Home Berita Terkini Evaluasi SIMABARESTI, 27 Kasus Ibu Hamil Risiko Tinggi Dirawat dan Dikawal Ketat...

Evaluasi SIMABARESTI, 27 Kasus Ibu Hamil Risiko Tinggi Dirawat dan Dikawal Ketat di Seluruh Puskesmas

0
176


Sumber: Release Dinkes Mabar 
Editor: Ferdy Jemaun

Labuan Bajo, InfoMabar,- Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Barat (Dinkes Mabar) kembali menggelar evaluasi rutin program SIMABARESTI (Sistem Informasi Ibu Hamil, Bersalin, dan Bayi Berisiko Tinggi). Dari evaluasi itu diketahui bahwa sebanyak 27 kasus ibu hamil risiko tinggi dirawat dan dikawal ketat di seluruh Puskesmas.

Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui zoom meeting pada Selasa, 5 Mei 2026 ini dipimpin langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Mabar, Adrianus Ojo. Turut hadir jajaran dinas kesehatan, seluruh kepala puskesmas, bidan koordinator, serta perwakilan rumah sakit rujukan.

Rapat Evaluasi SIMABARESTI yang digelar melalui Zoom. (Foto : Dok. Dinkes Mabar)

Dalam arahannya, Adrianus Ojo menegaskan tiga hal strategis. Pertama, komitmen konsisten dalam menjalankan SIMABARESTI. Kedua, kewajiban pelaporan periodik untuk semua kasus risiko tinggi. Ketiga, pengawalan ketat terhadap rencana tindak lanjut melalui koordinasi lintas program dan lintas sektor. Dari hasil evaluasi, tercatat 27 kasus ibu hamil dengan beragam kondisi risiko tinggi yang berasal dari 26 puskesmas se-Kabupaten Manggarai Barat. Berikut rincian penanganannya:

Puskesmas Terang menangani seorang ibu primigravida usia 36 tahun dengan preeklampsia berat. Tekanan darah sempat turun namun melonjak kembali hingga 180/110 mmHg disertai edema kaki. Ibu tersebut dirujuk ke RSUD Komodo, mendapat terapi MgSO4, dan dirawat selama tiga hari. Jadwal operasi caesar yang semula 4 Mei diubah menjadi 7 Mei setelah mendapat pendampingan intensif dari bidan dan keluarga.

Puskesmas Wae Nakeng melaporkan kasus G1P0A0 dengan hipertensi dalam kehamilan, oligohidramnion (kekurangan cairan ketuban), dan janin yang mengalami kelainan jantung kongenital. Awalnya keluarga suami menolak terminasi, namun setelah tenaga kesehatan bersama Kepala Desa mengunjungi orang tua kandung ibu, diberikan penyuluhan tentang tanda bahaya, persiapan donor darah, dan akhirnya ibu dirujuk terencana ke RSUD.

Puskesmas Warsawe memiliki tiga kasus. Pertama, ibu usia 18 tahun dengan kekurangan energi kronis (IMT 16,6) dan riwayat gangguan jiwa. Penanganannya dilakukan kolaborasi antara dokter spesialis kandungan dan dokter jiwa, edukasi keluarga, serta kontrol ke RSUD dengan biaya transportasi ditanggung kepala desa. Kasus kedua, letak sungsang pada kehamilan 34–35 minggu, diberikan edukasi tanda bahaya persalinan, persiapan pakaian, donor darah, transportasi, dan anjuran USG ulang. Kasus ketiga, hamil kembar dengan HBsAg reaktif dan peningkatan SGPT, mendapat USG ke spesialis kandungan, terapi Tenofovir dari spesialis penyakit dalam, diet rendah kalori, anjuran jalan pagi, serta pendampingan kader.

Puskesmas Rego juga mencatat tiga kasus. Ibu G4P3A0 usia 34 tahun dengan hamil kembar mendapat edukasi gizi tinggi karbohidrat dan protein, serta dianjurkan persalinan di rumah sakit. Kasus kedua, ibu usia 43 tahun dengan kelainan letak bokong, dianjurkan USG ke Labuan Bajo dan melakukan posisi nungging selama 15 menit; hasil USG menunjukkan letak normal. Kasus ketiga, ibu usia 19 tahun dengan kekurangan energi kronis, mendapat pendampingan gizi dan pemberian makanan tambahan (PMT) sejak 23 April, serta suami diminta mengontrol kepatuhan minum suplemen.

Puskesmas Bari melaporkan seorang grandemultipara (G7P4A2) dengan riwayat dua kali abortus, jarak kehamilan kurang dari dua tahun, riwayat SC, dan tinggi badan di bawah 148 cm. Penanganan meliputi penyuluhan untuk USG ke spesialis kandungan, persalinan di rumah sakit, kontrol rutin, persiapan calon pendonor darah, rujukan terencana, serta kunjungan rumah oleh bidan desa pada 12 Mei 2026.

