Home Berita Terkini Mandiri Sejak Dini, Seorang Siswa SMAN I Komodo, Pagi Jadi Pelajar Sore...

Mandiri Sejak Dini, Seorang Siswa SMAN I Komodo, Pagi Jadi Pelajar Sore Jadi Pedagang

0
417
Indro, saat menjual minuman di Puncak Bukit Silvia. (Foto : Dokpri.)
Indro, saat menjual minuman di Puncak Bukit Silvia. (Foto : Dokpri.)

Penulis : Ferdy Jemaun

Labuan Bajo, InfoMabar,- Mandiri sejak dini! Kalimat itu tak salah disematkan pada salah satu siswa kelas XII SMA Negeri I Komodo di Labuan Bajo. Sebab, selepas jam sekolah, ia segera berganti seragam, menjadi pedagang musiman di sejumlah tempat wisata di Labuan Bajo, mulai dari Water Front City, hingga Bukit Silvia.

Nama lengkapnya Indrocus Nanco. Biasa di sapa Indro. Anak ketiga dari pasangan Maksimus Nanjo dan Ibu Rosalia Jenina ini menyadari betul perjuangan kedua orang tuanya, yang dengan susah payah bekerja sebagai petani, untuk membiayai dia sekolah. Bertolak dari kesadaran itu, ia tidak mau berpasrah pada keadaan.

Indro, saat berada di ruang kelasnya di SMAN I Komodo. (Foto : Dokpri)
Indro, saat berada di ruang kelasnya di SMAN I Komodo. (Foto : Dokpri)

Rutinitas utamanya adalah belajar. Status pelajar! Dikirim orang tua ke Labuan Bajo untuk sekolah. Tapi, selepas jam sekolah, ia bergegas berganti seragam, lalu merubah identitas, dari pelajar di pagi hari menjadi pedagang di sore hari. Pedagang musiman.

Berbeda dari siswa kebanyakan, yang pagi ke sekolah, sore hingga malam duduk manis sambil menikmati gadget dengan suguhan aneka konten media sosial atau menghabiskan waktu di tempat tongkrongan sebagai ‘anak gaul’.

Indro menghabiskan waktu sore hingga malam, dengan mencoba memanfaatkan peluang pariwisata Labuan Bajo dengan menjajakan makanan dan minuman cepat saji kepada wisatawan, seperti aneka minuman dingin di siang dan sore hari, kopi panas hingga Pop Mie di malam hari.

Sejumlah tempat yang jadi sasaranya untuk berdagang adalah lokasi-lokasi yang selalu dipadati wisatawan, mulai dari Pucak Waringin (sebelum dilarang oleh pemerintah), Water Front City, hingga Bukit Silvia.

Modal Awal Dari Tukang Bangunan

Ditemui media ini di tempat jualanya di Bukit Silvia, Sabtu (23/08/2025), Indro mengaku usaha dagang itu Ia mulai pada pertengahan tahun 2023 yang lalu, beberapa bulan setelah mulai sekolah di SMAN I Komodo.

Indro, saat sedang bekerja sebagai tukang bangunan. (Foto : Dokri)
Indro, saat sedang bekerja sebagai tukang bangunan. (Foto : Dokri)

Kedua orang tuanya bekerja sebagai petani, di Golo Karot, Kelurahan Tangge, Kecamatan Lembor, dengan penghasilan yang pas-pasan. Tetapi pada saat tertentu, juga menerima orderan sebagai tukang bangunan.

Ketika masih sekolah di SMPN VII Lembor, pada saat liburan di musim sekolah, ia kerap mengikuti ayahnya untuk bekerja sebagai tukang bangunan. Di sana ia belajar menjadi tukang, hingga akhirnya bisa memperoleh pengalaman untuk mengerjakan bangunan, khususnya cor.

Pengalaman itupun ia jadikan sebagai modal utama untuk menawarkan jasa. Hingga sekali waktu, ia dipercaya oleh salah satu keluarga di Golo Koe, Labuan Bajo, untuk mengerjakan pagar tembok rumah, memanfaatkan waktu sepulang sekolah.

