
Penulis : Gonzales
Editor : Hans
Labuan Bajo :Infomabar-sebanyak 34 guru mapel Matematika dan 64 siswa mengikuti Pelatihan matematika metode Gasing yang dirancang Profesor Yohanes Surya. 10 orang akademisi dari tim Gasing Akademi datang ke Manggarai Barat untuk mendampingi para guru dan siswa di SMP St. Yosep selama diklat yang berlangsung sehari di Aula SMP St. Yosep, Senin (13/4/2026).
Pelatihan itu mengusung pendekatan gampang, asyik, dan menyenangkan ( gasing) . metode ini ingin menggeser anggapan bahwa matematika ini pelajaran paling sulit melalui bermain bernyanyi dan sebagainya.
Pendiri metode Gasing, Prof. Yohanes Surya,melalui sambungan video menyampaikan keyakinannya bahwa pelatihan di Manggarai Barat akan berjalan seru dan membawa perubahan besar.
“Saya percaya bahwa pelatihan kali ini pun akan seru sekali dan akan membuat guru-guru maupun siswa-siswa di Kabupaten Manggarai Barat merasakan asyiknya dan nikmatnya bagaimana Gasing itu membuat matematika menjadi sangat mudah, sangat asyik, dan sangat menyenangkan,” ujarnya.
Ia optimistis bahwa metode ini akan mengubah cara pikir dan cara mengajar guru-guru di Manggarai Barat ke depan. “Saya percaya bahwa ke depannya anak-anak di Kabupaten Manggarai Barat ini tidak akan lagi mengalami kesulitan. Dan saya akan melihat ke depannya banyak pemimpin-pemimpin nasional nanti muncul dari Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur,” ungkapnya penuh semangat.
Prof. Yohanes Surya pun mengucapkan terima kasih kepada Bupati serta semua pihak yang mendukung terselenggaranya pelatihan ini.

Foto : Gonsalez
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Manggarai Barat, Yohanes Hani optimis bahwa metode Gasing yang mengusung pendekatan gampang, asyik, dan menyenangkan akan mampu mengubah pola lama belajar matematika yang selama ini kurang mempan. Ia berharap setelah pelatihan ini, para guru dapat mengubah cara mengajar mereka di sekolah masing-masing.
“Saya percaya betul ke depan kita akan lebih cepat. Di tangan kalian saya pertaruhkan pendidikan matematika di Manggarai Barat,” ujarnya di hadapan para peserta.
Menurut Hani keberhasilan seorang guru tidak diukur dari seberapa hebat dirinya saat masih di bangku sekolah, melainkan dari seberapa baik sang guru mampu membuat anak didiknya memahami materi.
“Hebat seorang guru itu terletak pada bagaimana anak bisa memahami secara lebih baik apa yang sudah kita berikan. Terutama anak-anak kita yang berasal dari kampung-kampung dengan pemahaman matematika yang mungkin masih terbatas,” tegasnya.
Ia juga mengkritisi praktik kecurangan yang kerap terjadi dalam proses pembelajaran.
“Jangan biarkan anak kita ketika ujian melihat kiri-kanan. Jangan biarkan. Ketika kita memberikan pekerjaan rumah, jangan sampai orang tua yang mengerjakan. Kejujuran adalah fondasi,” tandasnya.