Puskesmas Batu Cermin memiliki tiga kasus yang terdiri dari dua ibu hamil dan satu bayi BBLR. Ibu dengan KEK dan keluhan pusing saat berdiri tiba-tiba karena jarang makan sayur diberikan edukasi konsumsi sayur, posisi tidur miring kiri, serta PMT dua kali seminggu. Ibu lain usia 38 tahun dengan anemia ringan (HB 11,2) dan KEK mendapat diet tinggi serat dengan porsi kecil sering, serta dibantu aktivitas oleh keluarga. Bayi BBLR dengan berat 2344 gram usia lima hari dirawat dengan metode kanguru, edukasi ASI eksklusif, dan perawatan tali pusat; berat badannya naik menjadi 2450 gram pada 24 April.

Puskesmas Benteng menangani empat kasus. Seorang ibu usia 16 tahun dengan BPJS tidak aktif mendapat bantuan dari pemerintah desa untuk mengurus kepesertaan. Ibu usia 41 tahun dengan diabetes melitus kronik dan hipertensi sejak tiga bulan kehamilan diberi diet rendah garam dan gula, olahraga ringan, kontrol tensi tiap tiga hari, obat antihipertensi dan gula, serta direncanakan SC dan MOW. Kasus riwayat SC tahun 2021 berhasil menjalani SC pada 29 April. Satu kasus berat yaitu BSC dengan CPD, plasenta previa, dan plasenta akreta mendapat kewaspadaan perdarahan, persiapan tujuh kantong donor darah, masuk RSUD 20 April, menjalani SC dan MOW pada 22 April, bayi lahir sehat dengan BB 2200 gram, dan kunjungan rumah dilakukan 7 Mei.

Puskesmas Compang melaporkan ibu G5P3A1 usia 35 tahun dengan riwayat abortus satu kali, SC satu kali, dan paritas lebih dari empat. Diberikan penyuluhan agar melakukan ANC minimal enam kali, USG oleh dokter minimal dua kali (hasil TM1 normal 24 April), dengan kunjungan ulang 1 Juni 2026 dan pendampingan kader kesehatan.

Puskesmas Datak menangani ibu G5P4A0 usia 39 tahun dengan hamil kembar, anemia ringan, sering lelah dan sesak. Ibu diberikan penyuluhan tanda bahaya trimester tiga, minum suplemen, makanan bergizi, istirahat cukup, lalu dirujuk ke RSUD Komodo. Bidan desa melakukan kunjungan rumah setiap minggu.

Puskesmas Golo Mori mencatat ibu G3P1A1 usia 36 tahun dengan riwayat abortus dan skor Pujiroyati 10 (risiko tinggi). Penanganan melalui penyuluhan tanda bahaya trimester dua, minum suplemen teratur, ANC ke dokter spesialis, persalinan di rumah sakit, serta kunjungan rumah jika tidak datang ANC.

Puskesmas Golo Welu melaporkan ibu G3P2A0 usia 25 tahun dengan riwayat SC satu kali, usia kehamilan 36 minggu 5 hari. Diberi penyuluhan tanda bahaya ruptur uteri, anjuran USG trimester tiga pada 12 Mei, serta persiapan transportasi, donor darah, dan tabungan sudah siap.

Puskesmas Kakor memiliki tiga kasus KEK. Ibu dengan LILA 19 cm dan TB di bawah 145 cm usia 26 tahun mendapat PMT tinggi protein dan rujukan USG. Ibu usia 17 tahun diberi penyuluhan kontrol rutin, skrining kesehatan, dan perencanaan KB pasca salin. Ibu lain dengan LILA 21 cm dan BB 46 kg usia 22 tahun mendapat PMT, edukasi gizi, persiapan donor darah, kunjungan rumah rutin, serta usulan PMT dari lintas sektor.

Puskesmas Komodo menangani kasus gawat janin. Ibu G3P2A0 usia 39 tahun mengeluh nyeri perut bawah, gerakan janin berkurang hingga tidak terasa, dengan DJJ 118 kali per menit. Tindakan yang dilakukan: konsultasi dokter umum, pemberian oksigen 3 liter per menit, infus RL, tidur miring kiri, lalu rujukan via perjalanan laut selama tiga jam dengan pemantauan melalui WhatsApp (DJJ membaik menjadi 148-155). Ibu sukses menjalani SC di RSUD Komodo pada 13 Februari, melahirkan bayi laki-laki BB 2381 gram.

Puskesmas Labuan Bajo mencatat dua kasus. Ibu dengan HBsAg reaktif (Hepatitis B) usia 26 tahun mendapat penyuluhan dan dirujuk ke RSUD. Ibu lain usia 27 tahun dengan KEK (LILA turun dari 23 menjadi 22 cm, BB tidak naik) mendapat kunjungan rumah rutin, edukasi gizi, usulan PMT, dan rujukan ke puskesmas.

Puskesmas Lengkong Cepang melaporkan hipertensi kronik dengan jarak kehamilan 1 tahun 8 bulan. Ibu mendapat konsultasi dokter, nifedipine 3×10 mg sejak 10 Desember 2025, USG ke SpOG di RSUD pada 23 Februari 2026, kemudian mendapat aspirin 100 mg dan amlodipine 10 mg, serta evaluasi mingguan oleh bidan desa.

Puskesmas Nanga Terang menangani ibu G5P3A1 usia 39 tahun dengan hipertensi dalam kehamilan terdeteksi usia 9 minggu (TD 150/90). Diberi terapi metyldopa, penyuluhan USG dan persalinan di RS serta KB MOW. Kunjungan rumah 29 April menunjukkan tekanan darah turun menjadi 120/80, dan keluarga diminta memastikan kepatuhan minum obat.

Puskesmas Nangalili memiliki dua kasus riwayat SC. Ibu usia 36 tahun dengan riwayat SC 2022, pusing, TD 129/71, IMT 29,5. Ibu lainnya usia 29 tahun riwayat SC 2023, TD 130/90, IMT 26,5. Keduanya dianjurkan USG TM1 dan TM3, minum TTD teratur, pemantauan via WA bidan desa, serta koordinasi lintas sektor.

Puskesmas Orong melaporkan ibu G2P1A0 dengan riwayat SC satu kali, jarak kehamilan hanya tiga bulan, dan menderita TBC. Ibu mendapat edukasi kehamilan trimester tiga, persiapan persalinan, dan direncanakan istirahat di Labuan Bajo mulai 20 Maret 2026 menunggu persalinan di RS Siloam. Komunikasi dilakukan via telepon, dan lintas sektor memotivasi keluarga.

Puskesmas Pacar menangani ibu G5P4A0 usia 44 tahun dengan hipertensi kronik (TD 140/100) pada usia kehamilan 14 minggu. Konseling tanda bahaya preeklampsia diberikan, keluarga diminta mengambil alih pekerjaan rumah, ibu mendapat terapi dopamet 250 mg, peningkatan ANC, kontrol protein urine, rujukan terencana ke RS, dan kader dilibatkan.

Puskesmas Ranggu mencatat kasus khusus melalui otopsi verbal. Seorang ibu 18 tahun G1P0A0 dengan KEK, USG menunjukkan air ketuban kering dan hidrops fetalis, kemudian dilakukan terminasi. Pasca persalinan terjadi perdarahan, transfusi, kejang, henti jantung, dan ibu meninggal pada 23 Maret 2026 dengan kecurigaan sepsis. Tindak lanjut meliputi otopsi verbal maternal, pelacakan kasus, koordinasi dengan Puskesmas Golo Welu dan RS, peningkatan penyuluhan kesehatan reproduksi di sekolah, serta imbauan pengawasan remaja oleh keluarga.

Puskesmas Rekas melaporkan ibu G4P3A0 usia 39 tahun dengan hipertensi kronis (TD awal 140/80 pada UK 10 minggu) yang mendapat amlodipine 5 mg. Ibu mendapat penyuluhan diet rendah garam, tanda bahaya, dan KB MOW. Pemantauan 27 April 2026 menunjukkan TD 140/90 dengan UK 19 minggu, keluarga memastikan kepatuhan, dan rencana persalinan di RSUD Komodo.

Puskesmas Tentang memiliki dua kasus. Pertama, BSC dengan CPD dan polihidramnion, UK 37 minggu, TBJ 3500 gram. Kunjungan rumah bersama lintas sektor dilakukan, persiapan donor darah dua orang, rencana persalinan di RS, dan ibu berangkat ke Ruteng pada 5 Mei. Kasus kedua, hipertensi kronis dengan usia di atas 35 tahun, paritas lebih dari empat, dan dua kali riwayat BSC, TD 130/90. Pemantauan TD mingguan, metyldopa 3×1, edukasi tanda bahaya preeklampsia, rencana persalinan di RS dan MOW.

Puskesmas Wae Kanta menangani ibu G4P2A1 usia 32 tahun dengan riwayat abortus dan BSC. Hasil USG di RSUD 13 Maret 2026: BB janin 2700 gram, UK 27-28 minggu. Ibu dianjurkan makan sedikit sering, tingkatkan cairan, diberi penyuluhan tanda bahaya TM3, rencana USG ulang 6 Mei, bidan desa mengonfirmasi hasil via telepon, dan kunjungan ulang 12 Mei 2026.

