Penulis : Gonsalez Editor : Ferdy Jemaun
Labuan Bajo, InfoMabar,- Kontribusi sampah dari sektor Hotel, Restoran dan Kafe (Horeka) di Labuan Bajo mencapai angka 30 persen. Untuk meminimalisir angka itu, dibutuhkan kerja sama multy pihak secara bergotong royong, tanpa sekat dan jeda.
Penegasan itu disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Fransiskus S. Sodo, saat membuka acara Sosialisasi Pengelolaan Sampah untuk Sektor Horeka (Hotel, Restoran, dan Kafe) Klaster Flores, yang berlangsung di Gedung PLUT, Kompleks Brimob, Batu Cermin, Labuan Bajo, pada Selasa (21/8/2025).

Kegiatan itu mengangkat urgensi penanganan sampah dari sektor pariwisata di Labuan Bajo yang terus berkembang pesat.
Dalam sambutannya, Sekda Fransiskus mengungkapkan bahwa inisiatif dari Kementerian Lingkungan Hidup melalui Pusat Pengendalian Pembangunan Lingkungan Hidup (Pusarpedal) Regional Bali dan Nusa Tenggara sangat tepat dan strategis. Ia menekankan bahwa pertumbuhan kunjungan wisatawan ke Labuan Bajo yang sangat tinggi, dengan rata-rata 2.200 hingga 2.500 orang per hari, berkontribusi signifikan terhadap timbunan sampah.
“Dari data yang disampaikan, kontribusi sektor Horeka terhadap sampah di Labuan Bajo mencapai sekitar 30%. Jika kita bisa bekerjasama menangani 30% ini dengan efektif, maka kita sudah menyelesaikan persoalan sampah yang cukup signifikan,” ujar Fransiskus.
Sekda juga mengakui sejumlah tantangan dalam hierarki pengelolaan sampah di wilayahnya. Di tingkat hulu, pemilahan sampah organik dan anorganik dari rumah tangga dan usaha masih belum berjalan optimal. Di tingkat tengah, keberadaan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) belum berfungsi secara maksimal.
“Kita masih bergantung pada skema open dumping di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Sekitar 16% lebih sampah masih dibuang ke TPA dan ini sangat mengkhawatirkan. Jika dalam 2-3 tahun ke depan tidak ada perubahan, TPA kita bisa jebol,” tegasnya.
Oleh karena itu, Fransiskus S. Sodo kembali menegaskan pentingnya kolaborasi semua pihak. Ia berterima kasih kepada semua pimpinan Dinas Lingkungan Hidup se-pulau Flores, instansi vertikal, serta para pelaku usaha Horeka dan kapal wisata yang hadir dalam sosialisasi tersebut.
“Kami menyampaikan terima kasih terhadap inisiasi ini. Labuan Bajo adalah destinasi super prioritas. Marilah kita bersama-sama menjaga kebersihan dan keindahannya untuk keberlanjutan pariwisata kita,” tutupnya.
Sampah Itu Tantangan Lingkungan Yang Serius
Acara sosialisasi yang dihadiri oleh perwakilan dari Kementerian Lingkungan Hidup, Kepala Balai Taman Nasional Komodo, pimpinan perangkat daerah, serta puluhan perwakilan dari sektor Horeka dan kapal wisata di Labuan Bajo, ini menekankan urgensi penanganan sampah dari sumbernya untuk mendukung pariwisata berkelanjutan di destinasi super prioritas tersebut.

Kepala Pusat Pengendalian Wilayah Bali dan Nusa Tenggara, Ni Nyoman Sarti, yang bergabung secara daring, menyatakan bahwa perkembangan pariwisata Manggarai Barat, khususnya Labuan Bajo, sangat menggembirakan namun juga membawa tantangan lingkungan yang serius.
“Pariwisata tidak saja membawa devisa dan lapangan pekerjaan, tetapi juga membawa permasalahan lingkungan, membawa tekanan terhadap daya dukung dan daya tampung Manggarai Barat,” ujarnya.
Ia memaparkan, timbulan sampah di Manggarai Barat mencapai 51.000 ton per tahun, dimana 30% di antaranya disumbang oleh sektor Horeka-ka dan pariwisata.
Turut hadir dalam acara ini perwakilan dinas lingkungan hidup se-Klaster Flores, asosiasi PHRI, pelaku usaha Horeka-ka, serta pegiat lingkungan.
Tujuan utama dari kegiatan ini adalah meningkatnya pengetahuan dan komitmen pelaku usaha dalam mengelola sampah untuk mendukung target nasional pengelolaan sampah terkelola 51,2% pada akhir tahun 2025 dan 100% pada tahun 2029.***


