Penulis : Ferdy Jemaun
Labuan Bajo, InfoMabar,- Untuk mengantisipasi lonjakan sampah dari sektor pariwisata, seperti hotel, restoran, dan kapal wisata, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat bersama IN-FLORES, menggelar kegiatan pelatihan pengolahan sampah yang melibatkan multypihak. Langkah kolaboratif ini diambil guna memastikan pertumbuhan ekonomi dari sektor pariwisata tidak mengorbankan kelestarian lingkungan laut dan daratan Manggarai Barat.
Sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas, Labuan Bajo tengah mengalami pertumbuhan kunjungan wisatawan yang sangat pesat. Namun, lonjakan ini berbanding lurus dengan peningkatan volume timbulan sampah, terutama yang bersumber dari sektor pariwisata seperti hotel, restoran, dan kapal wisata.

Merespons tantangan tersebut, Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Barat menggelar kegiatan “Pelatihan Pengelolaan Sampah Bagi Operator Kapal Wisata dan Pengelola Hotel” yang berlangsung di Ballroom Politeknik eLBajo Commodus, Labuan Bajo, Selasa-Rabu (23-24/06/2026).
Kegiatan strategis ini diselenggarakan dengan dukungan pendanaan dari proyek IN-FLORES (Investing in the Komodo Dragon and Other Globally Threatened Species in Flores). Langkah kolaboratif ini diambil sebagai salah satu upaya untuk memastikan pertumbuhan ekonomi dari sektor pariwisata di Labuan Bajo tidak mengorbankan kelestarian lingkungan laut dan daratan Manggarai Barat.
Sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Manggarai Barat, Martha Alfanita, saat membuka Kegiatan itu menjelaskan bahwa Kegiatan pelatihan ini dapat menjadi ruang belajar bersama untuk perkuat kolaborasi pengelolaan pariwisata Labuan Bajo tanpa sampah.
“Pariwisata telah menjadi penggerak utama ekonomi kita. Kita harus berkomitmen untuk menjual pesona alam yang kita miliki tanpa sampah,” jelas Alfanita.
Pada kesempatan itu, Alfanita juga memaparkan data sampah yang dimiliki pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, yakni mencapai 4.836 ton pertahun. 51,5 peren dari sampah sebanyak itu berasal dari sektor non rumah tangga, seperti hotel, restoran dan kapal wisata.
Untuk menangani sampah itu, lanjutnya, pemerintah daerah telah mempunyai dokumen SSK (Strategi Sanitasi Kabupaten/Kota) yang merupkan dokumen perencanaan yang memuat kebijakan, target, dan strategi komprehensif pembangunan sanitasi daerah, sebagai cetak biru (blueprint) bagi pemerintah daerah untuk menangani sampah, limbah cair, dan drainase secara berkelanjutan.
Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, kata Alfanita, juga telah menyediakan Tempat Pambuangan Akhir (TPA), lengkap dengan tong sampah jalan sebanyak 300 unit diberbagai titik, juga pasukan kuning. Selain itu juga sudah ada regulasi berupa peraturan daerah tentang pengelolaan sampah.
Berbagai kebijakan itu, aku Alfanita, belumlah cukup untuk mengelola sampah agar tidak berdampak buruk terhadap pariwisata.
“Karena itu, melalui kegiatan ini mari kita bangun kesadaran bersama agar tantangan masalah sampah ini dapat kita urai bersama,” ajaknya seraya berterima kasih kepada IN-FLORES yang telah memfasilitasi kegiatan ini.
Sementara itu, Imanudin, dari IN-FLORES dalam sambutannya pada kegiatan itu memberi penegasan bahwa sampah merupakan ancaman serius bagi pariwisata berkelanjutan.

“Sampah ini ancaman serius bagi pariwisata berkelanjutan. Jika tidak segera di kendalikan maka dampaknya akan sangat buruk. Karena itu IN-FLORES mengajak semua pihak untuk bangun ekosistem hijau di Labuan Bajo. Salah satunya dengan pengelolaan sampah,” jelasnya.
Imanudin berharap agar kegiatan pelatihan ini dapat mewujudkan harapan akan keterhubungan antara pihak hotel, restoran dan kapal wisata dalam pengelolaan sampah.
Sejumlah nara sumber yang dihadirkan pada kegiatan ini, antara lain : Kepala Dinas Lingkungan Hidup dengan materi tentang kondisi pengelolaan sampah dan tantangan persampahan di Labuan Bajo, perwakilan WRI Indonesi dengan materi tentang data foot waste dan dampaknya terhadap pariwisata dan ekosistem laut, Idonesia Waste Platform dengan materi tentang isu sampah laut, serta Dultin + UNDP dengan materi tentang digitalisasi pengelolaan sampah.
Dalam pelatihan ini, para pelaku usaha, khususnya operator kapal wisata dan manajemen perhotelan, dibekali dengan pemahaman mendalam mengenai tata kelola sampah yang berkelanjutan, dengan mengurai pemilahan sampah dari sumbernya, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai di atas kapal dan area hotel, hingga mekanisme penyaluran sampah menuju fasilitas pengelolaan tingkat lanjut, yang selama ini telah dilakukan.
Pemerintah Daerah menegaskan bahwa peran aktif para operator kapal dan pengelola akomodasi sangat krusial. Mengingat daya tarik utama Labuan Bajo adalah wisata bahari, pencemaran laut akibat tata kelola sampah yang buruk dinilai dapat menurunkan citra serta daya saing pariwisata daerah di mata internasional.
Melalui sinergi antara Pemkab Manggarai Barat, proyek IN-FLORES, dan para pelaku industri ini, diharapkan tercipta standar operasional baru yang lebih hijau. Upaya ini menjadi komitmen bersama untuk menjaga Labuan Bajo tetap bersih, asri, dan berkelanjutan sebagai destinasi kelas dunia.***


