Penulis : Sebinus Abel Editor : Ferdy Jemaun
Labuan Bajo, InfoMabar,- Semenjak diluncurkannya program Skrining Kesehatan Gratis (SKG) oleh pemerintah pusat pada Februari 2025 yang lalu, UPTD Puskesmas Labuan Bajo menggencarkan PKG (Program Hasil Terbaik Cepat/PHTC) di sejumlah titik. Sayangnya, minat masyarakat masih rendah. Puskesmas Labuan Bajo-pun siap jemput bola, agar jangkaun PKG semakin luas.
Demikian penjelasan Kepala UPTD puskesmas Labuan Bajo, Ny. Relitasi Goreti Ilut, saat dihubungi Info Mabar melalui telepon, belum lama ini. Ia mengakui bahwa semenjak diluncurkanya program hasil terbaik cepat (PHTC) sampai sekarang, minat masyarakat terhadap program Cek Kesehatan Gratis/PKG masih sangat rendah, jika dibandingkan kapasitas layanan di puskesmas saat ini.

“Respon masyarakat terhadap program PKG sejauh ini belum bisa dibilang baik dengan melihat partisipasi mereka dengan beberapa kegiatan yang kami lakukan baik didalam gedung maupun diluar Gedung. Antusiasme masyarakat masih sangat kurang,” aku Ny. Relitasi.
Ketika ditanya tentang penyebab, mengapa minat masyarakat untuk mengikuti PKG ini masih rendah? Relitasi enggan berspekulasi terlalu jauh. Tapi dari desas desus yang pernah ia dengar, banyak masyarakat yang takut menjalani pemeriksaan karena takut penyakitnya terdeteksi.
“Banyak yang takut. Mereka tidak mau penyakitnya terdeteksi. Padahal itu tujuan utama kita. Agar jika terdeteksi, maka segera dicarikan solusi pengobatan,” akunya.
Terkait minimnya minat masyarakat untuk cek kesehatan gratis ini, Relitasi Bersama timnya di Puskesmas Labuan Bajo akan melakukan strategi dengan membuka akses seluas-luasnya, dengan metode jemput bola ke tingkat desa/RT agar lebih mudah menyentuh sasaran.
“Yang kami lakukan sekarang adalah membuka akses pelayanan seluas-luasnya untuk memudahkan akses bagi masyarakat agar bisa kontak lebih dekat dengan pelayanan kesehatan, dengan cara identifikasi masalah dimulai dari evaluasi terhadap partisipasi masyarakat melalui upaya kesehatan berbasis masyarakat seperti posyandu yang sekarang dikenal dengan posyandu siklus hidup. Bekerja sama dengan jejaring desa, Pustu dan poskesdes titik lokasi yang kurang terlibat dalam pelayanan,” ujarnya.
Relitasi menjelaskan bahwa penyelenggaraan pelayanan PKG dilakukan dengan beberapa macam skrining, seperti : Skrining Deteksi Dini Penyakit & Risiko: Fokus pada pemeriksaan tekanan darah, gula darah, fungsi ginjal, dan deteksi dini kanker leher rahim serta HIV.
Pemeriksaan Kesehatan Fisik : termasuk pengukuran pertumbuhan (berat dan tinggi badan) untuk balita, kesehatan mata, telinga, dan pemeriksaan kesehatan mental.
Pendekatan Siklus Hidup: Skrining terintegrasi untuk bayi, balita, ibu hamil, remaja, dewasa, hingga lansia.
Mengenai kualitas layanan dan ketersediaan tenaga medis, Kepala UPTD yang biasa disapa Ny. Rita ini mengatakan bahwa manajemen SDM serta sarana dan prasarana yang tersedia tidak mengalami kesulitan.
“Dengan tata kelola yang ada mulai manajemen sumber daya manusia dengan kompetensi yg dimiliki, sarana prasarana yang tersedia dan ketersediaan bahan habis pakai medis melalui perencanaan yang baik kami tidak mengalami kesulitan,” jelasnya.
Ia berharap agar semua sasaran siklus hidup dapat terdeteksi lebih awal kesehatannya sehingga yang sehat tetap sehat. Harapan lain adalah semua masyarakat sudah kontak dengan petugas kesehatan minimal satu kali dalam satu tahun


