Kamis, Juni 4, 2026
BerandaBerita TerkiniSosialisasi KUR, Menteri UMKM RI : Pendekatan Pemberdayaan Tak Bisa Diukur Dari...

Sosialisasi KUR, Menteri UMKM RI : Pendekatan Pemberdayaan Tak Bisa Diukur Dari Anggaran Saja

Penulis : Gonsalez & Gery Baha 
Editor : Ferdy Jemaun

Labuan Bajo, Info Mabar,- Ketika berbicara tentang pemberdayaan, yang diperlukan adalah semangat kolektif kolegial. Penedekatanya tidak bisa hanya diukur dari seberapa banyak anggaran yang digelontorkan.

Penegasan ini disampaikan Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) RI, Maman Abdurrahman, dalam sambutannya pada kegiatan Akad Massal dan Sosialisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) serta penandatanganan Perjanjian Kerjasama Pembiayaan (PKP) KUR tahun 2026, yang berlangsung di aula Kantor Bupati Manggarai Barat,  Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Selasa (28/04/2026).

Menteri UMKM, Maman, saat menyampaikan sambutan. (Foto : Afri/Prokopim)

Maman menyebut bahwa jika hanya dilihat dari nilai anggaran, kementeriannya tidak sebanding dengan yang lain.

“Kalau dilihat dalam konteks nilai anggaran, tentunya tidak sebanding dengan kementerian yang lain. Tapi perspektif Kementerian UMKM bukan perspektif barang atau item. Pendekatan kami adalah pendekatan pemberdayaan,” ujar Maman di hadapan para pengusaha UMKM.

Dia menjelaskan bahwa ketika berbicara tentang pemberdayaan, yang diperlukan adalah semangat kolektif. Sebagai contoh, Maman mengungkapkan bahwa Bank NTT yang sempat berhenti menyalurkan KUR selama sekitar enam tahun, kini kembali berfungsi berkat dorongan gubernur dan sinergi berbagai pihak. Tahun ini, Bank NTT akan menyalurkan KUR kurang lebih sebesar Rp350 miliar.

Namun, Maman mengingatkan bahwa program ini tidak akan berarti, tanpa semangat dari para pengusaha mikro untuk bangkit dan berusaha lebih baik. “Kalau misalnya hanya ada kekuatan semangat dari kepala daerah, misalnya Bupati Manggarai Barat berkeinginan ada 7.000 pengusaha mikro yang bisa mendapatkan KUR, tapi tidak disambut dengan semangat dari 7.000 pengusaha mikronya, saya pikir ini menjadi sia-sia,” tegasnya.

Maman juga menyampaikan apresiasinya kepada Gubernur NTT yang dinilainya luar biasa. Meski sempat mengalokasikan target hingga Rp1 triliun untuk Bank NTT, pihaknya memutuskan untuk mendorong terlebih dahulu sekitar Rp350 miliar sebagai tahap awal. “Jangan sampai kita dorong langsung terlalu besar, nanti malah kaget bank NTT-nya sendiri,” katanya.

Menteri Maman memberikan pesan khusus kepada para penerima KUR agar disiplin menggunakan pinjaman untuk modal usaha. Dia mengilustrasikan bahwa sering terjadi di berbagai wilayah Indonesia, penerima KUR dengan bunga 6 persen (jauh lebih rendah dari bunga normal 14-15 persen) justru menggunakan uang pinjaman untuk keperluan konsumtif.

“Saya ingin sampaikan, dapat pinjaman itu rasanya enak. Tapi jangan sampai pulang ke rumah, istri dengar suami dapat pinjaman, lalu bilang ‘Papa, beliin tinju ya, Papa’. Bukan untuk modal usaha. Ini ilustrasi yang sering terjadi,” ungkapnya.

Maman mengingatkan bahwa KUR adalah ruang dan kesempatan yang diberikan pemerintah di era kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto bagi masyarakat yang benar-benar ingin membuat masa depan lebih baik. “Manfaatkan betul-betul program KUR ini, jangan disia-siakan. Karena kalau gagal bayar, kalian akan langsung masuk daftar hitam di Bank Indonesia,” peringatannya.

Dia menyerukan para penerima KUR, terutama ibu-ibu, untuk kuat menghadapi godaan, baik dari keluarga maupun rayuan anak. “Kuncinya harus kuat. Program KUR ini seperti satu titik cahaya di dalam ruang gelap. Lebih baik kita menjadi satu titik cahaya kecil di dalam ruang gelap, jangan sampai kita menjadi satu titik kegelapan di dalam ruang cahaya,” pesannya.

Gubernur NTT: KUR Instrumen Penggerak Ekonomi Kerakyatan

Pada kesempatan yang sama, Gubernur NTT, Melki Lana Lena, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kehadiran Menteri UMKM sekaligus diaktifkannya kembali Bank NTT sebagai penyalur KUR. Gubernur menegaskan bahwa KUR harus menjadi instrumen penggerak ekonomi kerakyatan.

Gubernur NTT, Melki Laka Lena, saat menyampaikan sambutan. (Foto : Afri/Prokopim)

“Bung Karno kuat di demokrasi politik: satu orang kaya di Jakarta sama harga suaranya dengan satu orang paling miskin di Manggarai Barat. Tapi menyangkut sila kelima, khususnya bidang ekonomi, pemusatan kekuatan uang masih terlalu kuat di sekelompok orang,” ujar gubernur.

Dia menambahkan, ekonomi kerakyatan menjadi salah satu cara untuk mendistribusikan agar lebih banyak orang bisa berproduksi dan menikmati kue pembangunan. “Sila kelima kita adalah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Problem utamanya adalah distribusi ekonomi belum berjalan dengan baik. Ini bagian dari kita mendistribusikan keadaan ekonomi,” tandasnya.

Kegiatan yang berlangsung di Labuan Bajo ini turut dihadiri Bupati Manggarai Barat Edi Endi, Direktur Utama PT BPD NTT Charly Paulus, serta perwakilan lembaga penyalur seperti Bank BRI, Bank Mandiri, Pegadaian, serta lembaga penjamin Askrindo dan Jamkrindo. Acara ini merupakan sosialisasi KUR ketiga setelah sebelumnya digelar di Purworejo dan Sumatera Utara.

Sebanyak 250 pengusaha UMKM di Kabupaten Manggarai Barat yang bergerak di bidang kuliner dan handicraft mengikuti akad massal pada hari ini. Selain itu, tersedia pula coaching clinic pembiayaan bagi UMKM yang ingin berkonsultasi langsung dengan lembaga pembiayaan.

Kementerian UMKM menargetkan peningkatan rasio kredit UMKM hingga 25 persen pada tahun 2029. Saat ini angkanya baru sekitar 17-18 persen. Dengan bergabungnya Bank NTT, total penyalur KUR di Indonesia kini menjadi 42 bank. Ke depan, menyusul Bank BPD Maluku Utara dan Bank BPD NTB Syariah.***

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments