Home Berita Terkini Penyandang Disabilitas Mandiri Melalui Pendidikan

Penyandang Disabilitas Mandiri Melalui Pendidikan

0
21
Kepala SLBN Komodo (kedua dari kanan foto) berfoto bersama guru dan pendamping. (Foto: Dok.SLBN Komodo)
Penulis : Mathildis Riberu 
Editor  : Hans

Labuan Bajo – InfoMabar; Pendidikan menjadi kunci penting dalam membangun kemandirian anak penyandang disabilitas. Melalui pendidikan yang tepat dan pendampingan yang berkelanjutan, anak-anak difabel dapat mengembangkan kemampuan diri, menggali bakat, serta mempersiapkan diri untuk hidup mandiri di tengah masyarakat.

Kepala Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Komodo, Yosep Min Palem,mengatakan, salah satu ciri khas pendidikan di SLB adalah adanya program khusus yang disesuaikan dengan jenis ketunaan masing-masing peserta didik. Program tersebut dirancang untuk membantu anak-anak berkebutuhan khusus agar mampu mengurus dirinya sendiri dalam kehidupan sehari-hari.

Kepala SLBN Komodo (kedua dari kanan foto menggunakan topi re’a) berfoto bersama guru dan pendamping. (Foto: Dok.SLBN Komodo)

“Dengan program khusus, anak-anak berkebutuhan khusus dapat membantu dirinya sendiri. Misalnya bisa mandi sendiri, mengurus kebutuhan di toilet, menyikat gigi, memakai kaus kaki, memakai sepatu, dan berbagai aktivitas sehari-hari lainnya,” jelas Yosep.

Dijelaskannya lagi bahwa dengan pendidikan, mereka dapat mengembangkan kemampuan diri yang ada untuk kehidupan sehari-hari sehingga dapat membantu diri mereka sendiri secara mandiri.

Kepada Infomabar pada Senin 8 Juni 2026 Yos Min Palem menjelaskan , pola pembelajaran di SLBN Komodo dirancang untuk menyeimbangkan antara pembelajaran di kelas dan pengembangan keterampilan. Kegiatan belajar mengajar di dalam kelas dilaksanakan setiap hari Senin dan Selasa, sedangkan mulai Rabu hingga Sabtu para siswa mengikuti pelatihan di ruang keterampilan sesuai kemampuan dan minat masing-masing.

Proses belajar mengajar di dalam ruangan kelas SLBN Komodo. (Foto: dok.SLB N Komodo)

Keberhasilan program tersebut terlihat dari sejumlah alumni yang kini mampu hidup mandiri melalui keterampilan yang diperoleh selama bersekolah. Salah satunya adalah Riko, lulusan SMALB yang kini dikenal sebagai penjahit sepatu di Pasar Batu Cermin, Labuan Bajo.

Menurut Yosep, saat masih bersekolah, Riko mendapatkan pendampingan dan pelatihan menjahit sepatu. Keterampilan itu kemudian terus dikembangkan hingga menjadi sumber penghasilan baginya.

“Dulu Riko didampingi dalam menjahit sepatu. Sudah beberapa tahun terakhir ia memiliki stan di Pasar Batu Cermin untuk menjahit sepatu. Sepulang sekolah, ia hanya pulang makan di rumah lalu kembali ke pasar untuk menjahit sepatu milik pelanggan yang rusak. Dari situ ia mendapatkan penghasilan sendiri,” tutur Yosep.

Meski demikian, Yosep mengakui bahwa tantangan dalam pendidikan anak disabilitas masih ada, terutama terkait harapan sebagian orang tua yang menginginkan anak mereka segera mampu membaca dengan lancar.

“Tantangan yang mereka hadapi itu dari orang tua yang berharap bahwa ke sekolah pasti harus bisa lancar membaca. Tetapi sekarang sudah ada dukungan dari orang tua masing-masing,” jelasnya.

Pelatihan ketrampilan bagi anak-anak difabel di SLBN KOMODO. (Foto: dok.SLBN Komodo)

Untuk membangun sinergi antara sekolah dan keluarga, pihak sekolah secara rutin melakukan asesmen dan komunikasi dengan orang tua agar proses pendampingan anak dapat berjalan secara optimal.

“Cara membangun kerja sama antara sekolah dan orang tua biasanya kami adakan asesmen sehingga dapat membangun komunikasi yang baik dengan orang tua,” tambah Yosep.

Keberhasilan pendidikan dan pendampingan di SLBN Komodo juga tercermin dari sejumlah kisah inspiratif para siswanya. Salah satunya adalah Roy, seorang penyandang tunarungu yang kini mampu menghasilkan karya seni lukis yang bernilai ekonomi.

“Ada anak yang bernama Roy yang merupakan anak tunarungu, bisu, dan tuli, tetapi sekarang sudah bisa melukis dan menghasilkan uang. Ia juga sering diundang untuk melukis di berbagai kegiatan,” ungkap Yosep.

Selain Riko dan Roy, ada pula Audy, seorang penyandang tunanetra yang memiliki bakat menyanyi. Berkat pembinaan yang diterimanya, Audy kini mampu menghasilkan pendapatan dari kemampuan bernyanyinya.

“Ada juga Audy yang tunanetra yang bisa menyanyi dan sekarang bisa menghasilkan uang dari bakatnya. Mereka membanggakan kami karena ternyata mereka memiliki kemampuan tersebut,” katanya.

Yosep berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap pendidikan anak penyandang disabilitas di Kabupaten Manggarai Barat, termasuk dengan membuka sekolah luar biasa di wilayah-wilayah lain agar akses pendidikan semakin mudah dijangkau.

“Harapan kami kepada pemerintah agar bisa membuka lagi sekolah luar biasa lainnya di Manggarai Barat ini,” ujarnya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk tidak menyembunyikan anak-anak penyandang disabilitas dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk memperoleh pendidikan yang layak.

“Jangan sembunyikan anak-anak difabel. Bawa mereka ke sekolah khusus ini. Setiap anak punya potensi, mereka hanya membutuhkan pendampingan untuk menemukan bakat mereka. Apa pun keadaannya, mereka masih bisa berguna bagi sesamanya,” tutup Yosep.

Kisah Riko, Roy, Audy, dan puluhan siswa lainnya menjadi bukti bahwa pendidikan bukan hanya tentang kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Lebih dari itu, pendidikan menjadi jalan bagi anak-anak penyandang disabilitas untuk menemukan potensi, membangun kepercayaan diri, dan meraih kemandirian.