
Oleh : Ferdy Jemaun
Ruang VIP Bandara Internasional Komodo di Labuan Bajo, pada hari itu, Jum’at (15/11/2025) penuh sesak. Wakil Gubernur NTT, Johny Asa Doma, Bupati Manggarai Barat, Edistasius Endi dan sejumlah unsur Forkompimda, Wakil Bupati Manggarai Barat, dr. Yulianus Weng serta sejumlah pejabat teras partai politik, baik dari tingkat Propinsi NTT maupun dari tingkat Kabupaten Manggarai Barat, berbaur dengan sejumlah staf dari Kementerian.

Semua kursi di ruangan itu tak ada lagi yang kosong. Terisi penuh oleh para pejabat. Sesak. Yang tak ‘berpangkat’, terpaksa berdiri. Masing-masing setia menanti.
Hari itu, Pemprop. NTT dan Pemkab. Manggarai Barat memang sedang menunggu agenda kunjungan dari 3 orang Menteri Kabinet Merah Putih, yakni : Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan RI, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Menteri Transmigrasi RI, Iftitah Sulaiman Suryanegara, serta Menteri Ekonomi Kreatif RI, Teuku Rifky Harsya. Mereka datang bersamaan, pada hari dan jam yang sama.
Sekitar pukul 13.12 seluruh tamu di ruangan itu tiba-tiba beranjak menuju area yang biasa dijadikan sebagai tempat penjemputan tamu-tamu kehormatan. “Pesawat Pak Menko dan rombongan sudah mendarat,” ujar seorang staf Bandara, seperti memberi komando.
Gong dan Gendang ditabuh. Irama ‘ndundu ndake’ menggema, memacu penari ‘Tiba Meka’ meliukkan jemari dan pemain caci menghentakan kaki. Ada pemain Caci? Ya, satu pasang! Mereka siswa sekolah. Tidak sedang bertanding. Hanya sebuah pertunjukan. Menko AHY dan rombongan disambut oleh para penari dan pemain caci itu.
Menko AHY kemudian melangkah. Badannya tegap. Lengannya berotot. Fisik tentara masih melekat. Ia menerima jabatan tangan dari tuan rumah, mulai dari Wagub Johny Asa Doma, Bupati Edi hingga Politisi Anita Jacob Gah. Ketiga perwakilan tuan rumah itu kemudian mengalungkan kain songke dan topi Manggarai, masing-masing kepada ketiga Menteri.
Sesaat kemudian, juru bicara adat Manggarai menuturkan sapaan selamat datang dalam prosesi Tuak Curu. Bertutur dengan Go’et Manggarai, lengkap dengan Bongko/Robo di tangan. Menko AHY pasti tak mengerti. Matanya fokus di Tuak Bongko. Juru bicara selesai bertutur. Tuak Bongko itupun di serahkan ke Menko AHY. Ia terima dengan telapak tangannya yang mulus, lalu memegangnya sekian detik. Dia seperti penasaran.
Bupati Edi rupanya menangkap rasa penasaran itu, lalu segera mengucapkan maknanya. “Prosesi ini namanmya Tuak Curu. Prosesi penjemputan. Kendi itu namanya Bongko atau Robo dalam bahasa Manggarai. Isinya Tuak, Sopi. Minuman tradisional, yang secara turun temurun kami jadikan sebagai simbol budaya ucapan selamat datang kepada setiap tamu kehormatan. Kami meyakini bahwa Pak Menko telah melewati perjalanan teramat jauh. Pasti haus dan dahaga. Sebagai tuan rumah, kami tidak mengijinkan Pak Menko minum air yang sumbernya tidak jelas. Maka kami siapkan minuman yang diwariskan oleh leluhur kami. Ini air kehidupan,” terang Bupati Edi.
Mata Menko AHY tetap fokus di Tuak Bongko, lalu mengangguk dan berucap, “terima kasih.” Sesaat kemudian, Wagub Johny dan Bupati Edi mengajak Menko AHY dan dua Menteri lainya memasuki ruang V-VIP Bandara.

