Penulis : Ferdy Jemaun
Labuan Bajo, InfoMabar,- Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB), tak berhenti menyuluh, membangkitkan kesadaran masyarakat akan berbagai hal positif, termasuk upaya untuk menekan angka stunting di wilayah kerjanya. Salah satunya dengan menginisai pembentukan Kelompok Wanita Tani, tidak hanya untuk menghasilkan sayur dan buah yang berkualitas, tetapi juga untuk pengembangan UBSP yang hasilnya dapat dinikmati bersama.
Demikian diungkapkan Timoteus Naka Purnama, salah seorang PLKB yang bertugas di Kecamatan Lembor Selatan, saat dihubungi InfoMabar dari Labuan Bajo, Jum’at (19/09/2025) siang.

Diakuinya bahwa walau ia ditugaskan di wilayah Kecamatan Lembor Selatan, tetapi ia merasa terpanggil untuk melakukan ‘penggerakan’ terhadap masyarakat di tempat dimana ia tinggal, yakni di Golo Karot, Kelurahan Tangge, Kecamatan Lembor.
Di Golo Karot, ia berhasil menginisasi terbentuknya sebuah Kelompok Wanita Tani, yang ia beri nama Kelompok Tani Ntala Golo Karot.
“Idenya sudah ada sejak beberapa tahun yang lalu. Baru terwujud, bulan Februari tahun 2025 ini,” akunya seraya menambahkan bahwa yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani ini ada sekitar 20-an keluarga.
Setelah bersepakat untuk membentuk kelompok, semua keluarga yang dikumpulkanya itu mencoba memanfaatkan lahan tidur yang selama ini dibiarkan kosong, untuk ditanami aneka sayur, seperti Terong, Kangkung, Kacang Panjang dan sejumlah jenis sayur lainnya.
Saat ini, kata Timoteus, hasil kebun itu sudah mulai panen. Pada tahap awal ini, hasil panen akan dijual pada tetangga sekitar, atau dibeli oleh anggota kelompok, sebagai modal awal untuk dilakukan pengembangan sebagai Usaha Bersama Simpan Pinjam (UBSP).
“Ada kebun yang sudah mulai panen. Lalu kami ada UBSP yang sudah berjalan 4 bulan ini. Modal awalnya skitar Rp. 3 juta. Dan sekarang sudah Rp. 6 jutaan,” jelasnya.
Timoteus berharap agar dengan UBSP yang ia bentuk melalui Kelompok Wanita Tani Ntala ini, masyarakat sekitar atau minimal anggota kelompok, tidak lagi terjebak utang koperasi harian atau mingguan yang bunganya sangat ‘mencekik’.

Lebih dari itu, sebagai Penyuluh KB di BKKBN, yang salah satu tugas utamanya adalah bertanggung jawab untuk menekan angka stunting, aku Timoteus, maka Kelompok Wanita Tani Ntala ini, akan ia jadikan sebagai ‘best practice’ ruang berbagi ilmu tentang banyak hal, utamanya tentang bagaimana mengatasi Stunting dengan menikmati sayur yang bernilai gizi dan kebersihanya terjamin.
“Sebenarnya ada banyak hal positif yang bisa dipetik dari pembentukan kelompok ini, tidak hanya soal bagaimana mengatasi stunting, tetapi juga bagaimana memanfaatkan lahan kosong, memanfaatkan waktu, hingga menciptakan lapangan pekerjaan,” uangkapnya.
Diakui pula Timoteus, bahwa keberadaan Kelompok Wanita Tani Ntala ini didukung penuh oleh para suami. Salah satu wujud dukungan adalah para suami turut aktif, tidak saja dalam mengelola kebun bersama, tapi juga turut hadir pada setiap kegiatan evaluasi kelompok.
“Dengan demikian, kelompok ini akan menjadi milik bersama, tidak hanya oleh para istri (wanita, Red.), tetapi juga oleh para suami. Akan ada rasa memiliki dari mereka semua,” uangkapnya.
Saat ini, lanjut Timoteus, ia bersama anggota kelompok sedang berupaya melakukan pendekatan terhadap instansi terkait, seperti Dinas Pertanian, agar kelompok yang dibentuknya ini mendapat legalitas dari pemerintah.
“Jika sudah mendapat legalitas, maka saya yakin, kelompok ini akan mendapat perhatian dari pemerintah,” ungkapnya.
Ke depan, lanjut Timoteus, sebagai orang BKKBN, maka kelompok ini akan ia dijadikan sebagai Kelompok Kegiatan (Poktan) Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Akseptor (UPPKA), agar dapat terus dibina dan didampingi sampai mandiri.***


