Penulis : Ferdy Jemaun Sumber : Release Prokopim
Maumere, InfoMabar,- Bupati Manggarai Barat, Edistasius Endi mendapat kehormatan untuk bicara di hadapan para Uskup se-wilayah Provinsi Gerejawi Ende dan para Bupati se-daratan Flores dan Lembata. Kolaborasi antara pemerintah dan gereja untuk peningkatan ekonomi umat, menjadi fokus utama.
Siang itu, Kamis (12/03/2026), udara sejuk Nita menyelimuti kompleks Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret. Di tempat yang biasanya tenang sebagai kawah candradimuka para calon imam ini, suasana tampak sedikit berbeda. Deretan mobil dinas dan wajah-wajah pemimpin daerah sedaratan Flores dan Lembata berkumpul dalam sebuah agenda penting: “pertemuan strategis bersama Uskup se-wilayah Provinsi Gerejawi Ende dan para Bupati se-daratan Flores dan Lembata.”

Sebagaimana release Prokopim, hadir dalam kegiatan ini Uskup Agung Ende Mgr. Paulus Budi Kleden, Uskup Maumere Mgr. Edwaldus Martinus Sedu, Uskup Denpasar Mgr. Silvester San, Uskup Larantuka Mgr. Yohanes Hans Monteiro, Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus, Vikjen Keuskupan Ruteng, Romo Sebastian Hobahana.
Selain para petinggi gereja katolik, turut hadir dalam kegiatan ini para bupati se-daratan Flores dan Lembata, yaitu : Bupati Kabupaten Sikka Juventus P. Y. Kago, Bupati Ende Yosef B. Badeoda, Bupati Nagekeo, Simplisius Donatus, Bupati Flores Timur Antonius D. Dihen, Bupati Lembata Petrus K. Tuaq dan Sekda Ngada Yohanse C. W. Ngebu.
Di tengah keheningan aula, Bupati Manggarai Barat, Edistasius Endi—yang akrab disapa Bupati Edi—diberi ruang untuk bicara. Namun, ia tidak sedang berkhotbah. Di hadapannya, duduk para Uskup dan rekan sejawat sesama Bupati. Fokus pembicaraan adalah: pengembangan sektor strategis di Manggarai Barat.
Bupati Edi memaparkan bagaimana Labuan Bajo bertransformasi dari sebuah pelabuhan kecil menjadi magnet dunia. Bagi Bupati Edi, pengembangan sektor strategis di Manggarai Barat bukan sekadar membangun hotel berbintang atau dermaga megah.
Pariwisata, kata Bupati Edi, adalah sektor andalan di Manggarai Barat. Tapi pariwisata itu tidak dibiarkan berdiri sendiri di atas menara gading. Efek domino dari pariwisata harus menyentuh piring nasi, mulai dari para pelaku wisata, nelayan hingga para petani sayur dan buah di pelosok.

Bagian paling menarik dari narasi yang dibawakan Bupati Edi adalah pengakuannya akan peran vital Gereja Katolik. Baginya, pemerintah punya anggaran dan regulasi, namun Gereja punya umat dan nilai-nilai moral yang mengakar kuat.
“Pemerintah tidak bisa berjalan sendirian. Kolaborasi antara Pemerintah dan Gereja adalah titik kunci. Gereja memiliki kedekatan emosional dengan masyarakat yang tidak selalu bisa dijangkau oleh birokrasi,” ujar Bupati Edi.
Ia menggambarkan kolaborasi ini sebagai sebuah sinergi di mana pembangunan fisik yang dikerjakan pemerintah harus berjalan beriringan dengan pembangunan manusia yang dibina oleh pihak Keuskupan. Tanpa keterlibatan Gereja dalam mengedukasi umat tentang keramah-tamahan (hospitality) dan pelestarian lingkungan, pariwisata akan kehilangan rohnya.
Pertemuan ini bukan sekadar diskusi formal, melainkan simbol persatuan daratan Flores dan Lembata. Di bawah atap Seminari Ritapiret, para pemimpin ini sepakat bahwa konektivitas antar-kabupaten adalah keharusan agar Labuan Bajo tidak menjadi “pulau kemakmuran” yang terisolasi, melainkan lokomotif yang menarik gerbong ekonomi seluruh Flores.
Sambil menutup paparannya, Bupati Edi meyakini bahwa jika pemerintah dan gereja sudah duduk satu meja dengan visi yang sama, maka tantangan sebesar apa pun di masa depan akan lebih mudah diurai.
Siang itu di Nita, pertemuan berakhir dengan jabat tangan erat. Sebuah pesan kuat dibawa pulang oleh setiap pemimpin: bahwa membangun Flores adalah tentang menenun kolaborasi, dari altar, ke kantor-kantor pemerintah, kemudian merambat hingga ke lorong-lorong rumah warga.***


