Penulis : Ferdy Jemaun
Labuan Bajo, InfoMabar,- Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Barat, Adrianus Ojo, memberi apresiasi untuk Yayasan Gugah Nurani Indonesia (YGNI) atas komitmen dari lembaga itu untuk mencegah terjadinya kasus stunting di wilayah Kabupaten Manggarai Barat.
Apresiasi itu disampaikan Kadis Adrianus saat menyampaikan sambutan pada kegiatan pelatihan Kader Posyandu yang berlangsung di Puskesmas Golo Welu, Kecamatan Kuwus, belum lama ini. Kegiatan pelatihan itu diselenggarakan oleh YGNI dengan tema “Komunikasi Efektif dalam Pendampingan Ibu dan Anak Berisiko Stunting”.

Dalam sambutannya, sebagaimana release yang diterima InfoMabar Jum’at (20/03/2026) sore, Kadis Adrianus menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap pelaksanaan pelatihan ini. Ia menegaskan bahwa inisiatif yang dilakukan oleh Yayasan Gugah Nurani Indonesia merupakan langkah yang sangat strategis dalam meningkatkan kapasitas kader, khususnya dalam mengelola Posyandu dan melaksanakan intervensi gizi spesifik.
Menurutnya, kader Posyandu adalah garda terdepan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, sehingga peran mereka sangat menentukan dalam keberhasilan upaya penurunan stunting.
Lebih lanjut, Kadis Adrianus mengharapkan agar melalui pelatihan ini para kader semakin memahami pentingnya gizi seimbang, mampu melakukan pemantauan tumbuh kembang balita secara optimal, serta memiliki keterampilan dalam mengolah pangan lokal menjadi Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang bergizi.
Kepada para kepala desa, Kadis Adrianus juga menekankan pentingnya tindak lanjut melalui Musyawarah Desa dengan memanfaatkan Dana Desa Tahun 2026 sesuai amanat Permendes PDTT No. 16 Tahun 2025, termasuk memastikan keakuratan data sasaran stunting, pelaksanaan rembuk stunting desa, serta pelibatan aktif kader dalam setiap tahapan.
Sementara itu, Manager Gugah Nurani Indonesia Manggarai Barat, CDP, Vinsensius Yosef Bana, S.T, menekankan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya strategis Yayasan Gugah Nurani Indonesia dalam pengembangan sektor kesehatan di Manggarai Barat umumnya dan Desa Pangga dan Desa Sama khususnya.
Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk intervensi nyata dalam memperkuat kapasitas kader Posyandu sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat, khususnya dalam upaya pencegahan dan penanganan stunting. Inisiatif ini sejalan dengan komitmen GNI dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama pada pilar yang berfokus pada pemenuhan hak anak dan pemberdayaan masyarakat. Salah satu target utama SDGs adalah mengakhiri kelaparan dan segala bentuk malnutrisi pada tahun 2030. Stunting sebagai salah satu bentuk malnutrisi kronis masih menjadi tantangan global yang harus diatasi secara serius.
Di Indonesia, stunting telah menjadi isu prioritas nasional sebagaimana tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) serta Rencana Induk Bidang Kesehatan (RIBK) Kementerian Kesehatan RI. Namun demikian, target penurunan prevalensi stunting menjadi 14% pada tahun 2024 belum tercapai. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia, prevalensi stunting di Indonesia masih berada pada angka 19,8%, dengan laju penurunan yang belum optimal. Bahkan, masih terdapat beberapa provinsi dengan prevalensi stunting sangat tinggi di atas 30%, termasuk Nusa Tenggara Timur yang mencapai 37%.
Kabupaten Manggarai Barat sebagai wilayah dampingan GNI juga masih menghadapi tantangan serupa dimana berdasarkan SSGI 2024 sebesar 31,1% (turun 5,1% dari SKI 2023). Sedangkan dari Elektronik Pencatatan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPPGBM), Prevalensi Stunting Manggarai Barat 11,8 di 2024 dan turun menjadi 11,3% di 2025.
Pelatihan ini difasilitasi oleh Apolinaria Putri P. Bilo, S.Psi., M.Psi., Psikolog dari Biro Psikologi Ruang Ruteng, yang memberikan penguatan materi terkait komunikasi efektif berbasis pendekatan psikologis. Melalui pendekatan ini, para kader tidak hanya dibekali pengetahuan, tetapi juga keterampilan praktis dalam membangun hubungan yang empatik, mendengar secara aktif, serta menyampaikan pesan kesehatan secara persuasif dan mudah dipahami oleh masyarakat. Selama dua hari pelaksanaan, peserta mengikuti berbagai sesi pembelajaran yang interaktif melalui diskusi, studi kasus, simulasi peran (role play) dan hipnoterapi sehingga kader dapat langsung mempraktikkan keterampilan komunikasi dalam situasi nyata. Penekanan pada empati dan pendekatan humanis menjadi kunci dalam meningkatkan efektivitas pendampingan kepada keluarga berisiko stunting.

Hal menarik dari kegiatan ini adalah adanya prosesi pemotongan tumpeng di awal kegiatan yang dilakukan secara bersama oleh seluruh peserta pelatihan. Momen ini tidak hanya menjadi simbol rasa syukur, tetapi juga menggambarkan semangat kebersamaan, kolaborasi, dan komitmen bersama dalam upaya pencegahan stunting. Kebersamaan tersebut memperkuat makna bahwa keberhasilan penanganan stunting tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri, melainkan membutuhkan kerja sama semua pihak, mulai dari kader, tenaga kesehatan, pemerintah desa, hingga lembaga mitra.
Seluruh rangkaian kegiatan ini saling melengkapi dengan intervensi yang telah dilakukan sebelumnya oleh GNI, baik dalam bentuk penguatan kapasitas, pendampingan masyarakat, maupun dukungan layanan kesehatan. Dengan adanya kolaborasi antara Pemerintah Daerah, kader, tenaga kesehatan, pemerintah desa, puskesmas, dan lembaga mitra, diharapkan tercipta pendekatan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan. Pada akhirnya, kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kompetensi dan kepercayaan diri kader Posyandu sebagai agen perubahan, serta berkontribusi nyata dalam percepatan penurunan stunting dan pemenuhan hak anak di Kabupaten Manggarai Barat.
Adapun yang menjadi peserta kegiatan ini terdiri dari kader Posyandu dari Desa Pangga dan Desa Sama yang didampingi langsung oleh bidan desa dari masing-masing wilayah. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Manager GNI Manggarai Barat bersama Project Fasilitator Sektor Kesehatan Gugah Nurani Indonesia Manggarai Barat, Kepala Puskesmas Golo Welu, Kepala Puskesmas Wae Pitak, Kepala Desa Pangga, Kepala Desa Sama, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat dari Dinas Kesehatan, serta tenaga kesehatan dari Puskesmas Golo Welu.
Kehadiran berbagai pemangku kepentingan ini mencerminkan kuatnya komitmen dan sinergi lintas sektor. Untuk itu, sebagai bentuk syukur untuk pertemuan ini sebelum masuk ke materi, YGNI pun melakukan moment potong tumpeng sebagai perwujudan rasa syukur serta doa untuk keberhasilan kegiatan ini ke depan dan mempererat silahturami antar pemangku kepentingan dalam keberlanjutan pengerjaan program-program sektor kesehatan dari YGNI. Diharapakan pula hubungan pemerintah daerah bisa selaras dengan tujuan yang akan terus dilakukan di desa-desa dampingan YGNI. ***


