

Uskup Mgr.Maksi memandang Mulok itu dari 3 sisi, yakni sisi Sosiloogis, sisi Antropolis dan sisi Ekologis

Dari sisi sosiologis, Mulok itu merupakan pembentukan identias. Dari sisi antropoligi Mulok itu merupakan upaya bagaimana memaknai dirinya. Sedangkan dari sisi ekologis, Mulok itu terkait keberlanjutan masa depan.***