Kamis, Juni 4, 2026
BerandaBerita TerkiniRiset Kolaborasi, Tiga Universitas Kaji Ketahanan Pariwisata Kepulauan di Labuan Bajo

Riset Kolaborasi, Tiga Universitas Kaji Ketahanan Pariwisata Kepulauan di Labuan Bajo

Penulis : Ferdy Jemaun

Labuan Bajo, InfoMabar,- Tiga perguruan tinggi besar di Indonesia, yakni Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Hasanuddin (Unhas) Makasar, dan Universitas Terbuka (UT), resmi memulai penelitian kolaboratif yang bertujuan memperkuat ketahanan pariwisata di wilayah kepulauan. Riset ini difokuskan di Labuan Bajo, salah satu Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Super Prioritas, dengan sorotan utama pada isu pengelolaan sampah dan peran para pemangku kepentingan (stakeholder).

Penelitian ini merupakan bagian dari Riset Kolaborasi Indonesia (RKI) 2025 yang menggabungkan keahlian lintas disiplin dari tiga universitas. Dari Universitas Negeri Malang, tim dipimpin oleh Ardyanto Tanjung dengan anggota Bagus S.W., Ike S.A., Rudi H., dan Moch Tri Herwanto.

Tim Peneliti bersama Kadis LHP Mabar saat berada di Labuan Bajo. (Foto : Ist.)
Tim Peneliti bersama Kadis LHP Mabar saat berada di Labuan Bajo. (Foto : Ist.)

Tim ini berkolaborasi dengan peneliti dari Unhas Makasar, yang memiliki fokus pada kebijakan dan regulasi lingkungan, serta peneliti dari UT yang mengkaji pendekatan edukasi dan kesadaran masyarakat.

“Labuan Bajo memiliki keindahan yang luar biasa dan daya tarik wisata kelas dunia. Namun, pertumbuhan pariwisata yang pesat membawa tantangan serius, terutama dalam hal pengelolaan sampah. Penelitian ini akan memetakan peran semua pihak dan mencari solusi kolaboratif yang berbasis pada prinsip ekonomi sirkular,” jelas Ardyanto Tanjung, Ketua Tim Peneliti dari UM, .

Ia menambahkan, “Kami ingin memastikan bahwa rekomendasi dari penelitian ini dapat diterapkan dalam kebijakan lokal maupun nasional, sehingga manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat dan pelaku pariwisata.”

Menurutnya, perubahan perilaku masyarakat dan pelaku industri wisata sangat menentukan keberhasilan pengelolaan sampah.

“Edukasi lingkungan harus menjadi bagian integral dari strategi ketahanan pariwisata,” tegasnya.

Riset ini akan berlangsung sepanjang tahun 2025, dengan tahapan meliputi pengumpulan data lapangan, wawancara mendalam dengan stakeholder, pemetaan rantai pengelolaan sampah, dan analisis model kolaborasi yang efektif. Hasil akhir penelitian diharapkan menjadi rekomendasi kebijakan sekaligus panduan implementasi yang dapat direplikasi di daerah wisata kepulauan lain di Indonesia.

Labuan Bajo, yang menjadi pintu gerbang menuju Taman Nasional Komodo, tapi juga menjadi pintu keluar sampah dari aktifitas wisatanya saat ini menghadapi tekanan besar akibat peningkatan jumlah wisatawan. Tanpa pengelolaan limbah yang efektif, risiko terhadap lingkungan dan keberlanjutan destinasi semakin besar. Melalui penelitian kolaboratif ini, diharapkan akan terwujud sinergi antara pemerintah, pelaku industri, masyarakat, dan lembaga pendidikan dalam menjaga Labuan Bajo sebagai destinasi kelas dunia yang bersih dan berkelanjutan.***

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments