Penulis : Ferdy Jemaun
Labuan Bajo, InfoMabar,- Festival Bumi Sano Nggoang, resmi dimulai. Perjalanan Paroki Santo Mikael, Nunang, selama Enam Dekade, kembali dikenang. Festival ini menjadi momen untuk menjaga iman dan tradisi tetap berjalan dalam suasana persaudaraan.
Enam puluh tahun bukan sekadar angka. Ia adalah jejak panjang tentang bagaimana sebuah komunitas bertahan, tumbuh, dan menjaga iman di tengah perubahan zaman.

Jejak perjalanan itu kembali dirayakan masyarakat Sano Nggoang melalui Festival Bumi Sano Nggoang, yang resmi dibuka di Nunang, Desa Wae Sano, Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat, Sabtu (03/10/2026).
Camat Sano Nggoang, Yusuf Gafur, dalam laporanya yang disampaikan kepada Bupati Manggarai Barat, melalui WhatsApp Group Koordinasi Pimpinan Mabar, Mingggu (04/10/2026) pagi menjelaskan bahwa festival tersebut akan berlangsung selama lima hari, mulai 3 hingga 7 Oktober 2026.
“Festival Bumi Sano Nggoang dilaksanakan selama lima hari, yaitu dari tanggal 3 sampai dengan 7 Oktober 2026. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh stasi di bawah naungan Paroki Santo Mikael Nunang,” tulis Yusuf Gafur dalam laporanya pada WAG itu.
Festival tersebut digelar, kata Camat Yusuf, dalam rangka memperingati HUT ke-60 Paroki Santo Mikael Nunang. Perayaan enam dekade perjalanan paroki itu sekaligus menjadi momentum mempertemukan umat dari seluruh stasi yang berada di bawah naungan Paroki Santo Mikael Nunang.
Suasana pembukaan berlangsung khidmat. Kehadiran Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, bersama rombongan, memberikan makna tersendiri bagi perayaan yang tidak hanya berbicara tentang usia sebuah paroki, tetapi juga tentang perjalanan panjang umat dalam menjaga iman dan persaudaraan.
Di tanah Sano Nggoang, iman tidak tumbuh sendirian. Ia hidup bersama masyarakat, tradisi, kebudayaan dan kehidupan sehari-hari. Karena itu, Festival Bumi Sano Nggoang menjadi ruang perjumpaan antara kehidupan menggereja dan kehidupan masyarakat.
Bagi masyarakat Sano Nggoang, keterlibatan seluruh stasi membuat festival ini terasa lebih dari sekadar perayaan ulang tahun paroki. Ia menjadi panggung bersama, tempat umat dan masyarakat merayakan perjalanan yang telah mereka lalui sekaligus mempererat tali persaudaraan.
Enam puluh tahun perjalanan Paroki Santo Mikael Nunang adalah enam dekade yang diwarnai oleh berbagai dinamika kehidupan umat. Dari generasi ke generasi, nilai-nilai iman diwariskan dan dirawat agar tetap hidup di tengah masyarakat. Dan kini, warisan itu dirayakan melalui Festival Bumi Sano Nggoang.
Yusuf Mansur memastikan pembukaan festival berlangsung aman dan penuh khidmat. Tidak ada suasana berlebihan dalam perayaan tersebut. Yang terasa justru adalah semangat kebersamaan umat yang datang dari berbagai stasi untuk mengambil bagian dalam sebuah peristiwa yang memiliki arti penting bagi perjalanan mereka.
Festival ini sekaligus memperlihatkan bahwa perayaan keagamaan dapat menjadi ruang untuk merawat identitas dan kebudayaan masyarakat. Sebab, ketika iman, tradisi dan persaudaraan berjalan bersama, sebuah perayaan tidak berhenti sebagai seremoni.
Ia menjadi ingatan kolektif. Ingatan tentang para pendahulu yang pernah menanamkan benih iman. Ingatan tentang generasi yang tumbuh dan berkembang bersama komunitas. Dan harapan agar generasi berikutnya tetap memiliki alasan untuk mencintai tanah, tradisi, serta kehidupan bersama yang diwariskan kepada mereka.
Dari Nunang, Festival Bumi Sano Nggoang pun dimulai. Selama lima hari ke depan, hingga 7 Oktober 2026, denyut perayaan akan terus bergerak dari satu stasi ke stasi lainnya dalam semangat yang sama: merayakan iman, merawat budaya, dan memperkuat persaudaraan.
Sebab pada akhirnya, merayakan 60 tahun Paroki Santo Mikael Nunang bukan hanya tentang mengenang masa lalu. Tetapi tentang kepastian bahwa api iman dan persaudaraan itu tetap menyala untuk generasi yang akan datang.***



