Penulis : Ferdy Jemaun
Labuan Bajo, InfoMabar,- Pasca guncangan gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang kawasan Flores pada 15 Agustus lalu, Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Barat mencatat sebanyak 1.979 pasien telah mendapatkan pelayanan medis di seluruh fasilitas kesehatan yang ada di wilayah tersebut.
“Selama periode 15–24 Agustus 2026, total 1.979 pasien telah dilayani di 26 puskesmas dan RSUD Komodo,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Barat, Theresia P. Asmon, kepada media ini, Selasa (25/08/2026) siang.

Kadis Theresia menjelaskan, ribuan pasien tersebut tidak hanya berasal dari wilayah Manggarai Barat, tetapi juga menampung rujukan dari kabupaten tetangga. “Ya, termasuk rujukan dari luar, seperti dari Manggarai Timur. Sampai hari ini sudah ada sebanyak 19 orang pasien rujukan dari Matim,” terangnya.
Berdasarkan data rekapitulasi penanganan, penderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi kasus terbanyak yang ditangani tim medis, yakni mencapai 671 kasus. Urutan selanjutnya didominasi oleh penderita Hipertensi sebanyak 590 kasus, Pernapasan dan THT sebanyak 292 kasus, Pencernaan 269 kasus, LBP 260 kasus, Nyery Otot 225 kasus, dan sejumlah kasus lainnya.
Meski demikian, pihak Dinas Kesehatan menyadari angka tersebut belum merefleksikan keseluruhan kondisi di lapangan. Faktor geografis dan keterbatasan akses transportasi diduga menjadi hambatan utama sebagian warga terdampak dalam menjangkau fasilitas kesehatan.
“Tim kami mengalami kesulitan untuk melakukan pendataan pasien terdampak yang berada di daerah terpencil. Angka ini kemungkinan masih di bawah kenyataan sesungguhnya,” ujar Theresia.
Menyikapi kendala ini, Kadis Kesehatan mengimbau masyarakat yang membutuhkan penanganan medis akibat dampak bencana untuk aktif menyampaikan laporan mandiri melalui media komunikasi yang paling terjangkau, seperti platform media sosial.
“Silakan laporkan melalui media sosial, seperti Facebook atau saluran lain yang mudah dijangkau. Jika warga terdampak tidak bisa melapor sendiri, minimal diposisikan oleh keluarga dekat yang berada di lokasi dengan jaringan internet memadai. Kami dari Dinas Kesehatan akan langsung menelusuri. Prinsip utamanya, jangan sampai ada korban yang tidak terlayani,” tegasnya.
Terkait kondisi sarana prasarana pascabencana, seluruh fasilitas puskesmas yang mengalami kerusakan bangunan skala sedang hingga berat dipastikan tetap menjalankan operasional pelayanan melalui tenda darurat. Keberlanjutan pasokan obat esensial dan alat kesehatan di lokasi pengungsian terus dipantau dan didukung penuh oleh Kementerian Kesehatan RI beserta berbagai sumber donasi.
Sebagai langkah percepatan jangkauan, tim medis penelusur yang diperkuat oleh 3 relawan dokter dari Polri kini mulai diterjunkan langsung ke wilayah-wilayah pelosok. Selain pelayanan fisik, Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Barat juga terus membuka ruang sinergi bagi para relawan yang memiliki keahlian di bidang layanan kesehatan jiwa dan dukungan psikososial (trauma healing) untuk mendampingi para pengungsi di berbagai titik posko penampungan.
“Untuk layanan kesehatan jiwa dan dukungan psikososial (trauma healing) kami sangat membutuhkan bantuan Relawan untuk melakukan pelayanan di titik-titik pengungsian,” tutupnya.***


