Penulis : Gonsalez
Editor : Hans
Labuan Bajo ;Info Mabar:- Selama ini bambu di wilayah Kecamatan Mbeliling Kabupaten Manggarai Barat NTT lebih dikenal sebagai bahan bangunan dan kerajinan. Bagian lain seperti daun, rebung, dan limbahnya sering kali hanya dibiarkan menumpuk atau dibuang begitu saja. Namun, pandangan itu perlahan mulai berubah berkat sentuhan inovasi dari Kelompok Wanita Tani (KWT) Mama Bambu Wela Nara Mbeliling.
Melalui pendampingan intensif dari Tim BESTARI SAINTEK Universitas Brawijaya, para ibu-ibu tani ini diajak untuk menggali potensi lokal dan mengubah limbah menjadi berkah. Program yang diinisiasi oleh Prof. Dr. Ir. Susinggih Wijana, MS, ini berfokus pada diversifikasi produk berbasis bambu untuk menciptakan peluang usaha baru yang berkelanjutan bagi masyarakat.
“Selama ini rebung saat musim panen hanya kami olah menjadi sayur, sedangkan sisanya dibuang. Daun bambu juga belum dimanfaatkan dan hanya menjadi limbah,” ujar Mama Udis, Ketua Mama Bambu Wela Nara kepada Info Mabar, Selasa, (27/10/2026.
Kisah Mama Udis dan anggota kelompok lainnya kini berbalik arah. Dalam rangkaian lima pertemuan yang digelar pada 25 Juli hingga 2 Agustus 2026, mereka dibekali berbagai keterampilan praktis. Daun bambu yang tadinya dianggap sampah, kini diolah menjadi produk teh herbal bernilai jual. Sementara itu, rebung tidak lagi hanya menjadi sayur, melainkan disulap menjadi aneka makanan kekinian seperti keripik, abon, nuget, martabak, hingga klingking (makanan khas Jawa Timur).
Tidak berhenti pada produk pangan, kelompok ini juga belajar mengolah batang dan limbah bambu menjadi produk non-pangan yang bernilai ekonomi tinggi, seperti biochar (pupuk) dan asap cair yang diaplikasikan untuk pengasapan ikan. Tak hanya praktik mengolah, para Mama Bambu juga dibekali materi inisiasi bisnis, manajemen kelembagaan UMKM, hingga standar Good Manufacturing Practices (GMP) sederhana untuk memastikan produk yang dihasilkan aman dan berkualitas.

Ketua tim, Prof. Susinggih Wijana, kepada media ini beberapa saat lalu menjelaskan bahwa program ini dirancang tidak hanya untuk sekadar memberikan pelatihan, tetapi juga mendorong kemandirian masyarakat berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Kami ingin mendorong pertumbuhan ekonomi yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Melalui pendampingan ini, Mama Bambu diharapkan mampu meningkatkan pemahaman sekaligus mendorong penerapan inovasi secara mandiri setelah program pendampingan berakhir,” ujarnya.
Antusiasme para peserta terlihat dari partisipasi aktif mereka di setiap sesi diskusi dan praktik, termasuk saat mengunjungi Sentra Industri Kecil Menengah (IKM) untuk mengenal teknologi vacuum frying. Diharapkan, inovasi dan teknologi yang diperkenalkan ini dapat terus dimanfaatkan secara berkelanjutan, tidak hanya untuk meningkatkan keterampilan, tetapi juga menumbuhkan peluang usaha baru demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat Manggarai Barat, Kegiatan ini di danai LPDP dan Kemenrisdikti, dan menghadirkan 2orang Pakar UB ITB Hendry Cahya Aprilianto dan Dodik Pranowo.