Di ruangan V-VIP itu telah tersedia 8 unit kursi mewah, berderet membentuk huruf ‘U’. 1 unit kursi yang terletak di bagian timur ruangan untuk Menko AHY, sisanya untuk para pejabat lainya. Udaranya sejuk. Pengharum ruangan tercium hingga pintu masuk.
Seisi ruangan sudah dalam posisi duduk. Protokol kementerian lalu memberi isyarat, untuk prosesi adat berikutnya, ‘Manuk Kapu’. Juru bicara adat kemudian memasuki ruangan itu dengan seorang pendamping yang membawa seekor ayam. Ayam jantan berwarna putih.
Menyambut kehadiran juru bicara adat ini, Menko AHY langsung merubah posisi duduk, yang awalnya bersandar lalu tegak. Sejenak ia membetulkan posisi Topi Manggarai yang sempat miring di kepalanya.
Juru bicara adat kemudian menuturkan prosesi adat Manuk Kapu, dengan go’et Manggarai yang hanya dimengerti oleh Bupati Edi. Sebab seisi ruangan, hanya Bliau yang orang Manggarai. Sisanya, para pejabat dari Kementerian plus Wagub Johny.
Selama juru bicara adat bertutur, Menko AHY dengan cermat mendengar. Matanya fokus tertuju pada Ayam Jantan berwarna putih, yang kedua kakinya diikat tali rafia berwarna Biru Tua. Telapak tangan mulus Menko AHY sempat memegang ayam putih itu, saat juru bicara selesai bertutur.
Bupati Edi paham betul, bahwa Menko AHY tidak sedikitpun memahami go’et Manggarai yang diucapkan. Maka iapun segera menjelaskan maknanya.
“Prosesi ini namanya Manuk Kapu. Manuk itu artinya Ayam, kapu artinya pangku. Setelah Bapak Menko masuk ke dalam kami punya rumah, lalu duduk melingkar bersama kami, maka sebagai tamu, Bapak harus kami pangku, sebagai ungkapan syukur dan terima kasih serta wujud kebanggaan kami atas kerelaan Bapak Menko datang berkunjung. Pangkunya dengan menggunakan Ayam sebagai simbol.
Mengapa Ayam? Karena Ayam ini adalah ternak peliharaan yang kami anggap suci yang bisa menjembatani kami dengan para leluhur. Sebab, selain mengucap syukur, melalui Ayam ini kami juga memohon kepada leluhur, agar selama berada di Labuan Bajo, Bapak Menko dan rombongan dilindungi dari segala yang jahat.
Warna Ayam ini harus putih, sebagai simbol kami menerima kehadiran Bapak Menko bersama rombongan dengan hati yang putih dan bersih,” ungkap Bupati Edi.
Menko AHY masih penasaran, matanya tetap fokus di Ayam Putih. Telapak tangan mulusnya kemudian mengelus kepala ayam itu, lalu bertanya, “apakah prosesi adat begini berlaku di seluruh NTT?”
Pertanyaan ini langsung dijawab Bupati Edi, bahwa di NTT punya budaya yang beragam. Prosesinya mungkin sama, tapi simbolnya yang berbeda.
“Jadi, budaya Tuak Curu dan Manuk Kapu, hanya berlaku untuk Manggarai Raya,” jelas Bupati Edi.
Prosesi ada Manuk Kapu selesai. Juru bicara adat kemudian meninggalkan ruangan V-VIP itu. Sejumlah staf Kementerian bergegas, mengantarkan tisu basah untuk membersihkan telapak tangan Menko AHY.
Menko AHY telah kembali dari Labuan Bajo, Minggu (16/11/2025). Tuak Bongko dan Manuk Bakok yang sempat ia sentuh dengan telapak tanganya tidak ia bawa pulang. Tetapi seorang stafnya mengirim pesan kepada penulis, “Pak, fotonya sudah kami unggah di Instagram pribadi Pak Menko ya. Apa boleh saya mendapatkan penjelasan tertulis tentang makna prosesi Tuak Curu dan Manuk Kapu itu?” ***


