Home Features Tim Logistik Bencana Mabar, Menjaga Air Mata Tak Tumpah di Tenda Pengungsian

Tim Logistik Bencana Mabar, Menjaga Air Mata Tak Tumpah di Tenda Pengungsian

0
215
Tim Logistik Bencana Mabar saat bekerja di salah satu ruangan di Pusdalops BPBD Mabar. (Foto : Gonsalez)
Penulis : Gonsalez 
Editor : Ferdy Jemaun

Labuan Bajo, InfoMabar,- Di tengah hiruk-pikuk tenda darurat yang berjejer, di sela deru helikopter dan ambulans yang lalu-lalang di Posko Bencana Mabar, ada Tim Logistik Bencana yang bekerja, menjaga agar tangisan para korban terdampak bencana tak tumpah di tenda pengungsian.

Dari salah satu ruang yang sunyi di Pusat Pengendalian Operasi (PUSDALOPS) BPBD Manggarai Barat, penanganan bencana itu berdetak. Ruang itu adalah posko data logistik. Dan di dalamnya, duduk delapan orang yang punggungnya tak pernah lepas dari kursi, matanya tak pernah berpaling dari layar, dan jemarinya tak lelah meracik angka-angka yang menjadi nafas bagi para pengungsi di Manggarai Barat.

Tim Logistik Bencana Mabar saat bekerja di salah satu ruangan di Pusdalops BPBD Mabar. (Foto : Gonsalez)

Sejak gempa pertama kali mengguncang, Sabtu (15/08/2026) lalu, merobek tanah, meruntuhkan rumah, dan melukai harapan, mereka langsung dikerahkan. Bukan membawa tandu atau kotak P3K, tetapi membawa laptop, ponsel, dan secangkir kopi yang dingin tanpa sempat dihirup. Mereka adalah tim update data logistik keluar-masuk, yang dipimpin oleh dua komandan lapangan yang sigap: Hildegunda Deseman dari BPBD dan Yulti Jalu dari Dinas Sosial.

Bersama mereka, ada Adrianus Santo Malur, Paulus Liut, Adrianus B. Bhago dari dinas Pariwisata, Fitria dari BPBD, Goris Lalang dari Dinas Sosial, dan beberapa orang lainya. Satu meja. Satu misi: memastikan tidak ada satu pun karung beras yang salah alamat, tidak ada satu pun tenda yang tertahan di gudang, dan tidak ada satu pun obat yang terlambat sampai ke tangan ibu-ibu yang menangis di pengungsian.

Mereka adalah “kurir data”, yang menerima laporan dari puluhan titik pengungsian, memilah mana yang darurat dan mana yang terencana, memvalidasi setiap lembar surat jalan, dan mencatat setiap ritase truk yang masuk dengan muatan sembako, selimut, dan terpal. Setiap angka yang mereka ketik adalah doa. Setiap tanda centang yang mereka beri adalah jaminan hidup bagi ratusan keluarga yang kehilangan atap.

Dari pagi hingga malam, mereka tak pernah lelah, atau setidaknya itulah yang tampak dari luar. Namun mata yang mulai sembab dan leher yang terus digoyangkan perlahan di sela jeda, membisikkan cerita tentang kelelahan yang ditahan. Mereka hanya menggoyangkan leher, melepaskan pegal sejenak, lalu tunduk kembali ke layar. Kembali ke deretan angka. Kembali ke panggilan telepon yang nyaris tak putus dari para sumber data di lapangan.

“Logistik masuk 500 paket,” lapor satu suara dari ujung telepon. “Validasi. Sudah disalurkan ke mana?” jawab mereka dengan nada cepat namun tenang.

Begitu seterusnya. Berulang kali. Hingga matahari tenggelam dan lampu darurat menjadi saksi bisu perjuangan mereka.

Sesekali, Hildegunda mengangkat kepalanya, menatap rekan-rekannya sejenak, dan hanya mengangguk kecil. Tanpa kata. Mereka saling paham: ini adalah jam-jam krusial, tak ada waktu untuk lengah. Sementara Yulti Jalu dengan sigap membolak-balik catatan, memastikan setiap distribusi tepat sasaran. Bukan karena mereka sempurna, tetapi karena mereka tahu, di balik satu kesalahan data, ada anak kecil yang mungkin tidur tanpa selimut malam ini.

Mereka bekerja cepat, bukan karena diburu tenggat, tetapi karena diburu oleh rasa kemanusiaan. Setiap menit yang terbuang adalah tangis yang tertahan di pengungsian. Setiap keterlambatan data adalah doa yang belum sampai.

Di posko yang sunyi dari sorak sorai itu, mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka tidak mengangkat benda berat, tetapi mereka mengangkat beban jiwa. Mereka tidak berlari ke medan runtuhan, tetapi mereka menopang logistik yang akan sampai ke sana. Mereka bukan penyelamat di garis depan, tetapi merekalah yang memastikan jalur kehidupan tetap mengalir.

Ketika malam semakin larut dan deru gempa susulan masih sesekali terasa, mereka masih di sana. Tetap duduk. Tetap mengetik. Tetap mengangkat telepon. Dan saat ditanya bagaimana mereka bertahan, salah satu dari mereka hanya tersenyum tipis, lalu berkata lirih: “Kami hanya berpikir, jika kami berhenti, maka mereka yang di pengungsian akan lebih lama menunggu.”

Di balik tumpukan data itu, ada cinta yang tak pernah diucapkan. Di balik angka-angka itu, ada denyut naga kemanusiaan yang tak pernah padam. Mereka adalah para penjaga logistik, penjaga harapan, yang meskipun lelah, tetap setia di kursi mereka—hingga gempa usai, hingga tenda-tenda berdiri kokoh, hingga semua pengungsi bisa pulang dan tersenyum lagi.

Mereka layak disebut pahlawan. Bukan karena mereka hebat, tetapi karena mereka hadir di saat yang paling dibutuhkan, di tempat yang paling sepi, dengan kerja yang tak pernah lelah. Mereka bekerja, menjaga tangis tak tertumpah di tenda pengungsian.***