Sumber : Release Dinkes Mabar Editor : Ferdy Jemaun
Labuan Bajo, InfoMabar,- Sebanyak 4 (empat) puskesmas di wilayah Kabupaten Manggarai Barat melaporkan penanganan Ibu dan Bayi Resiko Tinggi. 4 Puskesmas itu adalah Puskesmas Benteng, Puskesmas Kakor, Puskesmas Ranggu dan Puskesmas Tentang. Semua laporan itu diketahui dari hasil evaluasi SIMABARESTI.
Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Barat kembali menggelar Rapat Evaluasi Mingguan Ibu Hamil dan Bayi Risiko Tinggi (SIMABARESTI) secara daring melalui Zoom Meeting. Kegiatan rutin yang berlangsung sejak 2024 ini diikuti oleh tim SIMABARESTI dari Dinas Kesehatan, rumah sakit rujukan, serta perwakilan puskesmas.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Barat, Adrianus Ojo, dalam sambutannya menekankan pentingnya komitmen dan konsistensi seluruh tim dalam memantau serta mengevaluasi kasus risiko tinggi.
“Kita harus memiliki komitmen yang kuat. Pemantauan ketat terhadap ibu hamil dan bayi dengan faktor risiko adalah kunci menekan angka kematian ibu dan anak,” ujarnya, Selasa (14/4/2026).
Berikut ringkasan situasi dan intervensi dari masing-masing puskesmas yang menyampaikan laporan.
- Puskesmas Benteng: Ibu dengan Obesitas dan Riwayat Banyak Melahirkan
Seorang ibu hamil dengan indeks massa tubuh (IMT) di atas 30 serta riwayat melahirkan lebih dari empat kali mendapatkan pendampingan intensif. Tim puskesmas memberikan edukasi tanda bahaya persalinan, pola makan rendah kalori, aktivitas fisik ringan, dan perencanaan persalinan di rumah sakit rujukan.
Hasilnya, ibu tersebut melahirkan secara operasi caesar dan bersedia mengikuti KB pasca persalinan (MOW). Bayi lahir sehat. Kunjungan nifas menunjukkan kondisi ibu dan bayi baik dengan ASI lancar.
- Puskesmas Kakor: Bayi Kembar dengan Berat Lahir Rendah dan Masalah Kulit
Puskesmas Kakor melaporkan kasus bayi kembar dengan berat lahir rendah (dibawah 2.500 gram). Salah satu bayi juga memiliki benjolan kecil di gusi bawah yang kemudian menghilang tanpa tindakan lanjutan.
Dalam pemantauan berikutnya, kedua bayi mengalami ruam kemerahan di area bokong dan tubuh yang cenderung meluas. Setelah evaluasi, diduga penyebabnya adalah penggunaan detergen biasa untuk mencuci pakaian bayi, meskipun keluarga telah diedukasi.
Tim puskesmas dan bidan desa melakukan kunjungan rumah rutin, memberikan edukasi perawatan kulit bayi, mengganti popok secara cepat, menggunakan detergen khusus bayi, serta berkolaborasi dengan dokter puskesmas untuk pemberian terapi topikal dan oral sesuai indikasi. Keluarga diharapkan konsisten menerapkan anjuran perawatan.
- Puskesmas Ranggu: Pendampingan Pasca Kematian Ibu Muda
Puskesmas Ranggu melaporkan kasus kematian seorang ibu muda usia 18 thn (kehamilan pertama)dari informasi yang didapatkan petugas (Otopsi Verbal) dari keluarga, bahwa ibu hanya 1 kali periksa kehamilan di puskesmas dengan usia kehamilan: 25 minggu (7 bulan). Ibu malu ANC karena masih dalam bangku Pendidikan, dan tidak diketahui oleh Keluarga. Saat pemeriksaan pertama ditemukan ada masalah pada bayi dan akhirnya ibu di Rujuk ke Rumah sakit. Di Rumah sakit ibu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dan didapati kompikasi penyakit lain, sehingga pada akhirnya ibu dan bayi meninggal. Untuk informasi detail akan menunggu hasil Audit Maternal Perinatal Surveilance Respons (AMP-SR).
- Puskesmas Tentang: Beragam Faktor Risiko pada Lima Ibu Hamil
Puskesmas Tentang melaporkan lima kasus ibu hamil dengan faktor risiko beragam, antara lain:
- Hipertensi kronis pada ibu usia di atas 35 tahun disertai anemia ringan. Ibu rutin memantau tekanan darah, mengonsumsi obat antihipertensi, dan bersedia melahirkan di rumah sakit serta KB pasca persalinan.
- Kekurangan energi kronis (KEK) pada beberapa ibu, sebagian dengan tinggi badan di bawah 145 cm dan jarak kehamilan kurang dari dua tahun. Mereka mendapat suplementasi tablet tambah darah, makanan tambahan dari program gizi, serta edukasi gizi seimbang.
- Ibu dengan usia di atas 35 tahun dan paritas tinggi (melahirkan lebih dari empat kali). Mereka didorong untuk melakukan USG di dokter kandungan dan merencanakan persalinan di fasilitas kesehatan lengkap dengan dukungan calon pendonor darah.

Secara umum, seluruh ibu hamil risiko tinggi di wilayah Puskesmas Tentang telah mendapatkan kunjungan rumah bersama kader, peningkatan frekuensi ANC, serta perencanaan persalinan yang matang.
Kesimpulan dan Harapan
Rapat evaluasi ini menunjukkan bahwa kasus risiko tinggi di Manggarai Barat masih didominasi oleh usia ekstrem (terlalu muda atau terlalu tua), KEK, hipertensi, paritas tinggi, serta komplikasi kehamilan. Kepala Dinkes Mabar berharap sinergi antara puskesmas, rumah sakit, pemerintah desa, kader, dan keluarga terus ditingkatkan.
“Setiap kematian yang dapat dicegah adalah tanggung jawab kita bersama. Mari jaga ibu dan anak dengan akses kesehatan yang cepat dan berkualitas,” tutup Adrianus.***


