Home Features Potret Relawan Dinkes Mabar di Jalan Yang Tak Ramah

Potret Relawan Dinkes Mabar di Jalan Yang Tak Ramah

0
9
Kadis Kesehatan Mabar, drh. Theresia P Asmon (baju putih) bersama staf mendorong mobil yang macet di daerah tanjakan. (Foto : Dok. Dinkes Mabar)
Penulis : Ferdy Jemaun

Labuan Bajo, InfoMabar,- Sejak sebelum masa tanggap darurat bencana berakhir, tim relawan dari Dinkes Mabar menelusuri tiap lokasi bencana, memberi pelayanan kesehatan bagi mereka yang membutuhkan. Sayangnya, tidak semua perjalanan mulus. Sebab ada jalan yang tak ramah, memaksa mereka harus turun untuk mendorong kendaraan…

Jalan itu tidak ramah. Terjal, berkelok dan penuh tantangan. Di beberapa bagian, mobil operasional promosi kesehatan itu harus merayap perlahan, menaklukkan tanjakan yang seolah tidak memberi ruang untuk berhenti. Debu beterbangan dari balik roda. Mengekor, lalu menempel pada apa saja yang ada dibelakangnya. Di depan, jalan panjang menuju wilayah terpencil, yang cukup jauh dari fasilitas kesehatan, masih terbentang. Yang dituju adalah kampung Lewur Kecamatan Ndoso.

Di dalam mobil plat merah itu, tersimpan obat-obatan dan perlengkapan pelayanan kesehatan. Bersama rombongan, ada tim relawan kesehatan yang membawa satu misi sederhana, tetapi sangat berarti: datang menemui warga, menyembuhkan luka karena hantaman gempa.

Mereka tahu perjalanan itu tidak mudah. Namun, warga yang tinggal jauh dari fasilitas kesehatan, tak berhenti memohon agar perjalanan sejauh dan sesulit apa pun, tolong ditempuh.

Mobil itu terus bergerak. Sampai pada satu titik, kendaraan itu kehilangan tenaga.

Eda, sopir kendaraan itu mencoba menginjak gas. Tekan. Tahan. Kendaraan itu ‘meraung’. Suaranya seperti teriakan korban gempa yang memohon pertolongan.

Roda berputar, tetapi badan mobil tidak bergerak maju. Jalan yang menanjak dan terjal membuat kendaraan kesulitan melewati medan.

Mesin terdengar bekerja keras. Roda berputar kencang. Tetapi mobil tetap tertahan. Stag!

Beberapa saat, rombongan mencoba mencari cara agar kendaraan bisa kembali bergerak. Tidak ada pilihan. Sebab perjalanan tidak boleh berhenti hanya karena sebuah tanjakan.

Satu per satu mereka turun dari kendaraan. Termasuk sang pemegang komando dalam tim itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Barat, drh. Theresia P. Asmon.

Tidak ada jarak antara pimpinan dan staf pada saat itu. Theresia bersama anggota tim berdiri di belakang kendaraan. Mereka mengambil posisi untuk mendorong mobil yang membawa obat-obatan dan perlengkapan pelayanan kesehatan tersebut.

Staf yang lain mencari batu, meletakanya di belakang roda. Antisipasi, agar setelah bergerak maju, kendaraan itu tidak kembali mundur. Sudah dicari. Tapi tak dapat. Maka tumpukan batu milik warga yang disiapkan sebagai bahan bangunan rumah jadi incaran. Pinjam tahan. Setelah kendaran melaju, batu itu akan dikembalikan.

Dorongan pertama dilakukan. Mobil bergerak sedikit. Berhenti lagi. Mereka kembali mendorong. Kali ini lebih kuat.

Kaki menapak di jalan yang tidak rata. Telapak tangan menempel di dinding mobil bagian bekalang. Tubuh condong ke depan. Napas memburu. Tenaga dikerahkan bersama-sama. Mulai… Doroooong….!

Sedikit demi sedikit kendaraan itu mulai bergerak, seiring dorongan. Tanjakan yang semula menjadi penghalang akhirnya dapat dilewati. Mobil kembali berjalan. Perjalanan pun dilanjutkan.

Bagi sebagian orang, pemandangan itu mungkin hanya sebuah kendaraan yang mengalami kendala di tengah perjalanan.

Tetapi bagi masyarakat yang sedang menunggu kedatangan tenaga kesehatan, peristiwa itu memiliki makna yang jauh lebih besar dan bermakna.

Sebab di balik kendaraan yang kembali melaju itu, ada obat-obatan yang harus sampai kepada warga. Ada tenaga kesehatan yang harus hadir di tengah masyarakat. Ada orang-orang yang sedang menunggu untuk diperiksa. Dan ada harapan yang tidak boleh terlambat tiba. Sebab gempa tidak hanya meninggalkan kerusakan pada bangunan. Ia juga meninggalkan ketakutan. Trauma.

