Kamis, Juni 4, 2026
BerandaTak BerkategoriFGK 2026 Momen Bangkitkan Ekonomi

FGK 2026 Momen Bangkitkan Ekonomi

Penulis : Gonsalez

Editor : Hans

Labuan Bajo, Infomabar- ;Festival Golo Koe ( FGK) Labuan Bajo Kabupaten Manggarai Barat NTT yang telah berlangsung empat kali sebelumnya, bukan sekadar seremoni. Ia telah menjadi motor penggerak ekonomi rakyat yang nyata.

Berdasarkan data yang kita miliki, dalam empat kali pelaksanaannya yang lalu, festival ini telah memberikan dampak positif yang signifikan bagi ekonomi masyarakat, kata Bupati Edistasius Endi.

” Tenun ikat, kuliner khas, kerajinan tangan—semua produk UMKM lokal mendapat panggung terhormat. Pariwisata berbasis komunitas tumbuh subur. Hotel, restoran, transportasi, hingga petani dan nelayan yang menyuplai kebutuhan festival merasakan langsung putaran kesejahteraan itu,” terangnya

Menurutnya, FGK tahun ini tidak sekadar dirancang sebagai pesta budaya atau ajang pariwisata biasa. Festival ini kata Edistasius Endi, adalah “ziarah komunal”.

“Ziarah—sebuah perjalanan suci bersama seluruh umat dan masyarakat, lintas agama dan latar belakang, untuk bersinergi menjaga kelestarian alam sebagai ciptaan Tuhan yang wajib dijaga kesuciannya,” katanya mengutip tema festival: “Ziarah Komunal dalam Persekutuan Sinergis untuk Merawat Ciptaan” dengan tagline yang menggetarkan jiwa: “Melangkah Bersama, Pulihkan Bumi.”

Sebagai destinasi super prioritas, daerah ini sangat rentan terhadap apa yang disebut Bupati sebagai Triple Planetary Crisis: perubahan iklim ekstrem, hilangnya keanekaragaman hayati secara massal, dan polusi yang tak terkendali.

Launching festival Golo Koe 2026. Foto :Gonsalez
Launching festival Golo Koe 2026.    Foto :Gonsalez

“Jika kita abai, keindahan alam bawah laut kita akan pudar, hutan-hutan kita akan gundul, dan sampah akan menenggelamkan pesona daerah ini,” tegasnya.

Hal ini disampaikanya saat memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang dirangkai dengan launching FGK 2026 yang berlangsung di Pantai Sudamala Labuan Bajo, Kamis ( 4/6/2026) pagi.

Ke-2 momen besar ini bukanlah sebuah kebetulan . “Ini adalah refleksi dari satu komitmen dan kepedulian yang sama. Keduanya lahir dari rahim kerinduan yang sama: memastikan masa depan bumi yang kita pijak ini tetap asri, lestari.” kata Bupati Edi.

Pada kesempatan itu,ia menyampaikan tiga catatan penting kepada seluruh panitia.Catatan itu diantaranya,

Pertama, ia meminta agar seluruh rangkaian acara tetap menjaga nilai spiritualitas. “Festival ini harus benar-benar menjadi sarana transformasi batin yang meningkatkan keimanan masyarakat kepada Sang Pencipta.”

Kedua, ruang ekonomi yang disediakan harus benar-benar berpihak pada pelaku UMKM kecil, petani, dan nelayan lokal. “Bukan hanya dinikmati oleh pelaku usaha besar,” katanya menegaskan.

Ketiga, dan ini yang paling menggema di tengah isu lingkungan: Festival Golo Koe harus tetap berjalan dalam spirit Green Festival—festival ramah lingkungan.

“Panitia wajib menerapkan prinsip zero waste selama festival berlangsung. Kurangi penggunaan plastik sekali pakai, kelola sampah dengan manajemen yang baik, dan edukasi pengunjung untuk menjaga kebersihan,” pesan Bupati seraya menambahkan, “Festival ini harus menjadi contoh konkret bagaimana sebuah acara besar dikelola tanpa merusak bumi.”pesannya.

Ia juga mengajak seluruh elemen untuk meruntuhkan sekat-sekat ego sektoral. Pemerintah, tokoh agama, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan seluruh masyarakat—semua harus bergerak bersama.

Ia mengingatkan tema nasional tahun ini: “Saatnya Bekerja untuk Iklim!” dan tema internasional: #NowForClimate.

“Now—artinya sekarang, bukan besok, bukan nanti,” katanya berirama, seolah ingin menancapkan makna itu ke relung hati setiap hadirin.

Di akhir sambutan, Edistasius Endi mengucapkan selamat kepada seluruh panitia Festival Golo Koe 2026. “Selamat berziarah bersama, selamat melangkah bersama untuk memulihkan bumi.”

Lalu ia menutup dengan doa yang membuat suasana terasa syahdu: “Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberkati niat tulus dan kerja keras kita semua dalam menjaga alam dan membangun Manggarai Barat yang maju, sejahtera, dan lestari.”

Ombak Pantai Sudamala seolah ikut berbisik setuju. Karena di hari itu, pariwisata dan lingkungan bukan lagi dua kutub yang berseberangan. Melainkan sepasang malaikat yang berangkulan—saling menjaga, saling menyelamatkan.

Ke- 2 momen yang berlangsung di pantai Sudamala pagi tadi dihadiri oleh tokoh agama, Forkopimda, pegiat lingkungan, hingga pelaku UMKM.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments