Penulis : Mathildis Editor : Hans
Labuan Bajo-InfoMabar ; Memasuki minggu ketiga penanganan dampak gempa bumi yang terjadi pada 15 Agustus lalu, Bupati Manggarai Barat NTT Edistasius Endi meminta seluruh jajaran pemerintah daerah mempercepat penanganan korban, menuntaskan pendataan kerusakan, serta memastikan bantuan dan proses pemulihan masyarakat terdampak berjalan tanpa terhambat birokrasi. Ia menegaskan, situasi bencana menuntut kerja cepat, kepedulian, inisiatif, dan tanggung jawab seluruh aparatur.

Hal itu disampaikan Bupati Edi saat memimpin apel kekuatan di halaman Kantor Bupati Manggarai Barat, Senin (07/09/2026).
Dari proses tersebut, ia mengaku menemukan banyak hal yang menjadi bahan refleksi, terutama terkait sikap dan kepedulian aparatur dalam merespons kondisi masyarakat terdampak.
“Kalau kasat mata kita semua menyatakan secara lahiriah kita berempati, tetapi kalau didalami, perilaku dan sikap kalian, saya kok merasa berbeda,” ujar Bupati Edi.
Ia mengatakan, bentuk kepedulian terhadap korban bencana tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk bantuan materi. Menurutnya, kebijakan, kewenangan, dan pola kerja yang dimiliki setiap aparatur juga dapat menjadi bentuk bantuan bagi masyarakat yang sedang mengalami kesusahan.
“Kita ada di barisan mana? Yang tahu hanya diri kita masing-masing,” tegasnya.
Bupati Edi kemudian menyinggung dukungan masyarakat dari Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, yang turut mengambil bagian dalam membantu masyarakat terdampak gempa di Flores. Hal tersebut, menurutnya, harus menjadi bahan introspeksi bagi seluruh jajaran Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat.
“Kalau kita? Yang tahu itu hanya diri kita sendiri,” katanya.
Dalam kondisi bencana, Bupati meminta tidak ada aparatur yang merasa dirinya paling penting sehingga mengabaikan tugas dan tanggung jawab bersama.
“Jangan ada satu orang pun merasa paling penting. Bupati lagi butuh kita,” katanya, sembari menyinggung adanya keluhan dari staf terkait pejabat atau aparatur yang sulit dihubungi ketika dibutuhkan.
Ia mengingatkan agar kebiasaan mematikan telepon seluler atau tidak merespons komunikasi saat dibutuhkan segera dihentikan.
“Kalau memang benar ini, di mana nurani kalian?” tegasnya.
Bupati juga mendorong seluruh perangkat daerah untuk lebih proaktif, kreatif, dan berinisiatif dalam mendukung penanganan bencana. Ia menilai, dalam situasi darurat, pemerintah tidak boleh hanya terpaku pada pola kerja administratif yang membutuhkan waktu panjang.
“Hikmah kedua, tidak pernah muncul namanya inisiatif, kreatif,” ujarnya.
Menurutnya, sejumlah daerah telah mendorong pihak swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) untuk turut membantu masyarakat terdampak bencana. Karena itu, ia mempertanyakan sejauh mana perangkat daerah di Manggarai Barat mampu mengambil inisiatif serupa.
“Sesungguhnya kita ini mati rasa. Kita masih senang dengan pola mengurus administrasi yang begitu lama, padahal sedang butuh saat itu juga,” katanya.
Bupati secara khusus meminta Dinas Cipta Karya mempercepat pekerjaan di lapangan yang berkaitan dengan penanganan dampak gempa.
Ia meminta agar staf yang sedang bekerja di lapangan didorong untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan secepat mungkin sehingga proses administrasi, termasuk penerbitan surat keputusan (SK), dapat segera dilakukan.
“Kita tidak pernah tahu bagaimana kondisi sekarang ini, dengan fiskal daerah yang ada,” ujarnya.
Bupati juga mengingatkan para kepala perangkat daerah agar tidak beranggapan bahwa penanganan bencana bukan merupakan bagian dari tanggung jawab mereka.
Ia menegaskan, penanganan bencana merupakan tanggung jawab bersama, namun di sisi lain tugas-tugas pemerintahan sehari-hari juga tidak boleh ditinggalkan.
“Jangan juga karena urusan bencana ini, tugas harian kita ditinggalkan. Bagaimana kita mengaturnya dengan baik,” katanya.
Terkait penggunaan Belanja Tidak Terduga (BTT), Bupati meminta prosesnya segera dituntaskan dan direncanakan secara tepat.
“Terkait dengan BTT, harus kelar hari ini. Jangan berpikir bahwa ini kita habiskan. Pertanggungjawaban susah, harus direncanakan dengan baik dan benar,” tegasnya.
Bupati menjelaskan, penyelesaian data kerusakan akibat gempa menjadi bagian penting dalam proses penanganan dan pemulihan. Setelah data selesai, pemerintah dapat memastikan kategori kerusakan, baik ringan, sedang maupun berat, sebagai dasar pembangunan kembali rumah masyarakat terdampak.
Ia menyebutkan, secara simbolis Kepala BNPB nantinya akan memberikan bantuan berdasarkan kategori tingkat kerusakan tersebut.
“Kalau saja kita sudahi data kita, maka secara simbolis Kepala BNPB akan memberikan bantuan, mana yang rusak ringan, rusak sedang maupun rusak berat untuk pembangunan rumah,” jelasnya.
Bupati mengakui, proses penanganan bencana memberikan banyak pelajaran sekaligus menjadi momentum untuk melihat karakter dan kapasitas setiap aparatur dalam menghadapi situasi sulit.
“Ini momen sebenarnya untuk mengetahui siapa diri kita,” katanya.
Di akhir arahannya, Bupati kembali menekankan pentingnya disiplin dan kerja keras seluruh jajaran Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat.
“Disiplin, kerja keras tidak boleh luntur. Selamat bekerja dan salam tangguh” pungkasnya