“Hasil dari kerja pagar tembok itulah saya manfaatkan sebagai modal awal untuk berdagang makanan dan minuman ini,” aku Indro.

Modal itu ia pakai untuk membeli 2 buah termos air, kopi asli Manggarai, gula, dan aneka minuman sachet lainnya, serta persiapan untuk membayar ojek menuju lokasi jualan. Pada masa awal usahanya itu, Ia memang harus menggunakan jasa ojek menuju lokasi jualan. Ia tinggal di Golo Koe, ‘nebeng’ dengan keluarga dekat.

Bagaimana dengan keuntungan usaha? “Pada masa awal itu, saya bisa meraup keuntungan perhari antara Rp. 10 ribu hingga Rp. 30 ribu. Itu laba bersih,” akunya.

Dari waktu ke waktu, ia semakin rajin, sebab usaha dagangnya itu terasa sangat menguntungkan. Jenis minumanpun ia tambah. Jika sebelumnya hanya kopi, gula dan minuman sachet, belakangan ia tambah dengan Fanta, Coca Cola dan Sprite yang dibeli dengan ukuran krat.

Perubahan berikutnya pada sistem menjual. Jika sebelumnya dengan cara berjalan keliling, Ia mendekati pembeli, kini Ia jual ditempat, di bawah payung-tenda yang Ia beli sendiri. Pembeli yang mendekatinya.

Demikian juga dengan akses ke lokasi jualan. Jika dulu menggunakan jasa ojek, kini, ia sudah menggunakan sepeda motor milik sendiri, hasil dari jualan.

Indro, dengan Sepeda Motor hasil usahanya, sedang mengangkut bahan jualan menuju lokasi. (Foto : Dokpri)
Indro, dengan Sepeda Motor yang Ia beli sendiri, sedang mengangkut bahan jualan menuju lokasi. (Foto : Dokpri)

“Puji Tuhan, dari hasil berdagang makanan dan minuman ini, saya sudah bisa beli motor sendiri. Cash,” ungkapnya, seraya menambahkan bahwa Ia juga membantu orang tuanya untuk membiayai sekolah adiknya, yang saat ini sedang duduk di kelas X SMK Nggorang.

Aktifitas berdagangnya itu, aku Indro, sama sekali tidak mengganggu konsentrasinya untuk belajar.

“Sebab untuk kepentingan sekolah, yang paling dibutuhkan itu adalah pikiran untuk mengingat yang diajarkan guru dan membaca buku. Saya bisa membaca sambil jualan. Sedangkan berdagang ini yang utama yang dibutuhkan adalah tenaga atau fisik. Jadi, puji Tuhan, saya bisa menjaga keseimbangan keduanya, antara membaca buku untuk sekolah dan menjaga fisik atau tenaga untuk berdagang,” akunya.

Selain berdagang setelah jam sekolah, Indro juga kerap menerima tawaran untuk menjadi tukang bangunan. Untuk tawaran tukang bangunan ini, Ia bisa terima jika sekolah sedang libur, karena pekerjaanya harus ia mulai sejak pagi.

Baik aktifitasnya sebagai pedagang musiman maupun sebagai tukang bangunan, aku Indro, sempat mendapat cibiran dari teman-teman sebayanya bahkan orang-orang di kampungnya. Tapi Ia tidak peduli. Sebab yang Ia lakukan merupakan bagian dari persiapanya untuk masa depan. Sehingga pada saatnya, Ia tidak lagi bergantung pada orang tua.

“Sekolah adalah bagian dari persiapan orang tua untuk masa depan saya. Sebagai anak, saya tidak boleh sia-siakan. Tapi, pada saatnya, orang tua saya pasti tidak lagi mampu bekerja. Saat itu nanti, saya harus sudah mandiri. Dan saya persiapkan itu sejak dini,” akunya.***