Penulis : Gonsales Editor : Ferdy Jemaun
Labuan Bajo, InfoMabar,- Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, melalui Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif dan Kebudayaan, mengajak semua pihak untuk menghidupkan kembali identitas budaya lokal, dengan menggelorakan musik tradisional Bambu. Upaya ini juga beriringan dengan optimalisasi industri pariwisata Labuan Bajo.
Ajakan itu disampailan Kepala Dinas Parekrafbud, Kabupaten Manggarai Barat, Peter Antonius Rasyd, dalam kegiatan Pelatihan Seni Musik Tradisional Bambu Tingkat SMA se-Kabupaten Manggarai Barat yang berlangsung di Hotel Prundi, Labuan Bajo, Sabtu (10/10/2026).

Peter A. Rasyd  menyoroti bahwa di era kecerdasan buatan (AI) dan kemajuan teknologi saat ini, kebudayaan menghadapi dampak yang sangat besar, baik positif maupun negatif. Menurutnya, semua itu sangat bergantung pada bagaimana manusia sebagai pengguna menyikapinya.
Ia menjelaskan bahwa Dinas Parekrafbud memiliki tugas pokok dan fungsi untuk mengoordinasi, mengatur, serta melestarikan kebudayaan. Budaya dipandang dari dua sisi, yakni sebagai identitas yang hidup melekat dalam kehidupan masyarakat Manggarai Barat, sekaligus sebagai penopang sektor pariwisata.
“Bagaimana kita menghidupkan budaya sebagai identitas, di sisi lain bagaimana kita mengoptimalkan keberadaan budaya untuk mendukung industri kepariwisataan yang sedang booming dan happening di Labuan Bajo maupun Manggarai Barat,” jelasnya.
Ia memaparkan data survei menunjukkan adanya kenaikan alasan wisatawan berkunjung ke Labuan Bajo. Jika sebelumnya atraksi budaya berada di angka 5 persen, kini telah naik menjadi 7 persen.
“Aktivitas bahari seperti menyelam, snorkeling, maupun mengunjungi Komodo masih menjadi daya tarik utama. Tetapi ada daya tarik tersendiri yang diungkapkan wisatawan, yaitu atraksi budaya,” ungkapnya.
Meski survei tersebut tidak merinci bentuk atraksi budaya yang dimaksud, ia meyakini musik tradisional bambu dapat menjadi salah satu komponen di dalamnya yang mampu memikat wisatawan untuk tinggal lebih lama di Labuan Bajo dan Manggarai Barat.
Peter juga mengingatkan bahwa pemerintah daerah pernah memiliki regulasi yang mewajibkan pelaku usaha, seperti hotel dan restoran, untuk memutar musik tradisional atau instrumental daerah.
“Kita memang pernah punya regulasi, ada kewajiban bagi pelaku usaha untuk memutar musik tradisional, bukan hanya musik galau-galau. Jadi kalau di BUMN atau kementerian ada kewajiban memutar lagu Indonesia Raya jam 10 pagi, kita juga mengeluarkan kebijakan terkait kewajiban memutar lagu-lagu tradisional Manggarai di fasilitas umum seperti hotel dan restoran,” paparnya.
Menurutnya, langkah ini penting untuk membangkitkan rasa cinta terhadap budaya, karena ketika seseorang sudah mencintai sesuatu, ia akan berusaha mempertahankannya.
Ia mengingatkan bahwa sebelum mengenal gitar, para orang tua dan nenek moyang masyarakat Manggarai dahulu bermain musik dengan bambu. Nilai-nilai budaya itu, katanya, harus dihidupkan kembali agar tidak terkikis oleh kemajuan teknologi dan dampak pariwisata.
“Wisatawan mancanegara mencari sesuatu yang unik, yang tidak ada di wilayah mereka. Mereka tidak mencari musik pop yang sudah biasa di tempat mereka, tetapi mencari sesuatu yang asli, natural, dan tidak ditemukan di tempat lain. Seperti halnya Komodo yang hanya ada di sini, tidak ada di Amerika, Inggris, Prancis, maupun Cina,” tuturnya.
Peter  berharap kegiatan pelatihan ini menjadi langkah kecil yang membedakan, serta stimulus bagi pemerintah kabupaten dan dinas terkait untuk terus memfasilitasi pelestarian musik tradisional bambu.
“Kami tidak bisa mendampingi terus-menerus. Kami hanya memfasilitasi sesuatu yang sebenarnya sudah ada dan bisa memberi nilai lebih bagi budaya maupun pariwisata kita,” ujarnya.
Ia mendorong pihak SMA dan para guru untuk mulai memikirkan pembentukan sanggar budaya di sekolah masing-masing, dengan musik bambu sebagai salah satu pentas utamanya. Hal ini dinilai dapat menjadi daya tarik wisata di desa-desa, termasuk di kawasan Wae Lolos dan sekitarnya.
Peter  menegaskan bahwa Dinas Pariwisata bukanlah “single fighter” dalam pengembangan musik tradisional. Ia diberi kewenangan untuk mengatur dan melestarikan, tetapi tanpa kolaborasi, semua itu semu.
Peter  menegaskan bahwa Dinas Pariwisata bukanlah “single fighter” dalam pengembangan musik tradisional. Ia diberi kewenangan untuk mengatur dan melestarikan, tetapi tanpa kolaborasi semua pihak, upaya itu tidak akan berhasil.
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Butuh kolaborasi dari teman-teman semuanya. Adik-adik bisa menjadi duta generasi Z untuk mendorong pelestarian musik bambu ke depan,” pungkasnya.
Ia juga berpesan agar peserta tidak kembali terjebak pada lagu-lagu populer semata.
“Jangan sampai nanti pas pulang, lagu ‘helikopter-helikopter’ lebih banyak ketimbang musik bambu. Mari kita mulai sesuatu yang sebenarnya hidup dan menjadi bagian dari nenek moyang kita,” ajaknya.
Kegiatan pelatihan ini diharapkan menjadi langkah awal yang berkelanjutan, dengan rencana tindak lanjut dari para guru dan siswa untuk terus melestarikan musik tradisional bambu sebagai identitas sekaligus daya tarik pariwisata Manggarai Barat****


