Asisten Administrasi umum,Setda Mabar , Aloysius Lagi, di terima secara adat Manggarai, di wae Pau Lembor Selatan
Foto : Dispar Mabar
Oleh ; Gonsalez
Editor : Hans
Lembor Selatan : Infomabar – Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat NTT melalui Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Kebudayaan bersama masyarakat adat Kampung Wae Pau Desa Repi Kecamatan Lembor Selatan menggelar tradisi Randang Uma pada 20 hingga 21 April 2026.
Randang uma bukan sekadar seremonial tahunan, Randang Uma hadir sebagai kompas budaya masa depan—sebuah peneguh jati diri Manggarai di dunia yang terus berubah cepat.
Asisten Administrasi umum Sekretariat Daerah Kabupaten Manggarai Barat, Aloysius Lahi, yang hadir mewakili Bupati, menegaskan bahwa tradisi ini bukanlah peninggalan masa lalu yang usang.
“Randang Uma bukan sekadar seremonial belaka, bukan pula budaya masa lalu. Ini adalah kompas budaya masa depan,” tegasnya.
Ia berpesan kepada seluruh warga Kampung Wae Pau agar terus menjaga sakralitas adat, kenyamanan bersama, dan menjadikan tradisi ini sebagai berkat bagi kampung serta memperkokoh budaya Manggarai di mata dunia.
Kepala Bidang Kebudayaan dan Kesenian, Fransiskus Selmans, kepada media Infomabar menjelaskan 3 nilai luhur yang terkandung dalam Randang Uma:
Pertama Frans menjelaskan , Identitas Budaya Manggarai Randang Uma telah ditetapkan sebagai Objek Pemajuan Kebudayaan dalam Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) dan Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2025.
“Randang Uma adalah jati diri kita yang wajib dilindungi, dikembangkan, dan dimanfaatkan bersama. Kegiatan di Wae Pau ini adalah yang pertama kali diselenggarakan pasca penetapan perda tersebut,” ujar Fransiskus.
Yang ke dua randang Uma adalah Ungkapan Syukur, Tradisi ini menjadi ruang untuk berterima kasih kepada Tuhan, alam, leluhur, dan sesama yang bahu-membahu dari menanam, merawat, hingga memanen.
Dan yang ketiga randang Uma merupakan Kekuatan Pariwisata Budaya Di zaman modern, wisatawan tidak hanya mencari pemandangan, tetapi juga pengalaman otentik.
Kepala bidang Kebudayaan Dinas pariwisata Ekonomi kreatif dan kebudayaan kabupaten Manggarai Barat Fransiskus selmas , saat saat melakukan pukulan pembukaan atraksi caci Foto : Dispar Mabar
“Randang Uma menawarkan ritual sakral, musik, tarian Caci, serta keramahan dan kebersamaan orang Manggarai. Ini adalah paket lengkap ekowisata berbasis budaya,” jelasnya.
Fransiskus menambahkan bahwa tugas bersama adalah mengemas tradisi ini tanpa menghilangkan maknanya. Dengan begitu, adat tetap terjaga, dan ekonomi masyarakat ikut bergerak.
Kegiatan Randang Uma di Gendang Wae Pau diisi dengan berbagai ritual adat, pementasan Caci, dan jamuan bersama—sebagai wujud syukur masyarakat dalam merawat budaya yang berdaya dan berkelanjutan.