Bagi warga terdampak, setiap getaran tanah dapat kembali menghadirkan kecemasan. Ketika bumi berguncang, rasa aman yang sebelumnya dianggap biasa seakan hilang seketika.

Di tengah situasi seperti itulah tim kesehatan dari Dinas Kesehatan Manggarai Barat datang. Mereka bukan sekadar membawa obat. Mereka membawa perhatian. Membawa pesan bahwa masyarakat di wilayah terpencil tidak sedang menghadapi bencana seorang diri.

Ketika kendaraan kesehatan akhirnya tiba, warga menyambut kehadiran tim dengan perasaan yang bercampur. Ada kecemasan yang belum sepenuhnya hilang. Ada wajah-wajah yang masih menyimpan kekhawatiran terhadap kemungkinan gempa susulan.

Tetapi kedatangan para tenaga kesehatan perlahan menghadirkan rasa tenang. Ada keyakinan yang tumbuh bahwa mereka masih diperhatikan. Bahwa ketika mereka membutuhkan pertolongan, masih ada orang-orang yang bersedia datang menembus jalan sulit untuk menemui mereka.

Jarak yang jauh dari fasilitas kesehatan tidak menjadi alasan untuk meninggalkan mereka. Justru sebaliknya. Semakin jauh lokasi itu dari pusat pelayanan atau fasilitas kesehatan, semakin besar alasan bagi tim Dinas Kesehatan untuk datang.

Di tengah suasana pascagempa, pelayanan kesehatan memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar pemeriksaan dan pemberian obat.

Kehadiran petugas kesehatan menjadi semacam pengingat bagi masyarakat bahwa kehidupan harus terus berjalan. Bahwa rasa takut boleh masih ada, tetapi harapan tidak boleh lenyap.

Tim Dinas Kesehatan datang dari satu tempat ke tempat lainnya, menyusuri jalan yang sulit, membawa perlengkapan yang dibutuhkan masyarakat.

Bahkan ketika kendaraan mereka tidak mampu melewati tanjakan, perjalanan tidak boleh berhenti. Mereka turun. Mereka mendorong. Dan setelah kendaraan kembali bergerak, mereka melanjutkan perjalanan.

Di situlah pengabdian itu terlihat dalam bentuknya yang paling sederhana. Tidak selalu berupa pidato. Tidak selalu terlihat di atas panggung.

Kadang, pengabdian hanya berupa seseorang yang turun dari kendaraan, meletakkan kedua tangannya di bagian belakang mobil, lalu mendorong bersama-sama agar kendaraan yang membawa obat-obatan dapat kembali berjalan.

Dan hari itu, salah satu orang yang ikut melakukan itu adalah Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Barat, drh. Theresia P. Asmon. Ia tidak hanya memimpin dari dalam kendaraan. Ia ikut merasakan beratnya jalan yang dilalui timnya. Ia ikut berada di tengah staf ketika kendaraan harus didorong.

Sebuah gambaran sederhana tentang bagaimana pelayanan kepada masyarakat terkadang menuntut lebih dari sekadar menjalankan tugas administratif.

Jalan terjal dan berkelok itu akhirnya kembali dilewati. Mobil bergerak perlahan menuju lokasi pelayanan. Obat-obatan tetap berada di dalam kendaraan. Tim relawan tetap bersama.

Tujuan mereka tidak berubah: masyarakat terdampak yang berada jauh dari fasilitas Kesehatan, harus bisa dilayani.

Perjalanan itu mungkin melelahkan. Tetapi ketika akhirnya mereka tiba di tengah masyarakat, rasa lelah seolah mendapatkan jawabannya. Sebab di sana ada warga yang membutuhkan pertolongan. Ada wajah-wajah yang ingin mendapatkan kepastian bahwa kondisi mereka diperhatikan. Dan ada masyarakat yang membutuhkan lebih dari sekadar obat: mereka membutuhkan rasa aman bahwa pemerintah melalui para pelayan kesehatan masih bersama mereka.

Di tengah ancaman gempa susulan dan ketidakpastian yang belum sepenuhnya berakhir, kehadiran tim kesehatan menjadi kekuatan tersendiri. Mereka datang membawa obat. Tetapi yang diterima warga adalah sesuatu yang jauh lebih besar, yaitu : rasa bahwa mereka tidak sendirian. Ada pemerintah yang selalu hadir dalam setiap masalah.

Dan mungkin, itulah makna paling dalam dari sebuah perjalanan panjang melewati jalan terjal. Bahwa pelayanan kepada masyarakat tidak selalu berjalan di jalan yang mudah.

Kadang ia harus melewati tanjakan. Kadang kendaraan harus berhenti karena jalan yang tak ramah. Kadang tenaga harus dikerahkan bersama-sama. Sebab, selama masih ada kemauan untuk terus bergerak, jalan menuju masyarakat yang membutuhkan pertolongan akan selalu dicari.***