Rabu, Juni 3, 2026
BerandaBerita TerkiniMenjaga Keseimbangan Ekonomi dan Ekologi di TNK, Sinergi Menjadi Titik Kunci

Menjaga Keseimbangan Ekonomi dan Ekologi di TNK, Sinergi Menjadi Titik Kunci

Penulis : Ferdy Jemaun

Labuan Bajo, InfoMabar,- Untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan kepentingan ekologi di kawasan pariwisata Taman Nasional Komodo, koordinasi dan sinergi dengan berbagai pihak, menjadi salah satu titik kunci. Jika koordinasi berjalan, maka semua soal dengan mudah bisa diurai.

Penegasan ini disampaikan oleh Bupati Manggarai Barat, Edistasius Endi, dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan  Setda Kab. Manggarai Barat, Florianus Nabu, pada kegiatan Rapat Koordinasi Multystakeholder Badan Peduli Taman Nasional Komodo dan Perairan Sekitarnya, yang berlangsung di Aula Hotel Prundi, Rabu (18/02/2026).

Kegiatan Rapat Koordinasi Multystakeholder Badan Peduli Taman Nasional Komodo dan Perairan Sekitarnya. (Foto : Ferdy Jemaun)

“Kegiatan pada hari ini menjadi forum yang sangat baik untuk mendiskusikan banyak hal terkait keselamatan pariwisata kita,” jelas Asisten Florianus.

Diharapkanya agar semua stakeholder yang diundang dalam kegiatan ini bisa berpartisipasi secara aktif, memberikan masukan atau kritikan atas berbagai kebijakan yang selama ini telah berlaku tetapi dinilai belum berpihak pada kepentingan banyak orang.

Asisten Flori mengharapkan agar semua stakeholder yang diundang pada Kegiatan Rakor ini bisa bersinergi untuk mewujudkan pariwisata Labuan Bajo yang tidak hanya memberikan dampak ekonomi di satu sisi, tetapi juga harus tetap bisa menjaga keberlangsungan ekosistem yang ada di destinasi pariwisata.

“Sinergi menjadi salah satu titik kunci. Jika sinergi dengan berbagai pihak berjalan baik, maka saya yakin harapan bersama untuk mewujudkan pariwisata Labuan Bajo yang berdampak positif akan bisa diraih,” jelasnya.

Rapat Koordinasi Multystakeholder ini menghadirkan sejumlah nara sumber yang bersentuhan langsung dengan Kegiatan kepariwisataan Labuan Bajo, diantaranya : Badan Peduli Taman Nasional Komodo dan Perairan Sekitarnya (BPTNKPS), Balai Taman Nasional Komodo, KSOP Kelas III Labuan Bajo, Stasiun BMKG Komodo, Pemkab Manggarai Barat melalui Dinas Pariwisata Ekonomi Kreatif dan Kebudayaan dan pegiat pariwisata Labuan Bajo.

Pater Marsel Agot, Kepala BPTNKPS, dalam materinya memberikan penjelasan bahwa lembaga yang dikomandoinya itu lahir dengan tujuan untuk memastikan bahwa Taman Nasional Komodo sebagai situs warisan dunia, itu tetap terlindungi dari eksploitasi berlebihan.

Diakuinya bahwa untuk melakukan pengawasan terhadap pengelolaan Taman Nasional Komodo selama ini, butuh koordinasi multy pihak.

“Sayangnya, koordinasi ini masih sangat kurang. Kita harus mulai. Melalui kegiatan hari ini semoga tidak ada lagi pengkotak-kotakan. Kita harus bersatu, demi tercapainya tujuan bersama, yakni pariwisata Labuan Bajo yang tidak hanya nyaman bagi semua orang, tetapi juga aman untuk konservasi,” jelasnya.

Pemateri lainya, Kepala Balai Taman Nasional Komodo, Yohanes Rani Siga, pada kesempatan itu memaparkan tentang upaya pembatasan pengunjung ke Taman Nasional Komodo dengan maksud untuk menjaga habibat yang ada.

Pada kesempatan yang sama, Rani Siga juga menjelaskan tentang keberadaan ‘Si Ora’, aplikasi resmi dari Balai Taman Nasional Komodo, Kementerian Kehutanan, yang berfungsi sebagai platform digital terintegrasi untuk reservasi tiket (e-ticketing) dan interpretasi mandiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Taman Nasional Komodo.

“Aplikasi ini diluncurkan untuk mempermudah transaksi non-tunai, meningkatkan kualitas layanan, dan mengatur kuota pengunjung guna mendukung konservasi yang lebih baik,” jelas Rani Siga.

Pada kesempatan yang sama, Rani Siga juga menyinggung soal rencana pembatasan pengunjung ke TNK untuk menjaga konservasi dan ekosistem dalam kawasan TNK.

Demikianpun nara sumber lainya, perwakilam dari KSOP Kelas III Labuan Bajo, yang membahas tentang peranya sebagai lembaga pemeriksa, baik terhadap kelayakan kapal wisata maupun manajemen keselamatan kapal wisata.

Maria Seran, Kepala Stasiun BMKG Labuan Bajo, juga mengupas tentang peranya dalam dunia pariwisata Labuan Bajo, yakni memberi peringatan manakala cuaca memburuk.

Sekretaris Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai Barat, Chrispianus Mesima, pada kesempatan itu, dalam materinya memberi penegasan bahwa pariwitsata itu adalah sebuah ekosistem yang besar.

“Pariwisata ini adalah ekosistem yang besar. Harus diorkestrasi dengan baik, agar bisa menimbulkan irama yang enak didengar,” jelasnya.

Semua nara sumber bermuara pada kesimpulan yang sama bahwa pariwisata itu selalu bermuara pada kepentingan ekonomi. Tapi kepentingan ekonomi itu jangan sampai mengabaikan kepentingan ekologis untuk Taman Nasional Komodo.

Agar ada keseimbangan antara keduanya, maka butuh sinergi dan koordinasi yang intens antar semua stakeholder, baik yang berada di level pengambil kebijakan maupun pelaku wisata di level lapangan.***

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments