Home Berita Terkini Data Rumah Korban Gempa di Mabar Diekspose, Bupati Edi Apresiasi Tim Verifikasi...

Data Rumah Korban Gempa di Mabar Diekspose, Bupati Edi Apresiasi Tim Verifikasi Lapangan

0
209
Kegiatan ekspose data kerusakan rumah akibat gempa di Manggarai Barat. (Foto : Tildis)
Penulis: Mathildis dan Sebinus 
Editor : Ferdy Jemaun

Labuan Bajo, InfoMabar,- Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat menuntaskan ekspose hasil identifikasi dan verifikasi rumah terdampak bencana gempa bumi Flores di wilayan Manggarai Barat. Hingga 9 September 2026 pukul 14.59 WITA, sebanyak 13.656 rumah telah terdata, dengan 5.649 rumah di antaranya masuk kategori rusak berdasarkan kriteria tingkat kerusakan. Bupati Edi-pun memberi apresiasi untuk semua tim verifikasi lapangan.

Ekspose data tersebut dipimpin langsung Bupati Manggarai Barat, Edistasius Endi, di Aula Kantor Bupati Manggarai Barat, Rabu (09/09/2026) sore.

Bupati Edi (kedua dari kanan) saat memimpin kegiatan ekspose. (Foto : Tildis)

Dari total rumah yang telah terdata, sebanyak 8.007 rumah atau 58,6 persen masuk kategori Tidak Sesuai Klasifikasi (TSK). Selanjutnya, 3.892 rumah (28,5 persen) masuk kategori Rusak Ringan (RR), 1.400 rumah (10,3 persen) Rusak Sedang (RS), dan 357 rumah (2,6 persen) Rusak Berat (RB).

Sementara itu, terdapat 156 rumah dengan kategori TSK dan bobot kerusakan 0 persen, atau tidak terdapat kerusakan pada infrastruktur utama bangunan yang menjadi komponen penilaian.

Dengan demikian, total rumah yang mengalami kerusakan berdasarkan tiga kriteria, yakni rusak berat, rusak sedang dan rusak ringan, mencapai 5.649 rumah.

Berikut table rincian rekapitulasi data rumah hasil identifikasi per 9 September 2026:

KLASIFIKASI JUMLAH RUMAH PROSENTASE
Tidak Sesuai Klasifikasi (TSK) 8.007 Rumah 58 %
Rusak Ringan 3.892 Rumah 28,5 %
Rusak Sedang 1.400 Rumah 10,3 %
Rusak Berat     357 Rumah 2,6%
TSK Bobot 0 % (tidak ada infrastuktrur utama bangunan yang rusak)     156  Rumah 1,9 % dari seluruh TSK
Total rumah rusak 5.649 rumah

 

Dalam arahannya, Bupati Edistasius Endi mengatakan terdapat sejumlah pekerjaan yang masih harus diselesaikan pemerintah dalam penanganan bencana, salah satunya berkaitan dengan masa tanggap darurat.

“Ada beberapa yang harus diselesaikan, di antaranya mengenai tanggap darurat bencana. Semoga tanggal 11 itu kita akhiri tanggap darurat agar rakyat tidak terbebani,” ujarnya.

Menurut Bupati Edi, status tanggap darurat tidak hanya berkaitan dengan penanganan teknis kebencanaan, tetapi juga memberikan dampak psikologis bagi masyarakat yang menjadi korban.

“Tanggap darurat ini peristiwa luar biasa terhadap psikologis bagi rakyat yang menjadi korban,” katanya.

Ia mengakui, proses verifikasi data rumah terdampak sebenarnya ditargetkan selesai pada Senin sebelumnya. Namun, karena kondisi di lapangan, proses tersebut belum dapat diselesaikan sesuai target.

Meski demikian, Bupati Edi menyampaikan apresiasi karena proses verifikasi akhirnya dapat dilakukan dengan baik. Ia juga melihat semangat masyarakat untuk tidak berlarut-larut dalam kesedihan akibat bencana.

“Saya juga senang karena mereka tidak berlarut dalam kesedihan. Kita sukses untuk memverifikasi terkait hal ini,” ungkapnya.

Bupati Edi menjelaskan, dalam perhitungan kebutuhan pengungsian, setiap rumah rusak berat dikalikan dengan asumsi empat jiwa. “Total empat jiwa dikali dengan jumlah rusak berat itu yang disebut mengungsi,” jelasnya.

Ia menegaskan, pemerintah daerah mungkin tidak memiliki harta benda untuk dibagikan kepada setiap korban, tetapi memiliki kepedulian dan kemauan untuk bergerak cepat membantu masyarakat terdampak.

“Kami tidak punya harta benda untuk dibagikan kepada korban, tapi kami memiliki hati untuk bergerak cepat mengambil bagian dalam membantu korban bencana,” tegasnya.

Dalam proses verifikasi, Bupati Edi juga menyoroti keterbatasan personel di lapangan. Karena itu, menurutnya, penanganan bencana harus menjadi tanggung jawab bersama dengan melibatkan berbagai unsur pemerintah. “Keterbatasan personel menjadi tanggung jawab bersama untuk dilibatkan,” katanya.

Ia menjelaskan, proses verifikasi tidak hanya dilakukan oleh tenaga teknis, tetapi melibatkan aparatur yang sehari-hari bekerja langsung di tengah masyarakat. Para petugas di lapangan antara lain berasal dari penyuluh pertanian dan penyuluh keluarga berencana (KB), yang kemudian didampingi tenaga dengan spesifikasi teknis dari Dinas Cipta Karya dan PUPR.

Bupati Edi menyampaikan apresiasi kepada seluruh petugas yang telah bekerja di lapangan untuk memastikan data kerusakan rumah dapat diverifikasi.

“Puji Tuhan, semua yang melakukan verifikasi ini sehat. Perlu diapresiasi pekerjaan mereka,” tuturnya.

Ia menekankan bahwa data hasil verifikasi menjadi bagian penting dalam menentukan langkah pemerintah selanjutnya, terutama dalam memastikan penanganan korban bencana dilakukan berdasarkan kondisi riil di lapangan.

Turut hadir dalam kegiatan ekspose data kerusakan rumah ini, antara lain : Kepala Kejaksaaan Negeri Manggarai Barat, Yoanes Kardianto, serta perwakilan dari unsur Forkopimda Manggarai Barat. Pj Sekda Manggarai Barat, Pius Baut, para asisten dan pimpinan perangkat daerah lingkupa Pemkab Manggarai Barat, juga turut hadir pada kegiatan itu.***