Penulis : Gonsalez Editor : Ferdy Jemaun
Labuan Bajo, InfoMabar,- Sebanyak 25 orang muda dari 10 wilayah di Manggarai Barat yang tergabung dalam Komunitas Lino Tana Dite mengikuti Bootcamp Wirausaha Hijau Sistem Pangan. Melalui kegiatan ini, transformasi sistem pangan lokal bisa diwujudkan.
Sebagaimana disaksikan InfoMabar, Bootcamp ini berlangsung di Hotel Green Prundi, Labuan Bajo, selama 2 hari, yakni Rabu-Kamis (11-12/03/2026).

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Konsorsium Pangan Bernas bersama Pemkab Mabar melalui Badan Perencanaan Daerah (Bappeda) dan didukung Mitra Stakeholder Forum (MSF) ini bertujuan memperkuat kapasitas wirausaha muda di sektor pangan berkelanjutan.
Bootcamp dua hari ini dirancang sebagai ruang pembelajaran akseleratif bagi para pelaku usaha hijau yang telah mengembangkan inovasi di bidang budidaya pertanian, pengolahan pangan lokal, dan pemasaran berbasis nilai keberlanjutan. Mereka berasal dari berbagai wilayah dampingan Konsorsium Pangan Bernas dan telah menunjukkan komitmen dalam mengembangkan usaha yang ramah lingkungan.
Kepala Bappeda Manggarai Barat Peter A. RASYD dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas inisiatif ini.
“Orang muda memiliki peran strategis dalam transformasi sistem pangan lokal. Data menunjukkan rasio wirausaha Indonesia masih sekitar 3,5 persen dari total populasi. Melalui bootcamp ini, kami berharap lahir wirausaha muda yang tidak hanya tangguh secara bisnis, tetapi juga mampu mendorong ketahanan pangan dan kelestarian lingkungan,” ujarnya.
Bootcamp menggunakan metode partisipatif dan experiential learning. Di hari pertama diisi dengan refleksi perjalanan usaha peserta melalui sesi “The Journey” dan pemetaan tantangan usaha menggunakan Business Model Canvas (BMC). Para peserta mengidentifikasi berbagai kendala yang dihadapi, termasuk tantangan perubahan iklim yang menyebabkan hasil panen tidak menentu, keterbatasan akses pasar, dan ketergantungan pada bahan baku impor.
Perwakilan konsorsium pangan bernas Anton Babo wes menjelaskan, “Wirausaha hijau tidak hanya tentang keuntungan ekonomi, tetapi juga tanggung jawab sosial dan ekologis. Sistem pangan berkelanjutan harus menopang tiga dimensi sekaligus: ekonomi, sosial, dan lingkungan. Kami ingin peserta mampu merancang strategi bisnis yang mengintegrasikan ketiganya secara utuh.”
Hari kedua difokuskan pada penyusunan strategi ke depan. Peserta belajar membuat storytelling produk sebagai teknik pemasaran yang autentik, serta menyusun rencana pengembangan usaha untuk 3-6 bulan ke depan. Sesi klinik bisnis dan mentoring kelompok kecil memberikan kesempatan peserta berkonsultasi langsung dengan fasilitator mengenai tantangan spesifik usaha mereka.
Lian Muliani Salah satu perwakilan peserta dari Komunitas Lino Tana Dite mengungkapkan antusiasmenya.
“Saya mendapatkan perspektif baru tentang bagaimana usaha pangan lokal bisa dikembangkan tanpa merusak lingkungan. Sesi tentang wirausaha dalam sistem pangan membuka wawasan bahwa bisnis kami terhubung dengan rantai yang lebih panjang, dari hulu hingga hilir, termasuk pengelolaan limbah,” tuturnya.
Bootcamp ini juga menghadirkan sesi khusus perencanaan tindak lanjut pelatihan di sektor hulu bersama Kang Rahmat, yang akan dilanjutkan dengan pendampingan inkubasi bisnis selama 3-6 bulan ke depan. Pendampingan tersebut akan dilakukan secara online maupun offline, mencakup monitoring perkembangan usaha, serta showcase dan business matchmaking untuk mempertemukan peserta dengan calon mitra atau pembeli.
Sepanjang kegiatan, peserta juga menampilkan 2-5 sampel produk usaha hijau di pojok Karya. Produk-produk yang dipamerkan antara lain olahan pangan lokal, produk pertanian berkelanjutan, hingga inovasi pengelolaan limbah yang mencerminkan kekayaan potensi wirausaha hijau di Manggarai Barat.
Bootcamp Entrepreneurship Wirausaha Hijau ini diharapkan menjadi ruang pembelajaran bersama yang mampu memperkuat usaha orang muda secara bisnis sekaligus memperluas dampak sosial dan ekologis, sejalan dengan tujuan sistem pangan berkelanjutan untuk mencapai ketahanan pangan, perbaikan gizi, dan pengurangan kemiskinan di tingkat lokal.***


