Penulis : Mathildis Riberu Editor : Ferdy Jemaun Foto : Nina/Prokopim
Labuan Bajo, InfoMabar,- Bupati Manggarai Barat, Edistasius Endi, memberi penegasan agar revolusi budaya kerja dikalangan ASN di Manggarai Barat harus dimulai dengan berbasis data. Data jangan sampai hanya angka diatas kertas. Sebab, data akan menjadi tolok ukur dalam pengambilan kebijakan.
Di bawah langit cerah Labuan Bajo, Senin (30/03/2026) pagi, ratusan aparatur sipil negara (ASN) berdiri tegak dalam barisan Apel Kekuatan di halaman Kantor Bupati Manggarai Barat.

Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga, Yohanes Hani, berdiri tegap di barisan depan, memimpin apel itu.
Namun, pesan yang disampaikan sang inspektur upacara, Bupati Edistasius Endi, kali ini bukan sekadar rutinitas birokrasi. Ia membawa sebuah misi besar, yakni revolusi budaya kerja berbasis data di kalangan ASN.
Bupati yang akrab disapa Edi Endi ini menegaskan bahwa zaman bekerja dengan “perasaan” atau “perkiraan” sudah berakhir. Di era digital ini, akurasi data adalah harga mati bagi setiap kebijakan yang diambil pemerintah daerah.
Dalam arahannya, Bupati Edi menyoroti sebuah realita pahit yang selama ini menghambat kemajuan. Ia menyebutkan bahwa kelemahan data bukan karena ketiadaan informasi, melainkan karena ego sektoral.
“Data itu ada, tapi tanpa koordinasi dan kemauan yang kuat dari masing-masing pihak, data tersebut tidak akan terinput secara maksimal. Selama ini kita lemah di sini,” tegasnya di hadapan para staf.
Bagi Bupati Edi, data yang berserakan tidak akan menjadi informasi yang berguna jika tidak disatukan dalam satu sistem yang terintegrasi. Ia menyebut data di sektor pariwisata sebagai salah satu contoh.
Sebagai gerbang pariwisata premium, Manggarai Barat dituntut memiliki sistem pendataan yang presisi. Bupati Edi menaruh perhatian khusus pada sektor ini. Ia menginstruksikan agar setiap wisatawan yang datang didata secara rinci—by name, by address.
Langkah ini bukan tanpa alasan. Dengan data individu yang jelas, pemerintah bisa memantau pergerakan wisatawan secara akurat dan yang terpenting adalah memutus rantai “permainan harga” oleh oknum di lapangan. Transparansi data menjadi benteng pelindung bagi citra pariwisata Labuan Bajo di mata dunia.
Transformasi ini juga menyentuh sektor kesehatan. Bupati menegaskan bahwa pola lama harus segera ditinggalkan. Sistem utamanya adalah berbasis data individu yang lengkap dan digital. Sedangkan pencatatan manual hanya sebagai alat bantu atau cadangan.
Menurutnya, pengambilan kebijakan publik, terutama yang menyangkut hajat hidup orang banyak seperti kesehatan, tidak boleh meleset hanya karena salah input atau hilangnya berkas fisik.
Penegasan Bupati Edi Endi pada Apel Kekuatan ini menjadi sinyal kuat bahwa Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat tengah bertransisi menuju tata kelola pemerintahan yang lebih modern dan akuntabel. Dengan data yang akurat, setiap kebijakan yang diambil akan lebih tepat sasaran, efektif, dan mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat.
Tidak hanya soal data, Bupati Edi Endi juga memberikan instruksi tegas terkait manajemen internal pemerintahan. Ia memerintahkan setiap pimpinan OPD untuk memberdayakan staf secara berjenjang, mulai dari bidang, seksi, hingga petugas teknis.
“Saya perintahkan kepada masing-masing pimpinan OPD, berdayakan staf di unit kerjanya masing-masing. Harus berjenjang. Kepala Dinas menunjuk Bidang. Bidang menunjuk seksi, seksi menunjuk satu orang yang bertanggung jawab. Hentikan kebiasaan omong ‘sudah’ tetapi kenyataannya tidak. Jaman dulu mungkin orang masih bisa dipercaya kalau bicara ‘sudah’, saat ini tidak bisa lagi. Misalnya terkait pelaporan LPPD, dengan gagah lugas dinyatakan ‘sudah’, tapi ‘sudah’-nya dimana?” tegasnya mengkritisi budaya kerja lama.
Atas semua penegasan pada apel kekuatan itu, kini, Bupati Edi menanti hasil dari revolusi budaya kerja di kalangan ASN itu.***