Puskesmas Wae Pitak melaporkan ibu G2P1A0 usia 31 tahun dengan KEK (LILA 21 cm, TB 139 cm, BB 37 kg, UK 6-7 minggu). Konseling gizi seimbang, peningkatan frekuensi makan, rujukan ke petugas gizi untuk PMT, rencana USG TM1 dan triple eliminasi, serta pemantauan minum suplemen oleh keluarga.

Puskesmas Waning mencatat kasus nifas. Ibu post partum dua jam dengan perdarahan postpartum lebih dari 200 cc, TD 90/60 mmHg, HB 9 gr/dl. Tindakan: pemasangan infus RL dua jalur, oksigen 2 lpm, kateter DC, asam traneksamat, konsultasi dokter jaga RSUD Komodo, rujukan segera, dan keluarga diminta menyiapkan calon pendonor darah.

Puskesmas Werang menangani ibu G3P2A0 usia 32 tahun dengan plasenta previa (hasil USG di RSUD Maret 2026). Ibu mendapat penyuluhan tanda bahaya perdarahan, dihindarkan dari hubungan badan dan pekerjaan berat, dianjurkan istirahat cukup, kontrol ulang ke SpOG, serta kader mendampingi bidan dalam kunjungan rumah.

Kesimpulan dan Kebijakan Strategis

Dari 27 kasus yang dilaporkan, program SIMABARESTI dinilai berjalan dengan komitmen tinggi dari seluruh puskesmas, didukung lintas sektor seperti pemerintah desa, kader kesehatan, keluarga, serta rumah sakit rujukan. Kepala Dinas Kesehatan Mabar, Adrianus Ojo, menyampaikan apresiasi sekaligus pesan tegas: “Setiap rencana tindak lanjut harus dikawal secara konsisten dan selalu dikoordinasikan dengan baik. Tidak boleh ada satu pun ibu hamil risiko tinggi yang luput dari perhatian kita. Mari kita wujudkan Manggarai Barat yang bebas kematian ibu dan bayi.”

Hasil evaluasi pada 5 Mei 2026 dan minggu sebelumnya menghasilkan 14 kebijakan strategis, yaitu:

1. Kesiapan nama bayi – Seluruh ibu hamil wajib mencantumkan nama bayi dalam ceklist pra-rujukan.

2. Ceklist persiapan rujukan – Dinkes menyiapkan ceklist yang akan dipantau setiap bulan.

3. Pendataan 3B (Bumil, Busui, Balita) – Wajib disiapkan segera oleh setiap puskesmas.

4. Pemantauan pra-rujukan – BPJS, KK, KTP, pakaian bayi dan ibu wajib siap.

5. Pengisian Buku KIA lengkap – Target April–Desember 2026 oleh seluruh tenaga kesehatan.

6. Ketersediaan reagen dan vaksin – Perencanaan reagen, vaksin HB0 dan HB Ig dipastikan.

7. Pengadaan Buku KIA – Segera dilakukan telaahan staf dan usulan pengadaan.

8. Data calon pendonor darah – Disiapkan oleh puskesmas dan bidan desa setiap kali rujukan.

9. Batas akhir kirim materi presentasi – Paling lambat H-1 pukul 12.00 WITA sebelum pelaksanaan zoom evaluasi.

10. Pemantauan intensif BBLR Puskesmas Compang – Hasil pemantauan wajib dilaporkan pada pertemuan berikutnya.

11. Penyusunan SOP laporan dan presentasi untuk rumah sakit – Dinkes akan menyusun SOP terkait sistematika penulisan laporan dan presentasi khusus bagi rumah sakit rujukan.

12. Dashboard SIMABARESTI – Segera disiapkan untuk tingkat puskesmas dan rumah sakit guna memudahkan monitoring real-time.

13. Rencana Tindak Lanjut (RTL) tertulis – Setiap RTL dikawal dan dikonsolidasikan terus menerus, dibahas di tingkat kepala dinas kesehatan minimal dua hari sebelum SIMABARESTI episode berikutnya.

14. Kunjungan ke RSUD Komodo – Dinkes akan mengunjungi langsung RSUD Komodo untuk memantau perkembangan balita dengan kondisi marasmus dari Puskesmas Compang.

Dengan ditetapkannya 14 kebijakan strategis ini, diharapkan seluruh pihak—puskesmas, rumah sakit, lintas program, lintas sektor, hingga keluarga—dapat bersinergi lebih kuat lagi untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi di Manggarai Barat.***