Penulis : Gonsalez Editor : Ferdy Jemaun
Labuan Bajo, InfoMabar,- Bagi masyarakat Manggarai Raya, perubahan iklim adalah ancaman nyata terhadap lumbung pangan dan ruang hidup. Menjawab tantangan ini, Sekretariat Bersama (Sekber) Pembangunan Berketahanan Iklim (PBI) Manggarai Raya resmi menyepakati langkah strategis kolaboratif untuk memperkuat daya tahan wilayah.
Sekber PBI yang anggotanya terdiri dari 3 Kabupaten ‘sekandung’, yakni : Manggarai, Manggarai Barat dan Manggarai Timur, bertemu dalam satu wadah Focus Group Discussion (FGD) di Labuan Bajo. Satu hal yang menjadi topik pembahasan, yakni : upaya mitigasi dan adaptasi dampak perubahan iklim.

Kegiatan ini berlangsung selama 2 hari, yakni : Senin dan Selasa, 09-10 Maret 2026, di Rumah Unio Keuskupan Labuan Bajo.
Sekretaris Daerah Kabupaten Manggarai Barat, Fransiskus Sales Sodo, membuka kegiatan ini dengan penegasan bahwa untuk mewujudkan sistem pangan yang tangguh di Manggarai Raya, butuh sinergi lintas sektor.
Baca : Buka FGD Tentang Sistem Pangan di Manggarai Raya, Sekda Mabar : Kita Tidak Bisa Bekerja Sendiri
Kegiatan FGD itu melahirkan sejumlah poin kesepakatan. Bukan sekadar seremonial, kesepakatan ini menjadi kompas baru bagi pembangunan berkelanjutan di tiga kabupaten itu.
Pilar utama dalam kesepakatan ini adalah penguatan basis data. Selama ini, masyarakat sering kali terlambat mengantisipasi anomali cuaca karena keterbatasan akses informasi. Sekber PBI berkomitmen untuk melakukan pengumpulan dan penyebarluasan data perubahan cuaca secara real-time kepada masyarakat akar rumput.
Tak hanya berhenti di angka-angka, data tersebut akan diolah menjadi integrasi pemetaan wilayah. Dengan memetakan zona rawan bencana dan potensi sumber daya secara presisi, pemerintah daerah dapat mengambil kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy) dalam menentukan arah pembangunan infrastruktur dan zonasi pertanian.
Manggarai Raya memiliki segudang praktik baik dalam menjaga alam, namun sering kali terserak tanpa dokumentasi yang memadai. Sekber PBI kini mengambil peran sebagai kurator untuk mendokumentasikan praktik baik dari berbagai pihak—mulai dari konservasi mata air hingga pola tanam adaptif.
Upaya ini diperkuat dengan pembangunan jejaring multi-aktor. Perjuangan melawan krisis iklim tidak bisa dilakukan oleh pemerintah sendirian. Oleh karena itu, kolaborasi ini secara resmi melibatkan jejaring multy actor, yakni :
- Akademisi dan Peneliti: Sebagai penyedia inovasi dan analisis ilmiah.
- LSM/NGO: Sebagai pendamping masyarakat di lapangan.
- Pemerintah dan Sektor Swasta: Untuk dukungan sumber daya dan keberlanjutan ekonomi.
Satu poin krusial yang disepakati adalah penyediaan infrastruktur distribusi. Ketahanan iklim tidak akan tercapai jika akses terhadap sarana pendukung—baik itu air bersih, benih unggul, maupun jalur logistik—terhambat saat bencana terjadi. Infrastruktur ini dirancang untuk menjadi urat nadi yang menjamin kelangsungan hidup warga di tengah situasi ekstrem.

Kegiatan strategis ini ditutup secara resmi oleh Kepala Bappeda Manggarai Barat, Peter A. Rasyid. Dalam sambutannya, Kaban Peter menekankan bahwa Sekber PBI adalah wadah vital untuk memastikan anak cucu di Manggarai Raya tetap bisa menghirup udara segar dan memanen hasil bumi di masa depan.
“Ini bukan hanya soal menanam pohon, tapi soal bagaimana kita mengintegrasikan data, teknologi, dan kerja sama manusia untuk menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian,” tegasnya.
Dengan berakhirnya pertemuan yang difasilitasi oleh Konsorsium Pangan Bernas ini, langkah nyata kini ditunggu. Manggarai Raya sedang bersiap, bukan untuk sekadar bertahan, tapi untuk tangguh menghadapi perubahan iklim.***


