
Penulis : Gonsalez Editor : Ferdy Jemaun
Labuan Bajo, InfoMabar,- Dalam salah satu ruangan di Pusdalops Kabupaten Manggarai Barat itu, sejumlah Abdi Negara bekerja dengan konsentrasi tinggi. Mereka merekap angka. Menata data, agar bantuan bencana tak salah sasar. Mereka bekerja, sampai bumi Mabar tak lagi berguncang. Entah kapan…..
Sore itu, Kamis (20/08/2026), waktu berjalan tanpa suara. Layar-layar komputer menyala redup, menerangi wajah-wajah yang tak lagi mengenal lelah. Dari pagi ketika embun masih menggantung di dedaunan, hingga larut ketika lampu-lampu kota Labuan Bajo menyala satu per satu, mereka tetap di sini. Tak bergeser dari kursi. Tak mengenal istirahat.

Mereka bukan petugas biasa. Mereka adalah Aparatur Sipil Negara dari setiap Organisasi Perangkat Daerah lingkup Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat. Datang dari berbagai bidang, dengan seragam berbeda yang tampak lusuh oleh keringat. Ada yang dari Dinas Sosial, dari Dinas Kominfo, dari Dinas Pekerjaan Umum, dari Dinas Kesehatan, dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Penanaman Modal, dari Bappeda, dari Sekretariat Daerah, dari Dinas Pariwisata, dan Inspektorat hingga PIC di Kecamatan.
Dibawah pengawalan Asisten Pemerintahan dan Kesra, Salvador Pinto, dan dikoordinir oleh Sekretaris Dinas Kominfo, Kartini Tulus, mereka duduk berdampingan dalam satu ruang sunyi, menyatukan fokus dalam satu tugas: menghadirkan data yang akurat dari desa-desa yang porak-poranda oleh guncangan gempa Flores bermagnitudo 7,7 Scala Richter.
Kantor Pusdalops BPBD Manggarai Barat yang begitu luas terasa menyusut menjadi ruang sunyi. Tak ada tawa yang mengalun, tak ada canda yang bersahutan. Yang ada hanyalah gesekan jemari di atas keyboard, suara klik yang menjadi irama pengganti detak jantung. Mereka duduk berdampingan, namun seakan sendiri dalam tugas masing-masing. Serius. Tekun. Seperti biarawan yang sedang berdoa dalam hening.
Mereka merekap satu per satu laporan yang datang dari desa-desa terpencil. Dari pos-pos pengungsian yang tendanya berdiri di tengah puing. Dari relawan yang suaranya terbata-bata menggambarkan rumah-rumah yang kini temboknya retak hingga rebah, rata tanah. Berat, sedang, ringan, semua dicatat dengan jemari yang gemetar menahan isak. Karena angka-angka itu bukan sekadar angka. Ia adalah dinding yang roboh, adalah atap yang hilang, adalah kehidupan yang berubah dalam sekejap.
Di dashboard digital yang mereka bangun, data bergerak mengalir. Semua orang bisa melihat. Namun tak ada yang melihat bagaimana keringat dingin membasahi kening mereka, bagaimana mata mereka perih menatap layar, bagaimana dalam diam mereka menelan kepedihan saat membaca laporan dari kampung halaman sendiri.
Karena mereka juga korban. Ya, mereka juga merasakan bumi berguncang. Sekian kali dalam sehari. Mereka juga ketakutan saat lampu-lampu padam dan bumi bergetar hebat. Keluarga mereka ada di rumah-rumah yang sama rapuhnya. Anak-anak mereka tidur dalam ketakutan yang tak terucap. Istri, suami dan keluarga mereka menahan gemetar di kolong meja. Orang tua mereka terbaring dalam trauma yang mungkin takkan sembuh. Entah sampai kapan.
Namun mereka melupakan itu semua. Mereka tinggalkan rumah yang mungkin retak. Mereka tinggalkan seisi rumah yang mungkin menangis dalam gelap. Mereka tinggalkan anak yang bertanya: “Ayah, kenapa belum pulang?” “Ibu kenapa belum pulang?” Dan mereka tetap di ruang sunyi itu. Menahan luka. Bukan karena tegar, tapi karena panggilan. Karena mereka adalah Abdi Negara. Di kala bencana, negara hadir melalui jari-jari mereka yang mengetik tanpa henti.
Mereka bukan sekadar menginput data. Mereka adalah nadi pertama dari seluruh respons kebencanaan. Dari rekapan mereka, bantuan dialokasikan; dari analisis mereka, prioritas ditentukan; dari angka-angka yang mereka sajikan, harapan dihitung ulang setiap detik. Satu ruangan menyatukan lintas OPD, mengesampingkan ego sektoral, merapatkan barisan dalam diam yang khidmat.
Di tengah gemuruh gempa yang masih membekas di relung jiwa, mereka mencatat. Menghitung. Menganalisis. Menyajikan. Dengan sisa tenaga yang mereka punya, mereka hadir. Dalam keheningan yang berat, mereka menjadi saksi, bahwa di balik setiap data, ada nyawa yang berjuang; di balik setiap angka, ada harapan yang tak mau padam.
Dan ketika malam merambat sunyi, ketika lampu kantor di ruangan itu masih menyala menerangi wajah-wajah letih dari berbagai seragam OPD, mereka bertahan. Karena mereka tahu, di ujung data yang mereka tuntaskan, ada bantuan yang akan tiba. Di balik rekap yang mereka selesaikan, ada saudara-saudara yang akan tersenyum kembali. Di balik setiap lembar laporan yang mereka kirimkan ke pusat, ada doa yang mengalir dari ribuan jiwa di pengungsian.
Mereka adalah para penjaga angka di tengah duka. Mereka yang berkorban di atas luka sendiri. Mereka yang diam-diam menuliskan harapan dengan jari-jari gemetar, di ruang sunyi itu, yang terasa seluas lautan, namun sekecil doa. Dari jemari mereka, kita bisa membaca Dashboard Realtime Dampak Bencana di Kabupaten Manggarai Barat.
Dalam ruang sempit yang sunyi itu, para Abdi Negara dari lintas OPD menjadi penyangga yang tak terlihat, mencatat setiap puing, mengolah setiap laporan, agar pelangi bisa kembali terbit, sampai bumi tak lagi berguncang. Trima kasih untukmu.***


