Home Berita Terkini Felix Edon Apresiasi Upaya Pemkab Mabar Gelorakan Musik Tradisional Bambu

Felix Edon Apresiasi Upaya Pemkab Mabar Gelorakan Musik Tradisional Bambu

0
309
Felix Edon (berdiri) bersama para pemain musik tradisional Bambu. (Foto : Ist.)
Penulis : Gonsalez 
Editor : Ferdy Jemaun

Labuan Bajo, InfoMabar,- Maestro musik tradisional Manggarai, Felix Edon, merespon positif upaya Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, melalui Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif dan Kebudayaan, untuk menggelorakan musik tradisional bambu, sebagai bagian dari upaya optimalisasi industri pariwisata Labuan Bajo.

Felix Edon menilai bahwa upaya yang dilakukan oleh Pemkab Mabar itu merupakan hal yang sangat positif dan akan berdampak sangat baik, untuk menempatkan budaya lokal dalam ruang industri pariwisata yang kini makin pesat.

Musik tradisional Bambu. (Foto : Ist.)

“Ini upaya yang sangat baik, untuk bisa menghidupkan kembali identitas budaya lokal kita ditengah industri pariwisata yang semakin pesat,” jelas Felix Edon, kepada InfoMabar di Labuan Bajo, Sabtu (10/10/2026).

Sebagaimana diberitakan media ini sebelumnnya, bahwa Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Kebudayaan (Disparekrafbud) Kabupaten Manggarai Barat terus mendorong pengembangan musik tradisional bambu sebagai salah satu daya tarik wisata budaya.

Baca : Hidupkan Identitas Budaya Lokal, Pemkab Mabar Gelorakan Musik Tradisional Bambu

Upaya tersebut diwujudkan melalui pelatihan musik tradisional Manggarai yang menghadirkan maestro musik tradisional, Felix Edon, sebagai narasumber utama. Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan siswa tingkat SMA se-Kabupaten Manggarai Barat.

Pelatihan yang digelar Disparekrafbud Mabar ini menjadi bagian dari strategi memperkuat sektor pariwisata berbasis budaya. Musik tradisional bambu, khususnya Cakatinding atau Mbetung/Tinding, dinilai memiliki nilai jual sebagai atraksi wisata yang autentik dan mampu memperkaya pengalaman wisatawan yang berkunjung ke Labuan Bajo khususnya dan Manggarai umumnya.

Dalam paparannya, Felix Edon menjelaskan bahwa Cakatinding telah lama hidup di tengah masyarakat Manggarai. Dahulu, alat musik ini digunakan para petani sebagai penghibur di sawah dan kebun, sekaligus penanda keberadaan manusia untuk mengusir hama seperti Kera, Babi Hutan, dan Burung. Kini, Cakatinding telah bertransformasi menjadi alat musik pertunjukan yang mampu berkolaborasi dengan alat musik modern.

“Cakatinding sudah bisa berkolaborasi dengan suling, juk, gendang, gong, biola, bahkan bass gitar, gitar akustik, dan kajon. Alat ini sudah masuk dalam kelompok alat musik pertunjukan,” ujar Felix di hadapan para peserta.

Ia juga memaparkan sejarah perkembangan Cakatinding, mulai dari penggunaan sebagai musik ritmik oleh Sanggar Lawe Lenggong pada 1990-an, keterlibatannya dalam acara HUT RI tahun 2004 bersama 646 siswa se-Kecamatan Langke Rembong, hingga penampilannya di Festival Musik Bambu tingkat Provinsi NTT di Kupang tahun 2013. Pada tahun 2021, Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Bali melakukan penelitian terhadap alat musik ini, dan pada 21 Oktober 2022, Cakatinding resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Nasional (WBTb) oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI.

Sejalan dengan Felix, Kepala Bidang Budaya Disparekrafbud Mabar, Fransiskus Selmas, dalam pemaparannya pada kegiatan itu menyampaikan bahwa pengembangan musik tradisional bambu tidak hanya bertujuan melestarikan warisan leluhur, tetapi juga untuk memperkuat identitas budaya daerah sebagai daya tarik wisata.

“Wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati keindahan alam, tetapi juga ingin merasakan pengalaman budaya yang khas. Musik bambu Manggarai adalah salah satu aset yang bisa kita tawarkan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Fransiskus menegaskan bahwa melestarikan budaya Manggarai bukan sekadar menjaga masa lalu, melainkan mempersiapkan identitas untuk masa depan.

“Melestarikan budaya Manggarai itu bukan soal menjaga masa lalu, tapi soal mempersiapkan identitas di masa yang akan datang. Membangun pariwisata tanpa budaya adalah sebuah industri tanpa jiwa. Karena itu, pelatihan musik tradisional bambu yang diisi dengan materi sosialisasi Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah adalah penting, demi membangun spirit dan mindset. Harapannya, pasca pelatihan ini para peserta bisa dan dapat mengaplikasikannya pada tataran operasional di lapangan, baik di sekolah maupun di komunitas mereka,” jelas Fransiskus.

Dalam pelatihan tersebut, para siswa diajarkan teknik pembuatan Cakatinding, mulai dari pemilihan bambu jenis Pering yang sudah tua, pemotongan pada saat bulan mati, hingga proses pembentukan nada pentatonik Manggarai do re mi sol la (C D E G A). Mereka juga dilatih melakukan stem nada menggunakan alat musik standar seperti suling, pianika, atau organ.

Felix berharap pelatihan ini dapat menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap musik tradisional.

“Mari terus merawat, menjaga, dan melestarikan Cakatinding sebagai warisan leluhur Manggarai. Ini bukan hanya soal musik, tetapi juga tentang menjaga identitas dan kebanggaan kita sebagai orang Manggarai,” pungkasnya.

Dengan adanya pelatihan ini, Disparekrafbud Mabar optimistis musik tradisional bambu dapat menjadi salah satu produk wisata budaya unggulan yang mampu menarik lebih banyak wisatawan ke Labuan Bajo dan sekitarnya, sekaligus memberdayakan masyarakat lokal di sektor ekonomi kreatif***