Penulis : Gonsalez Editor : Ferdy Jemaun
Labuan Bajo, InfoMabar,- Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat berencana merelokasi warga dari dua desa yang dinilai berada di wilayah yang tidak lagi nyaman untuk dijadikan permukiman, pascagempa bermagnitudo 7,7 SR. Relokasi dilakukan sebagai langkah pemerintah untuk mengurangi risiko lanjutan.
Hal tersebut disampaikan Bupati Manggarai Barat, Edistasius Endi, saat menyerahkan bantuan dari PT Freeport Indonesia di Kampung Roe, Desa Cunca Lolos, Kecamatan Mbeliling, Selasa (01/09/2026) sore.

“Saya bukan orang Geologi. Tapi realnya, secara kasat mata, saya melihat bukan hanya rumahnya yang dibangun kembali, tetapi perkampungan mereka juga harus dipindahkan,” ujar Bupati Edi.
Dua wilayah yang rencananya akan direlokasi masing-masing berada di Desa Racang Welak, tepatnya Kampung Wae Dangka, serta Desa Robo, Kampung Robo. Kedua wilayah tersebut berada di Kecamatan Welak.
Berdasarkan data yang diperoleh dari Aplikasi Posko Bencana Manggarai Barat, untuk Desa Robo, terdapat 166 rumah dalam kondisi rusak berat, 8 rusak sedang. Sedangkan di Desa Racang Welak ada 22 rumah rusak berat, 10 rusak sedang dan 102 rusak ringan.
Menurut Bupati Edi, relokasi permukiman menjadi prioritas Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat sebelum membangun kembali berbagai fasilitas umum di kawasan tersebut.
Setelah nanti proses pemindahan warga selesai, lanjutnya, pemerintah akan memikirkan pembangunan fasilitas pendukung, mulai dari gedung kesehatan, jalan dan jembatan, hingga penyediaan akses air minum bersih.
Bupati Edi menegaskan bahwa keputusan relokasi tidak hanya berkaitan dengan kenyamanan warga, tetapi terutama menyangkut aspek keselamatan.
Apabila masyarakat tetap bertahan di wilayah yang berdasarkan kajian pemerintah dinilai tidak aman, maka risiko terhadap keselamatan jiwa dapat meningkat, khususnya apabila terjadi gempa susulan.
Kondisi bangunan yang telah mengalami kerusakan juga dapat menjadi ancaman. Struktur bangunan yang melemah berpotensi mengalami keruntuhan apabila kembali diguncang gempa.
Selain itu, kondisi pascagempa dapat meningkatkan risiko terjadinya longsor atau runtuhan material di wilayah yang memiliki kondisi tanah dan lereng yang rentan. Ancaman tersebut dapat membahayakan warga, terutama ketika mereka melakukan aktivitas sehari-hari maupun saat terjadi gempa susulan.
Dari sisi keamanan lingkungan, kerusakan jalan, dan fasilitas umum lainya juga dapat menghambat proses evakuasi serta memperlambat datangnya bantuan apabila terjadi keadaan darurat.
Akses air bersih dan fasilitas kesehatan yang terganggu juga berpotensi menimbulkan persoalan lanjutan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan warga yang membutuhkan layanan kesehatan.
Karena itu, relokasi diharapkan bukan sekadar memindahkan tempat tinggal warga, tetapi menjadi bagian dari upaya Pemkab Manggarai Barat untuk menciptakan kawasan permukiman yang lebih aman, sekaligus memastikan masyarakat tetap memperoleh akses terhadap fasilitas dasar.
Setelah kelak permukiman baru tersedia, pembangunan fasilitas umum akan dilakukan secara bertahap guna mendukung kehidupan masyarakat di lokasi relokasi.
Langkah tersebut diharapkan dapat memberikan kepastian tempat tinggal sekaligus mengurangi potensi risiko keselamatan warga akibat kondisi wilayah pascagempa.***


